
"Mila? Nina? Anto?" panggil mamah Maya pada ketiga sahabat anaknya, sekaligus ketiga rekan kerja Ros.
"I-i-iya mah," jawab mereka bertiga gelagapan.
"Kalian pasti tahu kan, dimana Ros dan Rendy berada?" mamah Maya mengintrogasi mereka bertiga.
"Ka-kami tidak tahu mah," jawab Mila takut.
"Iya mah, benar! kami bertiga tidak tahu dimana keberadaan Ros dan Rendy," Nina menimpali ucapan dari Mila.
Mamah Maya melirik ke arah Anto kini.
"Anto juga gak tahu mah, dimana mba Ros dan mas ganteng berada sekarang," jawab Anto juga takut takut.
"Jangan bohong kalian!!!" bentak mamah Ajeng kini.
"Be-be-benar Bu, kami benar benar tidak tahu dimana keberadaan mereka berdua," jawab Mila gelagapan.
"Kalian tidak berbohong?" tanya Bu Ajeng kemudian.
"Tidak Bu!" jawab Mila, Nina dan Anto secara bersamaan.
"Maafkan kami Bu Ajeng, mamah mertua dari sahabatku dan ibu dari suaminya sahabatku! kami tidak bermaksud untuk berbohong seperti ini!" ucap Mila dalam hatinya.
"Ya Tuhan, maafkan lah hamba mu yang satu ini, karena telah berbohong pada kedua ibu yang sedang cemas dan khawatir memikirkan anak mereka," batin Nina.
"Ya Tuhan, Anto jadi berbohong seperti ini pada ibu ibu dihadapan Anto ya tuhan!
maafkan lah Anto yang berdosa ini! Anto janji deh, gak bakal ngulangin lagi kesalahan yang sama, hiks, hiks," batin Anto yang menangis dalam hati.
"Anto sangat takut pada kedua ibu dihadapan Anto ini ya Tuhan, tapi Anto lebih takut lagi pada kemarahan mas ganteng Rendy, yang ucapannya masih saja terngiang-ngiang di kepala Anto." ujar Anto lagi masih dalam hatinya.
"Akan saya pastikan kalian akan menerima akibatnya, jika kalian bertiga berani membohongi kami!" ujar mamah Ajeng mengancam ketiga sahabat dari menantunya.
Duarrr !
Apa apaan ini?
Tadi pagi Rendy sudah mengancam mereka bertiga, dan sekarang, ibunya pula yang mengancam Mila, Nina dan Anto.
Perasaan mereka bertiga bagai tersambar petir berulang kali.
Belum terhapus ingatan mereka tentang ancaman Rendy, yang mengatakan
__ADS_1
"Akan ku buat kalian bertiga menyesal untuk seumur hidup kalian, jika Ros tidak aku temukan," ucap Rendy tadi pagi.
"Dan ya, satu lagi! jika kalian berani mengatakan tentang penculikan dan hilangnya Ros pada ibu dan ibu mertuaku, akan ku buat kalian lebih menyesal lagi,"
Ancam Rendy pada Mila, Nina dan Anto tadi pagi, sebelum Rendy menyuruh mereka bertiga untuk pergi dari hadapannya.
Dan sekarang, mereka bertiga kembali mendapatkan ancaman serupa dari dua orang ibu yang tengah mencari dimana keberadaan anaknya.
"Aku harus apa? apa aku katakan saja ya semuanya pada mereka, jika Ros sebenarnya diculik? tapi aku takut pada Rendy, aku takut dengan ancamannya tadi pagi, bahkan aku sangat takut hingga aku tak berani untuk menyebutkan namanya dengan bibir indah ku ini," batin Mila.
"Maafkan kami Bu Ajeng dan mamah Maya, kami terpaksa harus menyembunyikan semuanya pada kalian. Jika kami sampai membuka mulut kami dan mengatakan semua yang terjadi pada Ros, maka tamatlah riwayat kami bertiga, ditangannya Rendy," batin Nina yang bergumam dalam hati.
Malam pun menjelang, Ros masih terbaring di ranjang rawat dengan selang infus yang masih menempel ditangannya.
Terlihat Rendy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang sudah sangat segar, berbeda dari sebelumnya.
Rendy datang menghampiri istrinya ke tepi ranjang, dikecupnya kening istrinya itu dengan sangat lembut.
Rendy membenamkan bibirnya cukup lama dikenang Ros, hingga Ros memejamkan matanya, karena Rendy terlalu lama mengecup keningnya itu.
"Kau merindukanku sayang?" tanya Rendy pada istrinya, seolah ia pergi begitu lama sampai harus bertanya seperti itu.
Namun pertanyaan Rendy langsung disambut dengan anggukan kecil oleh Ros sebagai jawabnya.
Kali ini Ros mengernyit, ia bingung harus menjawab apa dan bagaimana atas pertanyaan Rendy kaki ini.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Rendy lagi yang tak langsung mendapat jawaban dari istrinya, namun malah melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak bingung.
"Wajahku?" ucap Ros sambil menyentuh wajahnya.
Rendy menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa dengan wajahku?" Ros balik bertanya.
"Wajahmu itu terlihat..." ucap Rendy menggantung.
"Terlihat...?" ucap Ros menunggu nunggu jawaban Rendy.
"Terlihat sangat jelek saat kau penasaran seperti itu, hahaha," jawab Rendy sambil tertawa terbahak bahak dihadapan Ros yang terlihat cemberut.
Ros yang sedang kesal pun langsung memukul mukul lengan Rendy cukup keras, namun Rendy malah semakin tertawa dan membiarkan saja Ros memukulnya, hingga tiba tiba, Rendy mulai menahan lengan Ros dan membawanya dalam pelukan hangat Rendy.
"Aku hanya bercanda sayang! kenapa kau menganggapnya serius?" ucap Rendy menjelaskan, namun Ros terdiam tak berkata apapun , hingga...
__ADS_1
"Aww..." Rendy menjerit, meringis kesakitan sambil mengusap usap perutnya yang terasa sakit karena Ros mencubitnya cukup keras.
"Kenapa kau mencubit ku?" tanya Rendy yang masih mengusap usap perutnya karena masih terasa sakit.
"Aku hanya bercanda sayang! kenapa kau menganggapnya serius?" jawab Ros membalikkan perkataan Rendy tadi.
"Oh... Jadi kau membalas ku hmmm?" ucap Rendy sambil menggelitiki perut Ros.
"Hahaha..." Ros tak kuasa menahan tawanya karena rasa geli yang menggelitik diperutnya akibat ulah Rendy.
"Hahaha, ampun? ampun? aku minta maaf? minta maaf? minta maaf?" ucap Ros yang mengulang ulang perkataannya.
Rendy pun menghentikan aktivitasnya menggelitiki Ros.
"Kau senang?" tanya Rendy dengan wajah kekanakan kanakan nya.
"Apa?" ucap Ros dengan tawa yang masih tersisa di bibirnya.
"Kau senang bisa mencubit perutku Samapi merah seperti ini," jawab Rendy dengan menunjukan perutnya yang merah akibat cubitan dari istrinya.
"Maafkan aku?" ucap Ros memohon dengan menangkup kan tangannya keatas, "aku kan hanya bercanda, kenapa kak Rendy menganggapnya serius?" ucap Ros lagi yang masih mengulang ucapan Rendy.
Rendy sudah mengambil ancang-ancang untuk menggelitiki Ros kembali.
Namun Ros yang sudah melihat Rendy yang akan menggelitiki nya lagi, langsung memeluk Rendy dengan erat hingga Rendy tak jadi untuk menggelitiki Ros.
"Aku ingin pulang kak?" ucap Ros pada Rendy sambil mendongakkan kepalanya.
"Tapi kau masih dirawat?" Jawa. Rendy sambil mengelus kepala Ros.
"Aku tidak apa-apa, aku sudah membaik," balas Ros, "lagipula, aku hanya kelelahan saja," ucap Ros kembali.
"Baiklah jika itu mau mu!" balas Rendy kemudian dengan mengecup puncuk kepala istrinya itu.
"Kak Rendy serius?" tanya Ros kemudian.
"Tentu!" jawab Rendy pasti, "dan akan segera ku urus kepulangan mu," Jawab Rendy lagi.
Ros semakin memeluk erat tubuh suaminya itu, tanpa Ros sadari, Rendy merasa tersiksa dengan apa yang sedang Ros lakukan padanya.
Jika saja ini bukan di klinik dan kondisi Ros tidak sedang sakit, mungkin saja Rendy akan melakukan hak nya sebagai seorang suami kepada istrinya.
Bersambung...
__ADS_1