Dia Milikku

Dia Milikku
At My Worst


__ADS_3

"Haha, sayang! bagaimana bisa kita menganggap dia tidak ada, padahal jelas jelas dia ada di hadapan kita!" ujar Ros dengan tawa nya yang terpaksa.


"Dia kan bilang sendiri! anggap saja dia tidak ada! jadi, kita harus menuruti apa yang dia inginkan, bukan begitu pak sopir?" ujar Rendy yang lagi lagi meminta persetujuan sang sopir.


"Tentu saja tuan! seperti yang sudah saya katakan tadi! anggap saja, saya tidak ada!" balas sopir itu.


"Haha! Memangnya kalau saya ada, apa tuan akan menganggap saya ada?" batin sopir.


"Kalian berdua memang tuan dan sopir yang menyebalkan!" batin Ros.


"Hai pak sopir? berapa umurmu?" tanya Rendy.


"Umur saya tiga puluh tujuh tahun tuan!" jawab sopir itu.


"Kau ternyata masih muda ya?" balas Rendy, "siapa namamu?" tanya Rendy lagi.


"Nama saya Herman, tuan!" jawab Herman, memperkenalkan namanya.


"Kenapa aku baru tahu namamu sekarang?" gumam Rendy.


"Karena anda tidak pernah menanyakan siapa nama saya tuan!" balas Herman yang ternyata mendengar gumaman Rendy.


Ros mengernyit saat mendengan obrolan dua orang pria didalam satu mobil yang ditumpangi ini.


"Kenapa sayang? kamu terganggu dengan kehadirannya!" tanya Rendy, "kalau begitu, aku suruh saja dia turun dari mobil ini!" lanjut Rendy kemudian.


"Jangan, jangan! tidak usah! kenapa harus menyuruhnya turun segala! aku sama sekali tidak terganggu dengan kehadirannya!" balas Ros.


"Benar?" tanya Rendy sambil menyelidik.


"Iya sayang! aku sama sekali tidak terganggu dengan kehadirannya! cukup diam dan biarkan pak sopirnya mengendarai mobil dengan tenang! ok?" jawab Ros yang mengundang kecemburuan bagi Rendy.


"Kenapa kau perhatian sekali pada sopir bernama Herman ini!" tanya Rendy dengan memalingkan wajahnya dari Ros.


"Haaa..., bukan itu maksudku sayang!" balas Ros, "hah! bagaimana menjrlaskannya ya? sudahlah sayang, aku akan tidur saja!" lanjut Ros.


"Kamu menyukai sopir ini kan?" tanya Rendy, "kau tidak mau menjelaskannya karena kau menyukai nya kan?" lanjut Rendy.


"Apa apaan tuan ku ini, perasaan, dulu dia itu orang yang sangat cuek dan dingin! tapi kenapa dia jadi berubah seperti ini! pencemburu! hahaha, menyenangkan sekali, melihat tingkah baru majikan ku ini!" batin Herman.


"Sayaaaaang! apa apaan sih, aku kan hanya bicara saja!" balas Ros.


"Benar tuan, nyonya hanya bicara saja, lagi pula, tidak mungkin nyonya menyukai saya, saya kan hanya seorang supir, tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan tuan Rendy."


"Aku tidak suka!" Rendy merajuk dengan memalingkan lagi wajahnya. Rendy tak menanggapi ucapan dari Herman sama sekali.


"Dia ini kenapa sih? menyebalkan sekali! dasar posesif! aku kan hanya bicara saja pada pak sopir. Lagi pula kan, dia sopirnya sendiri!" batin Ros, "Sudah ya sayang! aku minta maaf, aku kan hanya bicara saja! aku berjanji tidak akan bicara lagi pada pak sopirnya! siapa tadi namanya ya?" ujar Ros kemudian, setelah ia bergumam dalam hatinya, mengatai Rendy, suaminya sendiri.


"Tuh kan, kau menanyakan namanya!" gerutu Rendy.


"Haha! sayang aku salah bicara!" balas Ros.


"Kau memang menyukai nya!" ujar Rendy.

__ADS_1


"Haha, anda ini kenapa tuan! aku ingin sekali tertawa, apa anda tidak akan marah ya?" batin Herman.


"Tidak sayang! aku hanya menyukai mu seorang! benar, tidak ada yang lain, hanya dirimu seorang yang aku suka dan aku cintai!" balas Ros dengan berhamburan memeluk Rendy.


"Benar!" Rendy merespon.


"Tentu saja!" balas Ros.


"Aku tidak puas dengan bujukan mu itu ! apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Rendy kembali.


"Iya sayang, aku serius! aku minta maaf ya?" ujar Ros, "aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


memangnya aku mau bicara apa lagi dengan sopirmu ini, baru bicara sedikit saja kamu sudah seperti itu! apalagi kalau aku mengobrol dengannya.


"Baiklah kalau kau berjanji dan meminta maaf, aku harap kau tidak mengulangi lagi kesalahan mu itu!" balas Rendy.


"Haha..," Ros tertawa renyah, tawa yang seolah dipaksakan. Memangnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat itu?


Rendy kembali membawa Ros dalam pelukannya, menciuminya kembali, lagi dan lagi, membuat Ros risih saja! bukan karena tidak suka dan tidak mau dicium oleh Rendy, suaminya, tapi lebih ke perasaan malu karena didepan ada orang yang sedang menyetir, dan walaupun sang sopir mengatakan untuk jangan hiraukan nya, tapi tetap saja. Dia kan punya telinga, sudah pasti dia mendengar semua yang terjadi di kursi belakang, walaupun dia tak melihat nya.


Cup! Cup! Cup!


Rendy terus menerus menciumnya hingga ciumannya turun ke bagian bawah leher jenjangnya. Suara ******* karena geli, menikmati dan malu bergabung menjadi satu kesatuan perpaduan suara yang meresahkan bagi orang yang mendengarnya.


Dan itu juga berlaku untuk sang sopir. Karena ternyata, pak sopir juga merasa kegerahan dengan suara suara aneh yang terdengar dari arah belakang kemudinya.


Akhirnya, sang sopir pun memutarkan sebuah lagu untuk menghilangkan suara suara aneh yang membuat jiwa lelakinya terpanggil.


Lagu pun diputar, alunan musik mulai terdengar dengan sangat merdu.


🎢 Can I Call You Baby?


🎢 Can You Be my Friend?


🎢 Can You Be my Lover up


until the Very End?


🎢 Let me Show You Love


Oh, No Pretend


🎢 Stick by my Side Even When the


World ia Caving on, yeah


🎢 Oh, Oh, Oh, Don't, Don't You Worry


I'LL be There Whenever You Want me


🎢 I Need Somebody Who Can


Love me At My Worst

__ADS_1


🎢 Know I'm Not Perfect


But I Hope You See My Worth


🎢 Cause It's Only You


Nobody New, I Put You First


🎢 And For You Girl, I Sweat


I'd Do the Worst


🎢 If You Stay Forever


Let me Hold You Hard


🎢 I Can Fillthose Palaces In Your,


Heart No One Else Can


🎢 Let me Show You Love


Oh, No Pretend, *yeah


🎢* I'll be Right Here, babe


You Know It's Sink or Swim


🎢 Oh, oh, oh, Don't, don't You Worry


🎢 I'll be There Whenever You Want me


...🎢🎢🎢...


🎢 I Need Somebody Who Can


Love me At My Worst


🎢 Know I'm Not Perfect


But I Hope You See My Worth


🎢 Cause it's Only You


Nobody New, I Put The First


🎢 And For You Girl, I Swear


I'd do the Worst...


...🎢🎢🎢...


Lagu At My Worst terus mengalun sepanjang perjalanan, di iringi lagi dengan lagu lagu lain untuk mengalihkan pendengaran Herman yang sudah tercemar dengan suara suara aneh yang terus mengusik jiwa lelakinya dari arah belakang.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, Sampailah mereka di kediaman Rendy. Rumah bernuansa klasik yang langsung mencuri perhatian Ros, saat mobil berhenti di halaman rumah tersebut.


Bersambung...


__ADS_2