Dia Milikku

Dia Milikku
Kepikiran


__ADS_3

"Nyonya, apa benar kita akan makan disini?" tanya Herman dengan nada yang sedikit ragu-ragu.


"Kenapa?" tanya Ros lembut, bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Saya tunggu di luar saja nyonya! saya malu!" jawab Herman dengan jujur.


"Tidak papa Herman, saya yang mengajak kamu makan disini!" ujar Ros kemudian.


"Tapi Nyonya- -


"Tidak ada tapi tapi Herman! saya tidak suka penolakan!" ujar Ros yang langsung memotong ucapan Herman.


Herman hanya mengangguk, tak berani berkata apa-apa lagi istri tuannya itu, hingga akhirnya, Herman pun duduk satu meja, bergabung bersama Ros dan ketiga temannya. Anto mendelik tajam ke arah Herman, saat Herman duduk tepat di hadapannya. Begitupun dengan Herman, ia pun menatap tajam ke arah Anto, hingga ia tak berkedip, bahkan matanya sedikit menyipit, saking tajamnya tatapan Herman.


"Apakah disini ada yang sedang perang dingin?" ujar Nina yang tidak tahu apa-apa.


"Mungkin!" balas Mila seolah ia tak tahu. Dan Ros hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia menatap Anto dan Herman secara bergantian, membuat keduanya terdiam dalam gumamnya masing-masing dalam hati.


"Dasar sopir mengesalkan! menyebalkan! so kecakepan! cakepan juga Anto! sopir so macho! machoan juga Anto!" gumam Anto dalam hati, dengan mata yang terus mendelik ke arah Herman.


"Dasar pria jadi-jadian! pria bukan wanita bukan!" bibir Herman dalam hati, dengan terus membalas tatapan Anto yang sedari tadi terus mendelik ke arahnya.

__ADS_1


"Mba!" panggil Ros pada seorang pelayan, memecah keheningan. Pelayan pun mendekat, sambil membawa buku menu, lalu memberikannya pada Ros dan beberapa teman lainnya.


"Mau pesan apa kak?" ujar si pelayan dengan ramah.


"Saya pesan orange jus sama chicken steak!" jawab Ros, "kamu Herman?" tanya Ros kemudian.


"Samakan saja sama nyonya!" jawab Herman dengan sopan.


"Heh! samakan!" Anto mencibir Herman, "bilang saja kalau kamu itu tidak bisa baca menu menunya ya ka?" lanjut Anto.


"Kalau ia! memang apa masalahnya dengan mu pria jadi-jadian?" balas Herman membuat Nina paham. Ia manggut-manggut setelah mendengar perdebatan dari Anto dan juga Herman barusan. Pastilah keduanya terlibat percekcokan hingga menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan satu sama lain saat berada bersama.


"Kalian berdua mau pesan apa?" tanya Ros pada Nina dan Mila yang masih melihat lihat menu makan siang.


"Saya mau ice lemon tes sama chicken katsu ya mba!" ujar Mila telah menjatuhkan pilihannya.


"Saya jus alpukat sama salad buah ya mba!" ujar Nina yang juga sudah menjatuhkan pilihannya.


"Kalau kamu Anto?" tanya Ros kemudian kepada Anto.


"Anto mau orange jus sama chicken katsu kaya mba Mila!" jawab Anto, dan pelayan pun mencatat semua pesanan mereka, membawanya kepada sang kepala chep, untuk segera di siapkan dan hidangkan.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, pesanan pun akhirnya tiba juga. Perut mereka yang sudah merasa keroncong dan ingin segera meminta jatah nya pun ikut bahagia dan gembira, karena akan segera mendapatkan jatahnya.


Di restoran yang sama. Dimana Ros dan teman-temannya berada, tidak jauh dari tempat mereka, terdapat Rendy yang sedang mengadakan meeting dengan kliennya.


"Sial! aku kepikiran kak Surya! apa sebenarnya yang mau kak Surya ucapakan padaku tadi?" Rendy masih terngiang-ngiang dengan ucapan Surya di telpon tadi, yang membuatnya terus kepikiran dan penasaran.


"Maaf Tuan Rendy?" ujar sang sekretaris.


"Hmmm...," balas Rendy.


"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya sang sekretaris mulai gelisah.


"Tidak!"


"Apa kita sudahi saja meeting kali ini?" ucapnya pelan, takut terdengar oleh para kliennya.


"Tidak! saya baik baik saja!" jawab Rendy, dan meeting pun berlangsung kembali, walaupun Rendy masih penasaran dan terus terngiang-ngiang dengan apa yang akan Surya ucapkan padanya, namun ia tetap harus profesional.


Meeting pun berlanjut, hingga setengah jam kemudian. Rendy sudah sangat kesal, ia berjalan di ikuti sang sekretaris dari belakang, hingga mood nya berubah dalam seketika, saat ia melihat sang istri tengah bersama teman-temannya dan sang sopir, makan di meja yang sama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2