
"Bagaimana keadaan adikku?" tanya Rendy pada perawat yang baru saja keluar dari ruang rawat Kayla. Rendy yang mendapatkan kabar dari Rico, langsung melajukan mobil yang sudah menjemputnya menuju tempat tujuan, tanpa sepengetahuan Ros. Dirinya meninggalkan Ros yang sudah terlelap dalam mimpi, setelah pertempuran panjang antara dirinya dan Ros di sebuah ranjang yang sama, seperti kemarin malam. Aktivitas yang tak pernah membosankan, menurut Rendy.
Tidak lupa, Rendy menyuruh beberapa orang untuk menjaga rumah kontrakannya dari luar, untuk memastikan jika Ros akan aman jika ia tinggalkan sendiri di dalam rumah.
"Pasien sudah lebih baik, Tuan. Dokter menyuntikkan-nya obat penenang, karena tadi pasien kehilangan kontrol," jawab perawat itu sambil menjelaskan apa yang tadi terjadi.
Rendy mengangguk paham. Perawat pun, pamit pergi, karena ada beberapa hal yang harus ia kerjakan bersama teman seperjuangan.
"Terima kasih," ucap Rendy sebelum para perawat itu pergi.
Para perawat mengangguk, lalu pergi dengan sopan, setelah berpamitan.
"Sudah lama di sini?" tanya Rendy pada Rico. Pria yang ditanya oleh Rendy itu langsung melangkah mendekati Rendy dengan jalan tegap namun perlahan.
"Sudah dari kemarin siang, Tuan!" jawab Rico sopan.
"Kalau begitu, istirahatlah dulu. Kau pasti lelah!" ucap Rendy sambil menepuk-nepuk bahu Rico, seperti sahabatnya sendiri.
"Tidak usah Tuan. Saya sudah terbiasa berjaga seperti ini. Ini merupakan sebuah tugas yang harus saya laksanakan," balas Rico, menolak apa yang Rendy perintahkan padanya.
"Tidak usah sungkan seperti itu Rico. Anggap saja ini sebuah perintah juga dariku. Beristirahatlah barang sejenak, beberapa anak buahku sudah ku tugaskan untuk berjaga malam ini. Kau tidak perlu khawatir!" kembali Rendy menyuruh Rico sambil menegaskan, bahwa ia sudah menyiapkan beberapa orang untuk menggantikannya secara sementara.
"Jangan bantah ucapanku Rico. Jika aku bilang beristirahat, maka beristirahatlah!" Rendy menekankan nada bicaranya pada Rico. Hingga Rico tak dapat membantah lagi perintah dari Rendy.
"Kalau begitu, saya istirahat dulu, Tuan!" ucap Rico sopan.
"Mau kemana?" tanya Rendy. Rico mengernyit heran. Bukankah dia sendiri yang menyuruhnya beristirahat? Lalu, kenapa sekarang Rendy bertanya saat Rico berpamitan untuk beristirahat kepada Rendy? Benar-benar membuay heran Pikir Rico.
"Saya... Saya mau beristirahat, Tuan!'' jawab Rico akhirnya.
"Mmh, maksudku. Kau ini mau beristirahat di mana?" tanya Rendy memperjelas pertanyaannya yang membuat Rico salah paham ternyata.
"Di kursi tunggu yang panjang itu, Tuan!" jawab Rico sambil menunjuk kursi panjang di belakang Rendy.
"Pulanglah, atau cari penginapan di sekitar sini. Kau tenang saja, ada lebih dari tiga anak buahku yang menjaga Kayla. Kau tidak usah khawatir dan mencemaskan tugasmu," kata Rendy membuat Rico semakin sungkan. Walaupun sikap Rendy terkadang sedikit menyebalkan dan suka seenaknya pada siapa saja. Namun, hati pria itu seluas samudera. Selalu mementingkan kenyamanan para pekerjanya.
__ADS_1
"Pergilah!" perintah Rendy memecah lamunan Rico.
Rico mengangguk patuh. Ia akhirnya pergi dari hadapan Rendy, setelah berpamitan pada pria yang berstatus sebagai bos-nya itu.
"Kalian! Jaga baik-baik adikku. Jangan pernah meninggalkan tempat ini apa pun yang terjadi! Kalian mengerti?" perintah Rendy dengan nada yang serius.
"Mengerti Tuan!" jawab ke-empat anak buah Rendy serempak.
"Bagus! Laporkan setiap kejadian apa pun padaku. Aku ingin mengetahui informasi terbaru dari yang terkecil, hingga besar."
"Siap Tuan!"
...***...
Rendy mengetuk-ngetuk sebelah kakinya yang tertutup sepatu kulit berwarna hitam ke atas aspal jalan. Menunggu dengan kesal, sopir yang mengantar jemput nya dari rumah kontrakan hingga ke rumah sakit. Dan dari rumah sakit, kembali lagi ke rumah kontrakan.
Jam di pergelangan tangannya, tak berhenti berdetak. Semakin lama, semakin malam waktu menunjukkan.
Rembulan yang tadi terlihat membulat dengan sempurna. Kini sudah tak nampak lagi, karena terhalang oleh awan yang membuat sinar rembulan ikut meredup, tertutup awan.
Rintik hujan mulai membasahi wajah Rendy yang tengah mendongak ke atas, menatap langit yang mulai ditutupi awan hitam.
"Sial! Kemana pria itu? Awas saja, akan kubuat dia menyesal, karena telah membuatku menunggu terlalu lama!" omel Rendy pada pria yang akan menjemputnya.
"Dia bilang sebentar lagi. Tapi, sudah lebih dari lima belas menit, dia belum datang juga. Jangankan raganya, batang hidungnya saja, tidak kelihatan sama sekali!" Rendy terus mengoceh sambil menutupi wajah dan rambut-nya dengan kedua telapak tangan.
Berjalan sedikit menjauh dari tepi jalan. Berteduh di sebuah pos satpam rumah sakit, sambil menunggu mobil jemputan-nya datang.
"Nunggu-nya di dalam aja Pak!" tawar seorang satpam ramah.
Rendy yang mendengar tawaran dari satpam penjaga rumah sakit, langsung menoleh dan mengangguk. Karena dirinya tidak mau berada di luar sambil kehujanan. Bagaimana kalau saat pulang nanti Ros terbangun dan tau pakaiannya basah kuyup karena kehujanan. Ros pasti akan bertanya-tanya padanya. Dan Ros tidak akan berhenti bertanya, sebelum ia menemukan jawaban yang ia cari. Dan sudah pasti, Rendy akan membuka mulut, dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa gawat nanti. Pikir Rendy.
"Silahkan Pak! Nunggu-nya di sini saja!" tawar satpam itu kembali.
__ADS_1
Rendy mengangguk dan berjalan masuk menuju ruangan pos satpam yang ukurannya tidak besar. Namun, tidak juga terlalu kecil. Cukup nyaman untuk digunakan berteduh dari cuaca dingin saat malam dan saat hujan seperti malam ini, dan saat cuaca panas kala siang hari.
"Terima kasih tawarannya pak Indro!" ucap Rendy, yang ternyata sudah mengetahui siapa nama satpam tersebut.
Satpam bernama Indro itu mengernyit heran. Hebat orang ini. Bisa tau namanya, walau ia belum memperkenalkan diri. Pikir satpam itu dalam kepalanya.
"Benar-benar hebat!" gumam satpam itu yang tak sengaja terucap begitu saja dari bibirnya.
"Kenapa pak?" tanya Rendy yang juga ikut heran.
"Oh, enggak pak! Saya bilang, hebat bapaknya. Bisa tau nama saya. Padahal, kita belum kenalan. Saya juga belum ngasih tau siapa nama saya sama bapak ini!" ucap Indro sambil terkekeh.
Rendy yang mendengar ucapan Indro, juga ikut terkekeh di buatnya.
"Loh, ko bapak ikutan ketawa juga?" tanya Indro.
"Pak Indro ini lucu. Saya tau namanya situ 'kan karena ada tulisannya di baju situ!" kata Rendy yang membuat Indro menolehkan wajah ke arah tangan Rendy menunjuk.
Satpam bernama Indro itu menatap Rendy dengan wajah memerah, mungkin karena malu. Keduanya lalu saling bertatap muka, dan tertawa terbahak-bahak setelahnya. Menyadari kebodohan Indro yang baru menyadari jika namanya sudah terpajang indah di depan baju dinasnya sendiri.
"Minum dulu pak, biar gak ngantuk. Biar pikiran juga fresh!" ujar Indro sambil menyodorkan segelas kopi panas yang baru saja ia seduh.
"Serius nih, pak Indro?" tanya Rendy sebelum menerima segelas kopi panas yang membuat tenggorokannya terasa hangat, walau air kopi tersebut belum ia seruput ke dalam mulutnya.
"Serius dong pak. Silahkan!" jawab Indro tanpa ragu.
"Wah, terima kasih loh pak Indro. Saya terima ya, kopinya. Kebetulan, tenggorokan saya butuh yang hangat-hangat," ucap Rendy yang dengan senang hati menerima segelas air kopi panas dari tangan Indro.
"Sama-sama pak. Silahkan, silahkan. Silahkan di minum kopi spesial buatan saya," balas Indro ramah.
Rendy pun akhirnya menyeruput kopi tersebut dengan perlahan. Rasa hangat langsung menyerbu mulut juga tenggorokannya.
Ah! Nikmatnya! gumam Rendy pelan. Ia yang tadinya sedang kesal karena menunggu jemputan-nya yang tak kunjung datang. Kini terobati dengan perbincangannya dengan Indro. Di tambah dengan segelas kopi panas, membuatnya semakin lupa dengan apa yang sedang ia tunggu.
Bersambung...
__ADS_1