
"Di mana Kayla?" satu pertanyaan yang keluar dari mulut Ros, membuat Rico yang tengah duduk di kursi panjang, tempat keluarga pasien menunggu, langsung mendongak dan berdiri seketika, setelah mengetahui siapa yang datang dan tiba-tiba saja bertanya.
"Di-di di dalam Non," jawab Rico sedikit gugup.
Ros memandang Rico sekejap, lalu berjalan menghampiri pintu kaca, melihat ke dalamnya. Bagaimana dengan keadaan Kayla saat ini?
Tampak dari luar, keadaan Kayla di dalam yang masih histeris. Wanita itu menggerak-gerakkan tubuh, kedua tangan dan kakinya, agar para perawat itu menyingkir dari dirinya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi begini Kay?" tanya Ros lirih. Rasa kasihan juga iba, datang mendera perasaannya.
Sebelah tangan-nya menyentuh pintu kaca. Mata-nya terus menatap tanpa kedip ke arah Kayla.
Dari belakang, Rendy berjalan perlahan mendekati Ros. Menyentuh perlahan pundak Ros dengan penuh perasaan.
Hangat!
Sentuhan Rendy tak ubah pelukan yang menenangkan diri juga hati. Ros memejamkan mata menahan air mata yang hendak jatuh membasahi pipi.
"Maafkan aku sayang... Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini semua darimu-- Aku hanya tidak mau menambah beban pikiranmu," ungkap Rendy tanpa Ros pinta. Ros semakin memejamkan mata, setelah Rendy mengatakan sesuatu padanya, barusan.
Ros berbalik, ia menatap lama wajah Rendy. Rendy semakin merasa bersalah. Namun, dengan mengatakan kejujurannya malam ini, walaupun sudah terlambat, setidaknya Rendy sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahannya pada sang istri.
Ros terisak, ia memeluk tubuh Rendy sambil memukul-mukul dadanya dengan kedua tangan.
Rendy tidak marah sama sekali. Ia malah membiarkan Ros memukul sepuas yang ia mau, sekuat yang ia bisa. Semoga saja dengan begitu, Ros bisa memaafkan kesalahannya.
Semakin lama, pukulan Ros semakin pelan. Hingga, pukulannya berhenti dan berganti dengan pelukan erat. Tak mau kalah, Rendy pun melakukan apa yang Ros lakukan padanya. Ia memeluk Ros lebih erat dari apa yang Ros lakukan padanya saat ini.
__ADS_1
"Maafkan aku..." ungkap Rendy. Ros semakin terisak.
"Kamu jahat Kak. Kamu jahat!" lirih Ros.
"Maafkan aku!" kembali kata itu terulang dari mulut Rendy.
Ros menggeleng pelan. "Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dariku Kak? Kenapa?" tanya Ros kemudian. Suaranya terdengar pelan. Namun, masih bisa Rendy dengarkan.
"Aku tidak bermaksud seperti itu sayang. Percayalah!" Rendy melepaskan pelukannya dari tubuh Ros. Memandangi seraut wajah yang saat ini tengah meneteskan air mata akibat kebohongan yang ia sembunyikan dari Ros.
Rasa bersalah itu terus menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Bagaimana mungkin, Rendy bisa Setega itu pada Ros? Padahal Rendy tahu sendiri, bahwa Ros dan Kayla ada sepasang teman dekat, yang bisa di sebut sebagai sahabat.
"Bagaimana dengan keadaan bajingan itu sekarang?" tanya Ros yang enggan untuk menyebutkan nama dari suami Kayla.
"Tenang Sayang, Rico dan Kak Surya sudah mengurus dan menangani bajingan itu," jawab Rendy sambil menatap wajah Ros, yang ia sentuh dengan kedua tangannya.
Ros menganggukkan kepala. Lalu, melepaskan pelukannya dari Rendy. Ros berjalan kembali menuju depan pintu kaca, untuk melihat lagi keadaan Kayla yang sepertinya sudah mulai membaik. Karena tidak terdengar lagi teriakan dari dalam sana.
"Semoga kamu baik-baik saja Kayla. Kamu wanita yang kuat dan tegar. Aku yakin, kamu bisa melewati ini semua," lirih Ros menguatkan Kayla, walau tak terdengar sama sekali oleh Kayla. Namun, dengan doa dan ucapan yang Ros katakan barusan, semoga saja membuat keadaan Kayla baik-baik saja, seperti yang ia harapkan sebelumnya.
"Kamu benar sayang. Kayla wanita yang kuat. Sama seperti dirimu. Dia pasti bisa melewati ini semua," puji Rendy di sela-sela kecemasannya pada Kayla.
Beberapa perawat juga dokter nampak berjalan menghampiri pintu. Dan pintu pun terbuka. Ros langsung menyerbu perawat serta dokter itu dengan beragam pertanyaan yang sedari tadi berada di kepalanya.
"Bagaimana keadaan Kayla dok, sus? Apa Kayla baik-baik saja? Apa Kayla tidak apa? Katakan dok, sus? Kenapa kalian malah diam saja. Jawab pertanyaanku dok, sus!" ucap Ros tanpa jeda.
Rendy kembali menepuk-nepuk pundak Ros dengan tangannya, "sabarlah sayang. Jangan buat mereka bingung dengan semua pertanyaan darimu. Izinkan mereka mengirup udara segar dulu, baru mereka menjawab semua pertanyaan darimu yang banyak itu," tutur Rendy membuat Ros terdiam.
__ADS_1
Apa yang di katakan Rendy barusan, benar adanya. Tidak seharusnya Ros bertanya sedemikian rupa, dan membuat para perawat serta dokter kebingungan dengan semua pertanyaan yang terlalu banyak.
"Maaf dok," ucap Ros akhirnya, "bagaimana dengan keadaan adik saya?" tanya Ros kemudian. Jujur, Ros sudah tak sabar untuk mendengar jawaban apa yang akan dokter itu berikan padanya.
"Tenang ya Nyonya... Adik ada sekarang sudah membaik. Kayla sedang beristirahat sekarang. Dan jika Nyonya ingin melihat keadaannya, Nyonya bisa masuk dan memastikan sendiri keadaannya di dalam seperti apa," ucap dokter itu terdengar ramah saat menjawab pertanyaan Ros yang begitu banyak tadi.
"Terima kasih Dokter. Maaf atas pertanyaan saya yang begitu banyak tadi. Maaf juga jika saya sudah mengganggu dan membuat dokter merasa tidak nyaman," ungkap Ros. Dokter menanggapi ucapan Ros dengan senyum..
"Tidak apa Nyonya. Saya sangat paham dengan perasaan Anda. Saya juga sudah terbiasa, berada di kondisi seperti ini. Bahkan, ada yang jauh lebih parah dari anda, saat bertanya kepada saya." dokter itu berucap dengan jujur. Mengungkapkan apa yang sering ia alami selama ini.
Ros pun akhirnya bisa tersenyum walau terlihat masih agak kikuk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya, Tuan," pamit dokter itu akhirnya, diikuti dengan perawat yang sedari tadi masih berada di sana, "permisi juga pak," lanjutnya pada Rico. Diikuti pula oleh para perawat yang mengangguk sopan pada Rico.
"Sekali lagi, terima kasih dokter, sus?"
...***...
"Dokter bilang, kita jangan mengganggu dulu Kayla. Kita hanya perlu menjenguknya dan menemaninya saja. Tapi tidak, untuk menginap bersamanya dengan satu ruangan yang sama. Biarkan dia seperti itu dulu Ros. Jika sudah saatnya tiba, Kayla akan kembali seperti semula. Kembali lagi kepada kita," tutur Ajeng yang beberapa jam yang lalu datang bersama Surya.
Ibu dari Ros dan Rendy itu tau kabar Kayla dari Rico yang cepat tanggap menghubungi-nya dan Surya.
Dengan secepat kilat pula, Ajeng dan Surya datang menuju rumah sakit, di mana Kayla di rawat.
"Tapi, aku sangat mengkhawatirkan Kayla Mah," rengek Ros yang saat ini berada di dalam pelukan mertuanya. Membuat Rendy iri saja. Padahal, Ros sedang bersama ibu-nya sendiri, bukan orang lain.
"Mamah tau sayang. Tapi, kita harus mendengarkan apa yang di katakan oleh dokter dan perawat. Mereka pasti lebih tau yang terbaik untuk Kayla. Mereka lebih tau, dari pada kita." balas Ajeng sambil mengelus-elus rambut dan bahu Ros dengan tangan gempal dan berisinya.
__ADS_1
Bersambung...