
Ros menaiki sebuah taksi yang kebetulan lewat dan berhenti menghampirinya. Tanpa menunggu lama lagi, apalagi menunggu si sopir taksi menawari, Ros langsung membuka pintu taksi tersebut. Masuk dan duduk, dengan air mata yang terus menggenangi mata, dan membasahi pipi.
Ros mengabaikan orang-orang yang memanggilnya dari belakang. Ia sudah tak peduli lagi. Hatinya hancur berkeping. Yang Ros butuhkan saat ini adalah ketenangan. Ros akan mencari tempat untuk memenangkan hati dan pikirannya.
...***...
"Dengar ya Rendy. Aku tidak tau apa masalahmu dengan Ros. Yang aku tau, kau menyakitinya, dan kami tidak suka itu. Kami akan melawan siapapun yang menyakiti Ros, termasuk dirimu, suaminya sendiri!" ujar Mila geram. Ia bahkan berucap seraya menunjuk-nunjuk wajah Rendy dengan satu jari telunjuknya.
Mila, Nina dan Anto yang baru saja datang setelah makan siang, mendapati Ros keluar dari pintu lift sambil terisak.
"Ros?" panggil Mila, "Kamu kenapa Ros?" tanyanya kemudian.
Ros tak menjawab. Ia terus berjalan melewati ketiga temannya yang khawatir dengan keadaannya.
"Ayolah Ros... Jawab aku. Kamu kenapa?" tanya Nina yang menyusul Ros berjalan menuju pintu keluar.
"Mbak Ros? Mbak mau kemana?" seakan tak mau kalah. Anto juga ikut bersuara, menyuarakan kegelisahannya saat melihat Ros terisak.
"Ros!" panggil ketiganya. Namun, Ros tetap tak menghiraukan mereka. Ia terus berjalan hingga setengah berlari. Menghindari langkah teman-temannya yang Ros ketahui, pasti mereka khawatir akan keadaannya.
"Percuma aku menjelaskan pada kalian. Kalian tidak akan percaya padaku," kata Rendy dengan nada lemah tak berdaya. Tidak seperti biasanya.
"Bagaimana kami mau percaya, jika menjelaskan saja belum. Dan kau mengatakan kami tidak akan percaya. Hah? Pikir Ren, pikir!" ucap Mila geram. Bisa-bisanya pria seperti Rendy bersikap seperti kanak-kanak begitu.
"Mbak Mil," tegur Anto.
"Diam Anto! Aku sedang tidak membutuhkan sebuah teguran, apalagi nasihat. Pria bodoh seperti dia ini, memang harus dikatain seperti itu. Supaya dia bisa berpikir. Menjelaskan belum, dan sudah bisa menyimpulkan, bahwa kita tidak akan percaya. Memang kita ini bodoh apa?" ujar Mila yang membuat Rendy bungkam, begitupun dengan Anto dan Nina.
"Cepat! Jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua?" tanya Mila terdengar seperti sebuah perintah bagi Rendy.
Rendy menarik napas dalam, dan mengalirlah semua cerita dan kejadian yang mereka alami tadi.
__ADS_1
'Bruk!'
Mila menggebrak meja di depannya dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Kurang ajar! Dasar wanita tidak tahu diri!" hardik Mila dengan wajah memerah dan tangan mengepal erat.
"Benar-benar wanita berbisa!" Nina tak kalah geram dari Mila.
"Apa omongan Mas Ganteng itu bisa di percaya?" tanya Anto penuh selidik.
"Kau kira aku berbohong?" Rendy bangkit dan mencengkeram erat kerah baju yang Anto kenakan. Ia tidak terima dengan apa yang baru saja Anto ucapkan.
"Bu-bukan begitu Mas. Anto 'kan hanya bertanya saja. Memastikan!" ujar Anto membela diri. Nyalinya seketika menciut, kala ia melihat sorot mata Rendy yang menakutkan.
"Tentu saja aku berkata benar. Memang sejak kapan aku suka menjadi pembohong. Hah?" jawab Rendy ketus.
"Sudahlah Ren, lepaskan Anto!" perintah Nina.
"Tentu Ren. Kami bertiga sebenarnya sudah curiga dengan sikap dan gerak-gerik Anita yang tidak biasa. Mencurigakan!" kata Mila merespon.
"Lalu, kenapa kalian membiarkan wanita siluman itu dengan leluasa mendekati Ros di kantor?" tanya Rendy kali ini. Ia benar-benar tidak menyangka, jika ketiga teman Ros juga mencurigai Anita.
"Karena Ros itu baik Ren. Dia mudah kasihan, dan memercayai orang. Kamu sudah menjelaskan pendapat kami tentang Anita, tapi Ros tidak percaya dan menganggap kami terlalu berlebihan," ungkap Nina akhirnya.
Rendy kembali membuang napas panjang nan kasar. Harusnya dirinya tidak ceroboh seperti tadi. Mungkin, kejadian ini tidak akan terjadi.
"Sekarang, mana wanita itu?" tanya Anto setelah keberaniannya datang kembali.
"Dia sudah kabur!"
...***...
__ADS_1
"Bagus Anita, bagus! kerja yang bagus. Kau pantas mendapatkan ini semua," ucap seorang pria yang menyuruhnya. Pria itu melemparkan sebuah kantong hitam, tepat di depan Anita.
Mata Anita berbinar, wajahnya berseri-seri memancarkan kebahagiaan. Bagaimana wanita itu tidak bahagia. Selain mendapatkan pujian, ia juga mendapatkan begitu banyak uang yang kini berserakan di depan matanya.
Tidak peduli bagaimana cara Tuannya menyerahkan uang itu, yang terpenting bagi Anita, ia mendapatkan uang yang banyak. Hasil dari pekerjaannya.
"Apa lagi yang harus saya kerjakan Tuan?" tanya Anita antusias. Setelah ia mendapatkan uang yang banyak, ia menginginkan uang yang lebih banyak lagi.
"Kau tidak ingin menikmati uangmu terlebih dahulu?" tanya sang Tuan berbasa-basi. Dia bukannya tidak tahu, wanita seperti apa Anita. Wanita si penggila uang, yang meletakkan uang di atas segala-galanya. Wanita yang rela melakukan apapun demi mendapatkan uang.
"Saya akan melakukan apa pun demi mendapatkan uang, lebih banyak lagi dari ini Tuan!" jawab Anita pasti, sambil menghirup aroma uang baru di tangannya.
"Bagus! Buat Ros dan Rendy semakin menjauh. Buat kesalahpahaman ini semakin menjadi. Aku ingin rumah tangga mereka hancur, sehancur-hancurnya!" ucap Sang Tuan dengan tangan mengepal erat.
"Akan saya laksanakan Tuan. Tugas dari Anda, adalah penghasil uang bagi saya," jawab Anita.
"Pergilah! Nikmati dulu uang yang kau terima!" ujar sang Tuan sambil mengibaskan tangannya. Mengusir Anita, agar ia segera entah dari pandangannya.
"Tentu Tuan!" jawab Anita sambil tersenyum, berjalan cepat menuju pintu keluar, sambil memeluk tas hitam berisi uang.
"Dasar licik! Wanita siluman!" desis si pria yang selalu Anita panggil dengan sebutan Tuan.
"Apa yang kau dapatkan dari menghancurkan rumah tangga Ros dan Rendy, Vero?" ucap seorang pria paruh baya yang baru saja berhasil keluar dari penjara. Lebih tepatnya, kabur dari penjara. Ternyata, dalang di balik ini semua adalah Vero. Orang yang Ros dan Rendy kira sudah tiada di dunia ini.
"Kesenangan Paman! Aku senang melihat kehancuran mereka! Akan ku buat Rendy merasakan apa yang aku rasakan. Kesengsaraan dan sakit hati. Aku ingin dia merasakannya juga!" jawab Vero dengan sorot mata tajam. Segelas minuman beralkohol ia ambil dari meja kecil yang berada di sisinya. Ia teguk isinya dengan cepat, lalu melemparkan gelasnya ke sembarang arah, hingga gelas itu pecah, dan pecahannya berserakan ke sana kemari.
...***...
"Bagaimana Kak? Apa sudah ada kabar, di mana istriku berada?" tanya Rendy pada Surya. Pria tampan itu menceritakan kejadian yang ia alami pada sang kakak angkat. Selain membuatnya menjadi merasa lebih baik, Rendy juga ingin meminta pertolongan pada kakaknya itu, untuk mengetahui di mana keberadaan Ros.
Bersambung...
__ADS_1