Dia Milikku

Dia Milikku
Tetangga Kamu


__ADS_3

"Ros, kamu kemana saja?" tanya Mila di balik sambungan telepon. Wanita itu sudah beberapa hari menelepon Ros. Namun, tidak pernah tersambung, karena Ros sengaja mematikan ponselnya. Dan baru pagi ini Ros mengaktifkannya kembali.


Puluhan chat dan panggilan telepon masuk memenuhi layar ponselnya. Dan tentu saja, yang paling banyak adalah dari teman-temannya.


"Maafkan aku Mil, aku tidak menghubungi kamu. Dari kemarin, aku memang mematikan ponselku," jawab Ros memberitahu.


"Aku benar-benar cemas tau! Apalagi setelah kejadian itu, kamu tiada kabar."


"Aku 'kan sudah meminta maaf, Mil!"


Rendy datang saat Mila masih menelpon Ros. Bahkan, saking seriusnya percakapan antara Mila dan Ros. Ros sampai tidak menyadari jika suaminya itu sudah berada di belakang tubuhnya.


"Ekhem!"


Rendy berdehem. Ros langsung berbalik badan. Tersenyum ke arah Rendy yang menatapnya tanpa kata. Hanya sebuah senyuman, ciuman hangat di pipi, dan pelukan yang membuat Ros nyaman.


"Sungguh?" kaget Ros. Entah apa yang Mila bicarakan di balik sambungan telepon. Tapi, Rendy malah penasaran dengan apa yang Mila sampaikan.


"Aku akan ke sana! Sekitar satu jam lagi aku sampai" ucap Ros, membuat Rendy semakin penasaran saja.


"Ada apa sayang?" tanya Rendy setelah Ros mematikan sambungan teleponnya dengan Mila.


"Ah, tidak ada sayang. Hanya masalah pekerjaan saja, dan harus aku sendiri yang turun tangan," ujar Ros sedikit tersenyum.


"Sungguh?" tanya Rendy sedikit menyelidik.


"Tentu saja! Tidak percaya?" balas Ros membalikan pertanyaan.


"Ah, tidak-tidak! Kenapa aku harus tidak percaya pada istriku sendiri?" ujar Rendy, takut jika Ros tersinggung.


"Bolehkan aku pergi ke kantor menemui teman-temanku untuk menangani sebuah masalah?" tanya Ros meminta izin.


"Tentu sayang. Mau aku antar?" tawa rendy.

__ADS_1


"Bukannya kamu bekerja sayang? Lagian, ini hari pertama kamu masuk kerja. Aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan apalagi terlambat bekerja di hari pertama kamu masuk." Begitu perhatiannya Ros pada Rendy. Membuat Rendy selalu bersyukur memiliki seorang istri seperti Ros.


"Tidak apa sayang. Aku ingin memastikan dulu, bahwa istriku sampai ke tujuan dengan aman selamat," kata Rendy tak kalah membuat Ros bersyukur.


"Terima kasih Kak. Kamu memang yang terbaik," ucap Ros sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Sama-sama sayang. Kamu juga yang terbaik. Paling pengertian dan mengerti keadaanku," balas Rendy dengan membalas pelukan Ros lebih erat lagi.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Ros kemudian.


"Tentu! Aku sudah siap dengan seragam baruku," jawab Rendy. Ros baru menyadari, jika Rendy berpakaian sedikit berbeda dari biasanya. Bukan sedikit. Tapi, memang benar-benar berbeda.


Pakaian yang di dominasi dengan warna biru antara baju dan celananya. Rendy benar-benar memakai seragam OB, yang ia ambil dari kantornya sendiri.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Rendy, tidak mau terlalu percaya diri di hadapan sang istri. Karena berkali-kali ia meninggikan kepercayaan dirinya, berkali-kali juga Ros menjatuhkannya hingga benar-benar jatuh dan tak bisa bangkit lagi.


"Kamu tampan Kak! Walaupun kamu hanya memakai pakaian OB seperti itu. Tapi, tidak mengurangi ketampananmu sama sekali," ujar Ros yang memuji Rendy. Hingga pria itu terbang tinggi ke angkasa, dan lupa untuk turun kembali saking melambungnya hati pria itu, mendapatkan pujian dari sang istri.


Kadang, bukan hanya seorang istri saja yang butuh dan ingin di puji. Tapi, seorang suami pun, menginginkan hal yang sama selayaknya ia memuji sang istri. Dan itulah yang saat ini Ros lakukan pada Rendy. Memujinya dengan segenap hati, agar perasaan pria itu tetap hangat untuknya.


"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Rendy dengan senyum yang terus berkembang di bibirnya.


"Aku ambil tas dulu!" jawab Ros sambil berlalu menuju kamar untuk mengambil tas-nya.


"Sudah?" tanya Rendy saat Ros kembali dengan tas berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya ya g putih dan bersih.


"Sudah. Ayo!" jawab Ros.


"Biar aku saja!" kata Rendy saat Ros hendak menutup dan mengunci pintu rumah kontrakan mereka yang kecil. Namun, bersih dan nyaman, karena sudah di bersihkan oleh keduanya.


"Terima kasih," ucap Ros.


"Tentu sayang. Apapun untukmu," balas Rendy pelan dan manis.

__ADS_1


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Erat dan seakan tak ingin lepas satu sama lain.


"Eh... Ros mau kemana nih, sama suaminya? Mesra amat," tanya seorang wanita dengan dandanan yang tidak biasa. Baju gamis glamor dan perhiasan di kiri dan kanan tangannya, membuat wanita itu terlihat sangat heboh. Dan ternyata, wanita itu tak lain adalah Bu Ani, yang ingin di panggil dengan sebutan Jeng An, oleh semua warga kampung.


"Eh, Jeng An," ucap Ros menyapa hangat, selalu disertai senyum yang menghiasi bibirnya.


"Eh, inget toh, rupanya..." Jeng An terkekeh mendengar nama panggilannya di ucapkan dengan benar oleh Ros.


"Tentu dong Jeng. 'Kan gak ada lagi yang mau di panggil gitu selain Jeng An ini," ucap Rendy menimpali. Dirinya ingat betul dengan sosok wanita yang menahan langkahnya dan Ros ini.


"Mas Rendy bisa aja..." Jeng An nampak tersipu. Jeng An mengangkat sebelah tangannya untuk menutupi mulut yang tersenyum lucu. Memperlihatkan perhiasannya yang mencolok.


Ros geli sendiri, apalagi Rendy, "eh, kalian mau kemana toh? Mesra amat sampe gak mau lepas gitu tangannya," sambung Jeng An, sambil menatap tangan Ros dan Rendy yang tak lepas sedari tadi.


"Kami ada urusan Jeng. Sudah ya? Ngobrol-nya lain kali aja," kata Rendy yang langsung di senggol oleh Ros.


"Eh, gak papa Ros. Kalau sama saya mah santai aja!" kata Jeng An, karena melihat apa yang barusan Ros lakukan pada Rendy.


"Maaf ya Jeng," kata Ros tak enak hati.


"Gak papa Ros. Kalau gitu, saya permisi dulu ya? Mau belanja sayur sama Mang Asep," kata Jeng An memberitahu, sembari berlalu dari hadapan Ros dan Rendy yang terbengong melihat tingkahnya yang luar biasa menurut keduanya.


"Hati-hati ya Jeng An," kata Rendy sambil melambaikan tangan pada Jeng An.


"Makasih loh Mas Rendy. Perhatian amat sama saya. Hati-hati loh, nanti istrinya cemburu sama saya. Saya gak mau tanggung jawab ya..." kekeh jeng An sebelum ia pergi terlalu jauh. Menoleh, karena mendengar ucapan Rendy.


Rendy langsung bengong. Ros pun sama. Keduanya saling berpandangan. Lalu, tertawa setelahnya.


"Tetangga kamu sayang!" kekeh Rendy.


"Tetangga kamu juga Kak!" balas Ros tak kalah terkekeh geli dari Rendy. Kini, keduanya kembali berjalan mencari kendaraan umum untuk mereka tumpangi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2