Dia Milikku

Dia Milikku
Cantik jelita


__ADS_3

"Aku memang merindukan mu mah! tapi aku tidak mau kalau mamah sampai memelukku seperti itu! aku tidak suka!" balas Rendy membuat Ros dan Ajeng tergelak.


"Sayang! ini kan mamah kamu!" ujar Ros.


"Tidak papa Ros, Rendy ini memang dari dulu tidak pernah mau mamah peluk! mamah harus memaksanya dulu agar ia mau mamah peluk!" Ajeng menjelaskan kepada Ros.


"Benarkah? tapi dia suka sekali memelukku! aku bahkan sering kesulitan bernapas karena kak Rendy terlalu erat memelukku!" Ros berkata dengan mengerucutkan bibirnya.


"Itu adalah hal yang berbeda sayang!" ucap Rendy, "Oh iya mah?" lanjut Rendy.


"Apa?" balas Ajeng.


"Bisakah mamah tidak memeluk istriku seperti itu?" ujar Rendy yang menunjuk tangan Ajeng yang terus memeluk Ros.


"Kenapa? Ros kan menantu mamah! mamah bebas memeluknya kapan pun mamah mau!" balas Ajeng yang mempererat pelukannya.


"Karena Rendy juga tidak suka, ada yang memeluk Ros lebih lama dari Rendy, walaupun itu mamah Rendy sendiri!" jawaban Rendy sukses membuat Ros dan Ajeng tergelak, sampai geleng-geleng kepala. Apa yang Rendy pikirkan? kenapa dia begitu posesif? dia bahkan cemburu pada ibu nya sendiri, hanya karena memeluk istrinya terlalu lama.


"Kamu benar-benar Rendy..., masa mamah sendiri tidak boleh memeluk menantunya sendiri. Ros ini kan menantu perempuan mamah!" protes Ajeng dengan sewotnya.


"Mamah sedang sarapan kan?" tanya Rendy tanpa menghiraukan protes dari Ajeng, "mari, Ros dan Rendy temani!" ujar Rendy kemudian. Ajeng pun langsung menuruti apa yang Rendy katakan barusan.


"Kalian mau menemani mamah sarapan?" balas Ajeng, "mamah senang sekali..., Ayo kalau begitu!" ajak Ajeng kemudian, sambil menggandeng tangan Ros, membawanya ke meja makan.


"Aw..., pelan pelan mas, ini sakit!" ujar Anita.


"Maaf, maaf, saya pelan kan lagi mengolesinya!" balas Herman dan Herman pun melakukannya dengan pelan dan hati-hati, seperti yang diinginkan Anita.


"Anita?" panggil Herman kemudian.


"Iya mas, ada apa? aw, tolong di pelan kan lagi, tangan saya beneran sakit mas!" balas Anita sambil meringis.

__ADS_1


"Maaf, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Herman kemudian.


"Bertanya?" Anita mengerutkan keningnya, "bertanya apa yaas?" tanya Anita kemudian.


"Kamu masih belum menjelaskan dengan detail, kenapa kamu kabur dan dikejar oleh orang orang tadi?" Herman menghentikan mengobati luka di tangan Anita, beralih dengan memperhatikan gerakan mata serta bibir dari Anita.


"Saya..., saya, takut mas, mamih Anggun mengurung saya di kamar tempat para wanita malam melayani tamu mereka!" jawab Anita ragu-ragu.


"Benarkah? apa buktinya?" Herman masih terus menyelidiki Anita, orang yang berada di depan matanya, yang beberapa saat yang lalu, ia dan tuannya selamatkan.


"Orang orang tadi adalah buktinya mas, mereka yang mengejar saya adalah bukti kalau mamih Anggun mengejar saya!" Anita mulai mengeluarkan air matanya kembali, bukan karena sakit di tangan dan tubuhnya, melainkan karena pertanyaan dari Herman yang menurut Anita begitu menyudutkannya, dan seolah tak mempercayainya.


"Dari mana asal mu?" Herman sama sekali tidak menghiraukan ucapan dari Anita, baginya, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari Anita akan membuat tuannya sangat senang. Dan Herman pun melakukannya, agar Rendy senang dengan informasi apa saja yang ia dapatkan dari Anita.


"Saya, dari kampung xxx mas, saya ini yatim piatu, saya di rawat oleh paman dan juga bibi saya saat saya masih kecil," jawab Anita.


"Ambil ini! bersihkan wajahmu yang kotor itu dengan ini!" Herman memberikan satu botol air mineral dan handuk kecil, pada Anita, dan Anita pun langsung menyambarnya, untuk membersihkan wajahnya dengan air tersebut, dan mengelapnya dengan handuk yang Herman berikan.


Herman pun kembali memperhatikan Anita, Anita tak tampak seperti gadis desa, jika dilihat dari sudut manapun. Pikir Herman.


"Kenapa mas, apa wajah saya terlihat jelek saat saya sudah membasuh wajah saya?" tanya Anita karena Herman terus memperhatikannya.


"Tidak!" jawab Herman dengan ketus, tak ada rasa ketertarikan dalam diri Herman saat melihat sosok Anita yang cantik jelita saat sudah membasuh mukanya.


...***...


"Apa? Kayla tidak bisa dihubungi mah?" Rendy terkejut saat Ajeng menceritakan tentang Kayla kepadanya, "kenapa mamah tidak memberitahuku sejak awal?" Rendy mendengkus kesal pada Ajeng, ia bahkan sampai menghembuskan napas kasar, karena menahan kesalnya.


"Sayang!" Ros memegang tangan Rendy yang mengepal, agar Rendy bisa menahan diri.


"Maafkan mamah Ren, tapi mamah sudah memberitahu Surya sebelumnya. Dan saat ini, Surya tengah mencari tahu keberadaan dan keadaan Kayla saat ini!" ujar Ajeng, membuat Rendy menghela napas lega.

__ADS_1


"Aku akan segera menghubungi Doni mah, tapi aku harus segera ke kantor sekarang!" balas Rendy setelah Ajeng selesai dengan sarapannya.


"Biar mamah antar ke depan!" Ajeng langsung bangkit dari duduknya, setelah ia selesai dengan sarapan paginya.


Ros dan Rendy pun ikut berdiri, menyusul Ajeng yang sudah terlebih dahulu pergi ke luar, meninggalkan Ros dan Rendy di meja makan.


"Rendy berangkat dulu mah!" Rendy mengambil tangan Ajeng, lalu mencium punggung tangannya.


"Ros juga mah! Ros akan ke kantor Ros juga, sudah lama Ros tidak melihat kantor Ros!" ujar Ros yang ikut menyalami dan mencium punggung tangan Ajeng.


"Iya Ros, terima kasih sudah mau berkunjung ke rumah mamah!" Ajeng mencium kening menantunya cukup lama, ia teringat dengan Kayla yang sudah hampir dua minggu ini tidak mengabarinya sama sekali.


"Apa mamah tidak akan ke kantor?" tanya Rendy kemudian.


"Tidak Ren, mamah sudah menyuruh sekretaris mamah membawa berkas berkas nya ke rumah!" jawab Ajeng.


"Baiklah, Rendy dan Ros berangkat mah! jaga kesehatan mamah!" balas Rendy yang menggandeng tangan Ros menuju mobilnya.


"Hati-hati sayang! jaga menantu kesayangan mamah dengan baik!" ujar Ajeng.


"Tentu mah!" balas Rendy sambil menciumi tangan Ros.


"Silahkan Tuan, Nyonya," ujar Herman setelah membukakan pintu mobil untuk Ros dan Rendy.


"Terima kasih Herman!" balas Ros, dan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, yang didalamnya sudah ada Anita yang tampak berbeda dari sebelumnya.


"Anita...," ucap Ros saat melihat Anita dengan wajah yang cantik jelita, membuat Ros yang seorang wanita menjadi terpana karena melihat kecantikannya.


"Iya Nyonya!" jawab Anita yang sengaja memperlihatkan wajah cantiknya dihadapan Ros dan Rendy. Namun, bukannya Rendy terpana ataupun suka melihat wajah Anita yang terlihat berbeda, cantik, segar dan mempesona, Rendy malah memalingkan wajahnya dengan kesal, menatap ke arah kaca, dimana bayangan wajahnya berada.


"Sayang..., bukankah Anita ini sangat cantik!" ujar Ros, yang terus memandangi wajah Anita. Walaupun bajunya masih sama, namun wajahnya sudah berbeda. Lebih segar dari sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2