
"Ini masih belum selesai sayang!" ujar Rendy dengan memperlihatkan pusaka nya yang masih kokoh berdiri, menjulang indah nan tinggi.
Ros hanya tersenyum saat melihat pusaka milik Rendy yang bentuknya terlihat semakin mengembang.
Dengan perlahan, Rendy kembali memasukkan pusaka itu kembali, ke gua sempit yang kini sudah lembab saat di kunjungi.
Bless!!!
Benda pusaka Rendy masuk dan meluncur dengan sempurna, membuat sang pemilik gua menikmatinya dengan memejamkan mata. Rendy tersenyum melihatnya, hingga tak lama, ia pun mengikuti Ros dengan memejamkan matanya, menikmati permainan yang Rendy lakukan pada Ros. Maju mundur dan sedikit goyangan yang Rendy lakukan, membuat gairah Ros naik kembali, hingga Ros pun membalas gerakan pinggul Rendy.
"Aaah..., sayang! ini nikmat sekali!" ujar Rendy dengan des*h*nny* dan gerakannya yang tak terhentikan.
"Nikmati saja sayang! itu milikmu sekarang!" balas Ros, dan Rendy pun kembali menjelajahi gunung kembar milik Ros dengan bibirnya.
Rendy menciumi hingga memberikan jejak jejak kemerahan di kedua gunung kembar itu dengan menghis*p dan sedikit menggigitnya.
"Aaaaaaah...," des*h*n Ros karena Rendy menggigit salah satu gunung kembarnya, bersamaan dengan semakin cepatnya tempo permainan Rendy, hingga tubuh Ros terguncang naik dan turun, beriringan dengan gerakan maju mundur Rendy yang cepat.
Mendengar Ros Mendes*h dengan sangat merdu, Rendy pun semakin gila di buatnya. Rendy tidak menyia-nyiakan semua anggota tubuhnya, dari tangan hingga bibir, Rendy merem*s, mencium dan menjil*ti hampir semua bagian tubuh Ros, hingga Ros menggeliat geliat kegelian sekaligus merasakan kenikmatan akibat sentuhan Rendy.
Merasa sedikit bosan dengan posisinya yang sekarang, Rendy pun membalikkan tubuh Ros ke atas, hingga kini Ros lah yang menjadi pengendali dalam permainan malam ini.
Ros mulai memaju lajunya permainan, mencoba me naik turunkan, memaju mundurkan gerakan pinggulnya, sesekali menggoyangkan pinggulnya hingga Rendy merasakan kenikmatan yang luar biasa.
TIdak mau kalah, Rendy pun mengambil dua gunung kembar yang menggantung indah di hadapannya, merem*s dengan gemasnya hingga menghis*pnya dengan sangat rakus, membuat Ros memacu permainan dengan semakin cepat, hingga untuk kedua kalinya, Ros ingin mengeluarkannya sesuatu yang sangat nikmat dari dalam gua sempit nya.
"Sayang..., a..ku.., tidak kuat! Aaaaah..," ujar Ros dengan kepala menengadah ke atas.
Secepat kilat Rendy mengubah posisinya menjadi di atas kembali tanpa melepaskan pusaka nya gua sempit milik Ros.
"Tunggu aku sayang..., kita keluarkan bersama!" balas Rendy dengan semakin cepatnya tempo permainan yang Rendy dan Ros lakukan.
Ros mencengkeram erat punggung Rendy, hingga kuku kuku tajamnya melukai kulit Rendy. Begitupun dengan Rendy yang mencengkram selimut dan bantal yang berada di dekatnya dengan sangat erat, seirama dengan pacuannya yang cepat. Hingga- -
"Aaaaaaah...,"
__ADS_1
"Aaaaaaah...," lenguhan panjang dari keduanya terdengar dengan begitu syahdu, secara bersamaan, menjadi seperti sebuah lagu dari paduan suara yang terdengar merdu.
Ros dan Rendy mengeluarkan cair*n cair*n kenikmatan mereka secara bersamaan. Hingga rasa yang ditimbulkan terasa berbeda dengan sensasi yang berbeda pula, semakin nikmat. Rendy pun menghempaskan tubuhnya sendiri di atas tubuh Ros, jatuh tumbang karena kenikmatan.
Cup!
Rendy mencium kening Ros dengan penuh rasa sayang dan kepuasan, disela-sela rasa lelahnya.
Cup!
Ros membalas apa yang Rendy lakukan padanya, dengan mencium balik Rendy, tepat di bibirnya, hingga kemudian keduanya tersenyum dan berpelukan dengan sangat erat, tanpa sehelai benangpun yang menjadi penghalang untuk kedua tubuh yang polos itu.
"Terima kasih sayang! kamu sudah memuaskan suami mu ini!" ujar Rendy dengan mata berbinar menatap Ros penuh cinta.
"Apapun untuk suamiku!" balas Ros dengan mempererat pelukannya. Hingga tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 20.15, ternyata pasangan baru itu sedang melakukan kegiatan suami istrinya selama satu jam lebih.
"Sayang? bukankah kita ada janji dengan kak Surya?" tanya Ros yang masih ada dalam pelukan Rendy.
"Hmmm...," jawab Rendy dengan mata terpejam, "Apa!!!" teriak Rendy kemudian, setelah Rendy ingat, jika dirinya ada janji dengan Surya.
"Aku lupa sayang! dan ini semua gara gara dirimu!" balas Rendy dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa gara gara diriku?" tanya Ros kemudian.
"Karena kamu menggoda ku tadi, hingga aku pun tergoda, dan lupa akan janjiku pada kak Surya!" jawab Rendy.
"Enak saja menyalahkan ku!" cemberut Ros dengan memalingkan wajahnya.
"Aku hanya bercanda sayang! aku memang tergoda oleh ku! karena kamu selalu membuatku tergoda, kapan pun dan dimana pun dirimu berada!" ujar Rendy yang memeluk Ros dari belakang.
"Ayo? kita mandi! apa kamu mau ikut? atau mau menungguku di rumah saja?" ajak Rendy kemudian, dan tanpa menjawab Ros pun mengikuti langkah Rendy ke kamar mandi dengan saling bergandengan, tanpa baju yang menutupi tubuh indah mereka.
Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi lalu menutupnya. Rendy mengisi air di bathtub, sedangkan Ros duduk menunggu air terisi disisi Rendy sambil mengusap usap dada dan perut Rendy yang membentuk kotak kotak, yang membuat wanita mana saja ingin selalu menyentuh dan merasakannya.
"Kamu menyukainya?" tanya Rendy saat Ros terus menerus mengusap usap dada dan perutnya. Ros pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Rendy.
__ADS_1
"Apa kau sedang menggodaku lagi?" tanya Rendy kembali.
"E.emh, tidak!" jawab Ros dengan menggelengkan kepalanya.
"Tapi benda pusaka ku ini tergoda kembali," balas Rendy, "kau lihat!" Rendy menunjuk pusaka nya, "dia bahkan sudah tegak berdiri, hanya karena kau menyentuh dada dan perut ku!" lanjut Surya.
"Tapi- -
Belum sempat Ros menjawab, lagi dan lagi, Rendy kembali menyerbu bibir Ros dengan ganasnya, dengan tangan yang kembali lihai kesana dan kemari, menjelajahi setiap sudah yang sudah ia jelajahi baru saja. Dan, permainan kedua di kamar mandi pun, kembali di mulai.
...***...
"Kemana anak itu?" ujar Surya yang sudah berada di cafe xxx, tempat ia dan Rendy janjian untuk bertemu malam ini, namun Rendy malah sibuk dengan urusan benda pusaka dan gua sempitnya.
Tut! Tut! Tut!
Dering telepon tersambung, namun Rendy tak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya juga.
"Kemana dia? apa dia lupa? atau jangan jangan...," ucapan Surya terhenti saat seseorang menepuk bahunya dari belakang, membuat Surya seketika itu pula menoleh kebelakang.
"Kau?" ujar Surya.
Bersambung...
Wah, wah, kira kita siapa ya? yang menepuk-nepuk bahu Surya? apakah otor? atau kalean para readers😂
Jangan lupa ngasih kopi, karena kopi online itu gratis ya readers🤣🤣🤣
Inget, ada pulsa sama voucher data buat kalean pendukung terbanyak ceritanya
🌹Kak Rendy dan Ros 🌹
yang akan otor umumin di akhir cerita ya readers😁
Jadi jangan lupa ngasih kopi, vote, bunga juga gak papa🌹🌹🌹
__ADS_1
Selamat malam, selamat membaca kelanjutan dari Uh, Ah, menjadi Ah, Oh, Tidaaaak, ini sudah malam 🤣🤣🤣