
"Apa saya boleh turunkan sebelah kaki saya Nyonya?" tanya Herman dengan wajah yang memelas. Bahkan, suaranya pun ikut memelas, seirama dengan ekspresi wajahnya.
"Tidak!" jawab Ros tegas. Bahkan dengan sedikit bentakan.
"Tapi Nyonya..."
"Aku bilang tidak, ya tidak! Tidak ada bantahan sama sekali," ucap Ros sekali lagi, menolak permohonan dari Herman.
Pria yang berstatus sebagai sopir pribadi suami Ros itu, hanya bisa menyesali perbuatannya dengan mematung bertumpu pada sebelah kaki, sedangkan kedua tangannya menjewer juga kedua kupingnya. Persis seperti anak sekolahan yang sedang mendapatkan hukuman dari sang guru, karena melakukan sebuah kesalahan.
Sedangkan di sudut sana, pria yang kakinya masih di perban karena baru saja mengalami operasi kecil, tengah terkikik geli dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata dan mulut.
Ya, siapa lagi jika bukan Rendy. Pria itu sebisa mungkin tengah menahan tawanya agar tidak meledak di hadapan Ros, sang istri.
"Makan lagi sayang?" ucap Ros sambil memasukkan buah-buahan segar pada mulut sang suami. Tentu saja, suaminya itu menerima dengan senang hati. Apalagi di hadapannya tersuguh tontonan gratis yang sangat menyenangkan hati.
"Tentu sayang!" jawab Rendy dengan seulas senyum, sambil membuka mulutnya untuk menerima buah yang sedang di sodorkan oleh Ros.
"Sayang! Dia memelototi diriku!" tunjuk Rendy pada Herman.
"Apa? beraninya kamu!" Ros balik memelototi Herman. Padahal, pria itu tak melakukan apa yang di tuduhkan oleh Rendy.
"Apa salahku?" gumam Herman pelan, nyaris tak terdengar.
"Kamu akan berangkat kerja sayang?" tanya Rendy menatap istrinya dengan binar mata dan senyum yang terus mengembang.
__ADS_1
"Emm...," Ros tampak berpikir, "sepertinya aku akan di rumah saja Kak, aku takut kamu kenapa-napa," jawab Ros kemudian.
"Kamu serius sayang?" mata Rendy berbinar saat Ros akan meluangkan waktunya untuk merawat dirinya, karena merasa sangat khawatir.
"Tentu kak!" jawab Ros pasti.
"Kapan saya bisa duduk Nyonya?" tanya Herman ragu-ragu dan tiba-tiba. Dirinya sudah tak tahan lagi dengan hukuman yang di berikan oleh Ros. Selama setengah jam ia berada dalam posisi seperti itu, namun tak ada niatan dari sang majikan untuk menghentikan hukumannya.
"Apa? Duduk? Jangan harap kamu bisa duduk dalam waktu dekat ini!" mata Ros menyipit, kata ancaman ditujukan pada yang bertanya barusan.
'Ah, sia-sia saja aku menolong Tuanku dengan cara berbohong kepada Nyonya. Bahkan yang aku tolong untuk bisa lebih dekat lagi dengan Nyonya, agar Nyonya semakin perhatian pun, tak di anggap sama sekali. Benar-benar menyebalkan. Aku tak akan mau lagi mendukung Tuan!' batin Herman dengan segala kekesalannya. Namun apa daya, Rendy sama sekali tidak pernah memerintah ataupun menyuruh Herman untuk melakukan semua itu. Jadi, ini murni adalah kesalahannya seorang.
"Selamat pagi Nyonya?" suara yang terdengar cukup familiar terdengar di telinga Ros, Rendy, bahkan Herman. Ketiga orang itu menatap ke arah sumber suara. Dan ternyata, Anita sudah berada di ambang pintu dapur, dengan serantang makanan yang entah apa isinya.
Dengan senyum merekah, dan dandanan yang tak seperti biasanya, Anita menatap pada Ros dengan harap agar di izinkan mendekati mereka ke arah meja makan. Dan tentu saja, keinginannya itu terkabulkan, karena Ros langsung menyuruhnya mendekat.
"Ah, iya. Terima kasih mbak!" jawab Anita tampak antusias.
"Mbak?" kompak. Rendy dan Herman berucap tak percaya atas apa yang mereka dengar atas panggilan yang di sematkan oleh Anita pada Ros.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan panggilan Anita padaku?" tanya Ros, menatap lekat namun penuh cinta pada suaminya, dan mengalihkan pandangannya pada Herman dengan wajah yang jutek.
"Sejak kapan wanita itu memanggil dirimu dengan sok akrab seperti itu sayang?" tanya Rendy masih tidak percaya dengan yang ia dengar barusan.
"Sejak ia menjadi pegawaiku sayang," jawab Ros santai, saat menanggapi pertanyaan dari suaminya dengan raut wajah yang kurang bersahabat. Bisa di pastikan, jika Rendy sedang merasa kesal.
__ADS_1
"Aku tidak suka!" tiga kata membuat Ros menatap Rendy dengan penuh tanya.
"Kenapa?" pertanyaan yang seharusnya tak perlu Ros tanyakan lagi pada Rendy.
"Aku tidak suka!" lagi, Rendy menjawab dengan nada dan kata yang sama.
"Tapi hampir semua teman-temanku yang di kantor, memanggilku dengan sebutan yang sama sayang," bujuk Ros mencoba memberi pengertian.
"Itu 'kan, semua temanmu, dan mereka bisa bisa di percaya. Sedang dia...," Rendy tidak melanjutkan perkataannya, justru ia menatap Anita dengan tatapan seolah mengejek. Dan tentu saja, juga dengan tatapan tidak suka. Karena Anita, seolah tengah mengincar istrinya dengan cara mendekati dan berusaha menjadi teman dekatnya.
Anita menundukkan kepalanya, entah karena malu, atau karena hal lain. Yang pasti, dirinya enggan untuk menatap kedua insan yang tengah berdebat akibat kehadirannya itu di rumah ini.
"Sayang...," Ros membelai lembut tangan Rendy, berusaha untuk menenangkan. Ada rasa tidak nyaman saat suaminya mengatakan apa yang baru saja di dengar. Terlebih, orang yang sedang di Katai oleh Rendy itu, sedang berada di hadapan mereka.
"Maafkan aku sayang, aku mau istirahat!" Rendy enggan menanggapi bujukan Ros, ia langsung bangkit berdiri dengan kaki yang berjinjit, "Herman, bantu aku ke kamar!" perintah Rendy kemudian, yang langsung ditanggapi dengan senyum sumringah oleh Herman yang memang sedari tadi menginginkan agar dirinya di berhentikan dari hukumannya.
"Tentu Tuan!" rasanya kedua tangan dan kedua kaki Herman terasa mati rasa. Hampir satu jam dirinya di posisi yang sama, dan baru berhenti saat kehadiran Anita. Entah, dirinya harus berterima kasih atau ikut serta seperti tuannya yang tidak menyukai kehadiran Anita, yang pasti..., saat ini dirinya tengah merasa lega, terbebas dari hukuman yang cukup menyiksa serta menurunkan harga dirinya sebagai seorang pria.
Rendy dan Herman berlalu, meningalkan kedua wanita cantik di tempat yang sama, sedang posisi berbeda.
"Maaf atas kehadiran saya yang langsung membuat pagi mbak dan Tuan jadi berubah kacau seperti ini, mbak!" Anita masih menundukkan kepalanya. Sebagai seorang wanita, tentu saja Ros merasa iba. Apalagi dirinya juga memiliki hati yang lembut. Tak tega rasanya bagi Ros, untuk ikut menyalahkan Anita atas kehadirannya.
"Sudahlah Anita. Ini bukan kesalahanmu! Mungkin, suamiku saja yang tengah merasa kurang baik mood nya," ujar Ros agar tak membuat Anita berkecil hati karena sikap Rendy barusan.
"Ini salah saya mbak, sebaiknya saya pergi. Saya minta maaf, karena sudah membuat keributan!" Anita berbalik dengan isakan yang sengaja ia tahan. Melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah. Namun, langkahnya terhenti, kala seseorang menghentikan langkahnya dengan suara yang lantang.
__ADS_1
"Tunggu!"
Bersambung...