Dia Milikku

Dia Milikku
Ancaman Rendy dan Surya


__ADS_3

"Apa? Kayla tak sadarkan diri lagi? Kenapa pihak rumah sakit tidak ada yang mengajariku?" geram Ajeng, sekaligus terkejut, mendengar bahwa keadaan Kayla kembali memburuk. Bahkan, Kayla sampai tak sadarkan diri, dan tak ada dari pihak rumah sakit ini yang memberitahukan keadaan Kayla padanya.


"Sabar Jeng, sabar... Mungkin, mereka lupa dan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing," Maya mengusap-usap punggung Ajeng dengan sebelah tangannya. Menenangkan dengan cara yang halus.


"Tapi ini sudah keterlaluan Jeng. Mereka anggap saya apa? Jika saya mau, saya bisa memecat mereka semua dari sini," ujar Ajeng begitu menggelegar, ia menunjukkan siapa dia yang sebenarnya, juga menunjukkan eksistensinya di sini, di rumah sakit ini.


"Sabar Jeng. Tidak usah seperti itu. Jangan menunjukkan kekuasaan kita pada orang lain. Apalagi untuk mengancam. Itu tidak baik," kembali Maya menenangkan Ajeng yang sudah di dera rasa marah dan kecewa.


Para perawat juga dokter yang menangani Kayla, hanya bisa tertunduk lesu dengan apa yang mereka dengar dari mulut wanita yang memang mempunyai kuasa di tempat ini.


Jika di bilang sudah pasrah jika di berhentikan alias di pecat dari tempat ini, tentu saja mereka semua tidak siap. Namun, itu adalah resiko alias konsekuensi karena mereka telah membuat salah satu pemegang kuasa di rumah sakit ini marah.


"Sekali lagi, kami mohon maaf Nyonya. Bukan maksud kami tidak memberitahukan keadaan Nona Kayla pada Anda. Tapi..."


"Tapi apa hah? Tapi kalian tidak peduli, dan lebih memilih untuk menerima kemarahan ku?" lanjut Ajeng dengan suara menahan amarah, agar suaranya tidak terlalu nyaring dan mengganggu para pasien yang sedang melakukan perawatan di rumah sakit ini.


"Sekali lagi maafkan kami Nyonya." Hanya kata maaf yang mampu mereka ucapkan pada Ajeng. Karena selain itu, Ajeng tidak akan menerima-nya.


"Sudahlah Jeng, maafkan saja mereka. Sekarang yang paling penting, adalah keadaan Kayla. Ayo, kita ke dalam dan lihat kondisi Kayla saat ini."


Para perawat serta dokter yang mendapatkan bentakan dari Ajeng, mengucap syukur dalam diam. Mengusap lembut dada mereka yang terasa sangat sesak. Juga, berterima kasih kepada Maya, lewat gerakan mata. Karena Maya berhasil membuat Ajeng tidak memarahi mereka kembali, juga membuat mereka kehilangan pekerjaan.


"Ingat Jeng. Yang terpenting adalah kesehatan Kayla. Jangan sampai, amarah Jeng membuat kesehatan Kayla tak jadi prioritas utama," ucap Maya mengingatkan. Membuat Ajeng menghela napas panjang juga berat. Apa yang di katakan Maya memang sangat benar. Ia sudah bertindak bodoh dengan mengedepankan emosi, dari pada kesehatan anaknya sendiri.


"Maafkan saya Jeng Maya. Saya terlalu emosi. Saya hanya memedulikan amarah saya, dari pada hati nurani." Ajeng tertunduk lesu saat memasuki ruangan rawat Kayla. Ada sesal yang menyesakkan dadanya saat melihat kondisi Kayla yang seperti sekarang ini. Di tambah lagi, kondisi hari ini, sempat memburuk, dan Ajeng tidak mengetahui-nya sama sekali.

__ADS_1


"Sudah Jeng, jangan terlalu di pikirkan! Ayo masuk. Kayla pasti sudah menunggu Mama-nya di dalam," kata Maya sambil merangkul pundak Ajeng, seperti seorang teman. Memberikan senyum saat ia menatap besannya.


Ajeng mengangguk paham. Lalu, tersenyum membalas senyuman Maya yang tak pernah di buat-buat.


...***...


"Kita sudah menemukan sedikit petunjuk. Semoga saja, dengan sedikit petunjuk ini, bisa membuat kita menemukan di mana keberadaan Ros dan Herman," ujar Surya pada Rendy yang tengah duduk di samping kursi kemudi, sambil menyenderkan tubuhnya di kursi mobil. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan sesuatu yang bisa saja terjadi pada Ros dan Herman.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak, Ren. Itu bisa membuatmu tidak fokus dalam bertindak!" kata Surya mengingatkan. Ia menepuk-nepuk pundak Rendy dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lainnya tetap fokus pada stir kemudi yang sedang ia kemudian.


"Terima kasih Kak. Tapi, pikiranku benar-benar kacau."


"Aku tau! Bersabarlah. Semoga saja kita dapat sesegera mungkin menemukan Ros dan Herman."


Suasana semakin sepi, di tambah dengan malam yang semakin lama semakin larut, membuat keadaan di sekitar sana nampak begitu menyeramkan. Namun, keadaan itu tak membuat niat Surya dan Rendy surut. Karena kedua-nya bukan sosok penakut yang akan kabur jika suasana tidak mendukung, alias horor.


"Hei, kau. Pak tua!" ujar Rendy dari depan.


Pria yang sedari tadi terbaring di atas jok mobil di belakang, menoleh pada sumber suara, yaitu Rendy.


"Kau tidak bohong kan? Kalau lokasinya di sini?" tanya Rendy kemudian. Memastikan jika pria itu tidak membohongi dirinya juga Rendy.


Tempat sepi dengan jalan kecil berukuran satu setengah meter, terlihat gelap dan mencekam. Dari jalan tersebut, terlihat rumah-rumah yang tidak terlalu besar, seperti sebuah kontrakan, berjejeran cukup rapi. Namun, kondisinya sangat sepi. Hanya sebagian teras saja yang lampu-lampu nya menyala. Mungkin, mereka ingin berhemat, atau mungkin, rumah itu tidak ada penghuninya sama sekali.


Ah, untuk apa Rendy dan Surya memikirkan itu semua. Yang harus mereka pikirkan adalah, apakah ucapan pria di belakang mereka itu bisa di percaya atau tidak?

__ADS_1


"Benar Tuan, Pak! Saya tidak berbohong. Memang di sanalah tempat teman-teman saya menyekap istri juga sopir anda."


Tidak ada pilihan lain, pria itu terus mengatakan kejujuran yang ingin Rendy dan Surya dengarkan, karena sebuah ancaman yang sudah ia dapatkan dari Rendy dan Surya. Ancaman yang sungguh tidak main-main, membuat nyalinya menciut seketika.


"Awas saja kalau kau bohong. Kau sudah tahu konsekuensinya jika kau berani berbohong kepada kami," ujar Rendy dengan menekankan nada bicaranya pada pria itu.


"Tidak Tuan, tidak! Saya tidak berbohong. Tuan masuk saja, agar Tuan percaya pada apa yang saya katakan barusan!" balas pria itu cepat. Secepat Rendy yang meliriknya sinis dari arah depan.


"Aku?" Rendy menunjuk dirinya sendiri dengan senyum sinis, "kau pikir aku bodoh? Aku masuk sendiri sedangkan kau di sini dan menunggu dengan tenang! Begitu maksudmu?" lanjut Rendy membuat pria di belakangnya menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak Tuan, tidak! Bukan seperti itu maksudku," balasnya cepat.


"Ayo kak. Kita cepat-cepat pergi ke tempat itu. Jangan sampai Ros dan Herman di perlakukan seenaknya oleh mereka. Aku tidak ingin terlambat!" ucap Rendy sambil menekankan perkataannya.


"Ayo!" balas Surya cepat. Ia segera keluar dari dalam mobil, lalu membukakan pintu belakang untuk pria yang saat ini sedang mereka Tawan.


"Cepat keluar!" suruh Rendy tak ramah.


Pria itu pun keluar dari dalam mobil, dengan tangan yang masih terikat di belakang. Berjalan mengikuti Rendy dan di kawal oleh Surya di belakangnya.


"Tunjukkan jalan yang benar. Kalau tidak, timah panas ini akan segera mengunjungi dirimu," ancam Surya membuat pria itu mengangguk cepat. Lalu, segera berjalan mendahului Rendy.


"Ba-baik Pak!" jawabnya cepat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2