Dia Milikku

Dia Milikku
Tunggu suami tampanmu ini datang!


__ADS_3

"Cepat ke rumah sakit sekarang, Ren. Ros sudah sadar." Suara perintah dari panggilan telepon yang berasal dari Bu Ajeng, membuat Rendy melangkahkan kakinya dengan begitu cepat. Rasa senang juga terharu, mengiringi langkahnya saat hendak menuju tempat parkir area pemakaman, di mana mobil Rendy di simpan.


Surya yang selalu berada di sebelah Rendy, tentu saja bisa mendengar, kabar apa yang baru saja di dapat oleh adik angkatnya tersebut. Ikut merasakan kebahagiaan sang adik? Tentu saja. Baginya, Rendy bukan lah seorang adik angkat. Rendy sudah seperti adik kandungnya sendiri. Melebihi apa pun yang ada di bumi. Keluarga Rendy, adalah keluarga penyelamat bagi Surya. Kesedihan yang di rasa oleh keluarga Rendy, adalah kesedihannya juga. Dan begitu pun sebaliknya. Kesenangan keluarga Rendy, merupakan sebuah kesenangannya.


"Istriku siuman kak. Istriku sudah sadar," ucap Rendy memberitahu. Padahal, tanpa di beritahu oun, Surya sudah mengetahuinya dari panggilan telepon yang tak sengaja Rendy kencangkan speaker nya.


"Aku ikut bahagia," balas Surya.


"Aku akan segera ke rumah sakit," ucap Rendy tanpa menghentikan langkahnya.


"Tentu. Kau harus segera menemui istrimu. Dia membutuhkan sandaran saat ini. Dan selain keluarganya, tentulah engkau, sandaran paling dibutuhkan untuk Ros." Ucapan Surya benar-benar ampuh membuat senyum Rendy mengembang. Harga dirinya naik, angannya melambung, dadanya terasa hangat. Sepenting itu kah, dirinya bagi Ros? Ah, kenapa harus di tanyakan lagi. Tentu saja ia begitu penting dan berarti bagi Ros.


"Kakak tidak akan ikut menjenguk istriku?" tanya Rendy sebelum ia membuka pintu mobilnya. Sejenak, pandangannya beralih pada sosok Surya berdiri bersampingan dengannya.


"Aku akan menjenguknya nanti. Sampaikan saja salamku pada istrimu. Aku yakin, dia bisa memahami. Dan ya, sampaikan juga kata permohonan maaf ku padanya. Karena aku terlambat menyelamatkan Ros dan herman," ucap Surya sambil menepuk-nepuk pundak Rendy.


Rendy mengangguk paham. Ia mengerti dengan apa yang Surya katakan.


"Aku akan segera menemuinya dan Ros, setelah urusanku selesai," kata Surya sebelum ia membukakan pintu mobil untuk Rendy. Menyuruhnya masuk secara paksa, karena Ros sudah pasti tengah menunggunya di rumah sakit.


"Aku tunggu kedatanganmu kak. Kau harus menjenguk istriku sebagai permohonan maafmu!" ancam Rendy. Surya tertawa mendengarnya.

__ADS_1


...***...


Berjalan dengan cepat, melewati lalu lalang orang yang hendak pulang dan menjenguk pasir yang berada di rumah sakit yang sama. Rendy berjalan tergesa. Tak sabar ingin berjumpa dengan sang pujaan hati, yang baru tersadar dari kondisi kritis yang bisa mengorbankan nyawa kapan saja, jika Tuhan menghendaki. Namun, beruntung, Ros masih diizinkan untuk kembali. Hidupnya masih harus terus berjalan, bersama orang-orang yang ia sayang dan kasihi.


"Maaf. Maafkan aku," ucap Rendy sambil mengangkat kedua tangan di dada. Meminta maaf pada seorang pria seusianya yang sama tergesanya dengan dirinya.


"Tidak apa!" jawab pria tersebut singkat dan cepat.


Keduanya berlaku saling meninggalkan, bersilang arah, karena tempat yang mereka tuju tidak searah.


"Hati-hati mas, ini bukan jalan nenek moyang kamu. Ini rumah sakit!" ucap ketus keluar dari mulut seorang emak-emak yang tak sengaja Rendy senggol tas bawaannya.


"Maaf, maaf! Sudah salah, baru minta maaf. Ke mana aja!" katanya judes, menanggapi permintaan maaf dari Rendy.


Rendy menggelengkan kepala, saat mendengar ucapan yang lebih tepat terdengar sebagai Omelan untuknya itu. 'Emak-emak, walau pun aku sudah mekinya maaf, tetap saja salah! Apalagi kalau tidak meminta maaf sama sekali. Sudah di kutuk jadi batu aku!' ucap Rendy dalam hati, sambil memandangi langkah cepat dan tergesa dari emak-emak tersebut. Sepertinya, ia sama seperti Rendy, sedang terburu-buru.


Ah, karena terpana dengan ucapan emak-emak tersebut, Rendy jadi melamun. Seketika lupa dengan tujuannya datang terburu-buru ke rumah sakit ini untuk apa.


"Sial!" rutuk Rendy sambil mengepakkan tangannya. Ada sedikit senyum yang terpancar, saat ia mengingat kembali sambungan telepon tadi, yang mengatakan jika Ros telah siuman.


"Tunggu aku Ros. Aku akan segera menemuimu. Tunggu suami tampanmu ini datang," gumam Rendy dengan senyum full yang tiba-tiba saja ingin ia tunjukkan pada semua mata yang memandangnya.

__ADS_1


Tentu saja, senyum yang tak diketahui penyebabnya itu, membuat orang lain yang memandang ke arah Rendy menjadi bertanya-tanya. 'Ada apa dengan orang ini? Apa dia gila? Atau jangan-jangan, dia adalah calon orang gila? Atau dia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa? Kenapa orang gila bisa berkeliaran di rumah sakit?' Berbagai pertanyaan yang tak keluar dari mulut, muncul di setiap orang yang memandang ke arah Rendy. Bahkan, ada juga yang memicingkan mata serta mengerutkan alis mereka. Benar-benar terpana dengan senyum Rendy yang tak di ketahui penyebabnya.


"Hati-hati nak. Jangan dekat-dekat dengan om itu," ucap seorang ibu pada anak perempuannya yang memakai seragam merah putih. Sepertinya, anak itu baru memasuki usia kelas tiga atau empat SD.


Mendengar ucapan sang ibu, anak itu langsung berlari sedikit menjauh. Berlindung di balik tubuh sang ibu agar ia tak berdekatan dengan Rendy.


Rendy pun mengerutkan keningnya. Apa maksud ibu itu? tanyanya tanpa suara. Tidak menyadari, jika senyum full yang ia tunjukkan pada orang di sekitarnya tanpa adanya penyebab yang di ketahui, membuat orang-orang memandangnya gila.


"Jangan dekat-dekat anak saya Mas. Anak saya takut!" ujar ibu itu sinis. Bahkan, pandangannya saja, tak kalah sinis dari ucapnnya pada Rendy.


Loh, loh! Bukannya anak itu takut, karena perkataan ibunya sendiri? Bukan karena Rendy mendekatinya. Pikir Rendy. Namun, ia enggan meladeni. Lebih baik, ia melanjutkan perjalanan untuk menemui sang pujaan hati , wanita idaman.


"Sudah sayang, om nya sudah pergi. Ayo, kita jalan lagi!"


Dari kejauhan, masih terdengar ibu ibu tersebut berkata pada anaknya. Dasar tukang provokasi! gerutu Rendy. Bisa-bisanya mengajarkan hal seperti itu pada anak sendiri. Bukannya di suruh menghormati orang ya g lebih dewasa. Malah di ceramahi harus berhati-hati pada seorang pria setampan Rendy.


Rendy masih berpikir, jika orang-orang bersikap aneh padanya, karena tidak ada sebabnya. Padahal, dia sendiri yang membuat ulah, menjadikan orang lain berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Beberapa langkah lagi, Rendy akan sampai di depan pintu ruang rawat istrinya. Langkahnya semakin cepat, saat samar-samar, ia mendengar suara dari beberapa wanita yang menjadi penyemangatnya.


"Suara itu... Ros, Mama Ajeng, Mama Maya, dan...."

__ADS_1


__ADS_2