Dia Milikku

Dia Milikku
Manusia biadab


__ADS_3

"Ke mana Rendy dan Ros? Kenapa mereka berdua belum datang juga ke sini? Rico juga? Bukankah Rico di tugaskan oleh Rendy untuk menjaga Kayla? Lantas, kemana perginya pria itu?" ujar Ajeng bertanya-tanya, tentang kepergian anak-anaknya.


"Mungkin mereka belum ke sini Jeng. Atau mungkin juga, mereka sudah ke sini tadi. Tapi, karena kita tidak ada, jadi kita tidak tahu kalau mereka sebenarnya sudah ke mari." Maya mengusap lembut lengan besan-nya. Seperti biasa, Maya selalu menenangkan di saat yang tepat.


"Bisa jadi kalau Ros dan Rendy. Tapi kalau Rico? Ada urusan apa dia meninggalkan Kayla? Bukankah Rendy sudah menyuruh-nya di sini, untuk menjaga Kayla?" balas Ajeng seraya bertanya kembali pada Maya.


"Mungkin sedang keluar Jeng. Mungkin saja dia ada urusan mendadak. Jadi, dia pergi dulu meninggalkan tugasnya," kata Maya berasumsi.


"Tidak mungkin Jeng May. Saya cukup mengenal Rico, dan Rico bukanlah tipe orang yang akan pergi begitu saja meninggalkan tugasnya, tanpa sebuah kata pamit." Tegas dan jelas ucapan Ajeng, membuat Maya terdiam. Apa yang di katakan Ajeng memang benar.Tidak mungkin Rico meninggalkan tugasnya demi urusan pribadi-nya sendiri.


"Sudahlah Jeng. Lebih baik, kita panggil dulu perawat. Sepertinya, sudah waktunya untuk Kayla mengganti cairan infusnya," ucap Maya yang langsung bangkit menuju tempat yang telah di sediakan pihak rumah sakit, untuk memanggil perawat juga dokter.


...***...


"Di mana anak itu? Kenapa mereka tidak bisa di hubungi sama sekali!" gerutu Ajeng pada Rendy juga menantunya.


Sedari tadi, Ros dan Rendy sudah sekali di hubungi. Bahkan, memang tidak bisa di hubungi. Mencoba menghubungi Surya, namun tetap saja sama. Sama-sama tidak bisa di hubungi.


"Bagaimana dengan Surya Jeng?" tanya Maya seraya menyarankan.


"Sudah Jeng. Tapi, tetap saja sama. Mereka sama-sama tidak bisa di hubungi. Bagaimana ini? Kenapa saya jadi kepikiran sama mereka."


Di usianya yang sudah tak muda lagi, Ajeng bersikap bak anak kecil yang kehilangan permen dari tangannya. Terus mengomel ini dan itu, karena tidak bisa menghubungi anak serta menantunya.


"Sabar dulu Jeng. Biar saya yang coba menghubungi mereka," kata Maya, ia mengambil alih untuk menghubungi Ros juga Rendy.


Beberapa menit berlalu. Beberapa kali pula, Maya memandang serta menempelkan ponselnya di dekat telinga. Namun, tetap saja, jawabannya tetap sama. 'Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif ' Selalu seperti itu.


"Bagaimana Jeng?" tanya Ajeng pada Maya.

__ADS_1


Maya menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan wajah pasrah pada Ajeng. Membuat keduanya sama-sama menghela napas panjang secara bersamaan.


...***...


"Ini tidak bisa di biarkan! Istriku dan Herman sedang berada dalam bahaya. Kita harus segera menolongnya," kata Rendy dengan wajah yang semakin cemas terlihat. Setelah beberapa menit yang lalu, ia mendapatkan kabar, bahwa Ros dan Herman, memang berada di dalam penyekapan Vero.


***


Pria yang di anggap sudah meninggal itu menghubungi Rendy beberapa menit yang lalu.


"Kurang ajar! Brengsek kau Vero. Apa yang kau inginkan?" tanya Rendy dengan nada membentak.


Vero tersenyum sinis di seberang sana. "Apa yang aku inginkan? Tentu saja menginginkan kehancuran-mu dan Ros!" Begitu dingin jawaban yang di berikan oleh Vero, membuat Rendy bungkam. Namun, tangannya mengepal begitu geram.


"Kau memang manusia paling brengsek di muka bumi ini, Vero!" ujar Rendy di sela-sela rada geramnya.


"Tidak usah kau ingatkan Ren, aku juga sudah tau itu!"


"Tenang Ren, tenang! Aku tau, Ros begitu penting untuk-mu. Tapi, apakah sebegitu pentingkah sopir-mu itu bagimu?" tanya Vero yang semakin membuat Rendy geram. Bisa-bisanya pria itu mempermainkan Rendy di saat keadaan seperti ini.


"Katakan Vero! Di mana istri dan sopirku?" tanpa mau menjawab pertanyaan Vero. Rendy kembali melayangkan pertanyaan yang sama pada Vero.


"Santai kawan, tenang..." kata Vero masih enggan memberitahu.


"Jangan banyak basa-basi Vero. Aku sedang tidak berminat untuk banyak bicara!"


"Baiklah, baiklah... Jika kau ingin bertemu dengan istri juga sopir-mu itu, kau harus datang sendiri ke tempatku. Tanpa membawa Surya. Apa kau mengerti?" kata Vero memberikan sebuah tantangan kepada Rendy.


***

__ADS_1


"Benar Ren. Tapi ingat, kita tidak boleh gegabah! Ros dan Herman bisa menjadi taruhannya, jika kita berbuat gegabah seperti itu," balas Surya mengingatkan Rendy.


Bukan kali ini saja mereka berhadapan dengan Vero. Sebelumnya juga dengan kasus yang sama, mereka pernah berurusan dengan Vero. Hingga, Surya sedikit lebih tau dengan apa yang harus mereka lakukan saat ini. Yaitu, jangan bertindak gegabah, dan harus berhati-hati. Sehati-hati mungkin.


"Aku tau Kak. Tapi, apa dia bisa di percaya, jika aku datang ke sana sendiri, dia tidak akan melukai istriku?" kata Rendy mulai melemahkan nada suaranya.


"Tidak Ren. Vero bukan orang yang bisa di percaya. Dia bukan orang yang bisa di pegang omongannya." Surya menerawang jauh. Mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu, saat Ros pernah menjadi tawanan Vero kala itu.


"Lantas, aku harus bagaimana kak!" tanya Rendy merasa frustasi.


"Ikuti saja kemauannya Ren. Ikuti alur yang telah ia buat dengan rasa percaya diri, jika apa yang telah ia rencanakan akan berhasil," kata Surya, "kamu harus ingat Ren. Tidak ada kejahatan dengan rencana yang sempurna di lakukan. Semuanya pasti ada celah untuk di bongkar."


Rendy mengangguk paham. Saat ini, ia harus mengikuti apa yang Vero inginkan. Yaitu, mengikuti alur rencana jahat yang telah ia buat sedemikian rupa. Masuk ke dalamnya, namun, menghancurkan setelahnya.


...***...


"Kamu dengar sendiri kan sayang? Suami tercinta-mu itu, akan datang sendirian ke sini. Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan pada suamimu itu, sebelum ia pergi ke alam baka?" tanya Vero sembari mengelus-elus rambut Ros yang mulai memanjang. Menciumi baunya sambil menikmati kelembutan rambut Ros yang begitu terurus.


"Kau jahat Vero! Kau benar-benar biadab!" kata Ros memakai Vero.


Vero tertawa terbahak-bahak. Ia tak tersinggung sama sekali dengan apa yang Ros ucapkan padanya. Karena kenyataannya, Vero memang mengakui, jika dirinya memang berhati iblis dan biadab.


"Terima kasih atas pujiannya sayang... Aku sangat senang mendengarnya," ucap Vero begitu lembut terdengar.


"Lepaskan tangan biadab-mu itu dari rambutku Vero!" perintah Ros dengan nada geram.


"Apa ini mengganggu dirimu sayang? Bagaimana kalau aku tidak mau melepaskan tanganku ini dari rambutmu?" ujar Vero sembari bertanya.


"Kau!" Ros menunjuk wajah Vero, lewat sorot matanya.

__ADS_1


"Ya sayang?" sahut Vero, masih dengan nada santai yang ia ucapkan.


Bersambung...


__ADS_2