
Tersadar dengan kepala yang sakit dan berat, juga pusing yang berpadu menjadi satu kesatuan.
Herman membuka mata perlahan. Lalu, menyipitkan nya lagi, kala rasa sakit itu begitu berdenyut hingga membuat urat-urat di sekitar lehernya terasa amat kaku.
"Ah, apa yang telah terjadi?" tanya Herman pada dirinya sendiri. Tangan-nya terus meraba-raba semua bagian kepala-nya yang sakit. Juga terus mengingat-ingat sesuatu sebelum ia terbangun dan merasakan apa yang saat ini ia rasakan. Hingga--
"Perawat! Ya, dua perawat itu yang sudah membuat aku jadi begini!" ucap Herman yang berhasil mengingat kembali kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
"Ah, sial. Ternyata sakit sekali!" gumamnya lagi sambil terus mengusap-usap tengkuknya. Hingga, ia baru saja tersadar dan teringat pada Ros, istri dari Tuannya. Kemana Ros? Apa ia baik-baik saja? Apa Nyonya-nya itu juga ikut tak sadarkan diri, karena kedua perawat yang telah berhasil menjebak mereka?
"Ponsel." Herman meraba-raba saku celananya, mencari sebuah ponsel untuk menghubungi Rendy atau siapa saja yang bisa di hubungi.
"Ke mana ponselku? Dan ah, di mana ini?" kata Herman sambil melihat sekeliling. Ruangan yang cukup gelap dan pengap. Penuh debu di mana-mana, dan sangat kotor. Sepertinya ini di dalam gudang. Pikir Herman dengan mata yang liar, menatap ke sana ke mari.
Sedang Ros. Nasib wanita itu tak beda jauh dengan Herman. Kaki dan tangan yang di ikat, juga mata yang di tutup dengan sebuah kain, membuat Ros yang sudah sadar dari pengaruh obat bius, berteriak-teriak histeris meminta pertolongan. Karena mulutnya, tidak ikut mereka sumpal.
"Lepas! Lepaskan aku! Kalian siapa hah?" teriak Ros dengan tubuh yang ia gerakkan dengan paksa dan kasar.
"Dia berisik sekali Bang!" ucap seorang pria yang suaranya tak begitu asing di telinga Ros. Karena Ros pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Perawat tadi! Ya, suara itu adalah suara dari perawat yang tadi datang menghampirinya dan Herman.
"Kalian! Kurang aj*r kalian. Kalian telah menipuku dan Herman. Lepaskan aku dasar perawat palsu!" teriak Ros kembali, dengan mata yang masih tertutup.
"Dia tahu Bang. Ha-ha-ha!"
"Iya. Biarkan saja-- Siapa suruh dia percaya begitu saja pada kita."
"Lepas!"
"Diam!" bentak salah satu dari perawat palsu yang menculik Ros.
"Tidak akan! Jangan kalian pikir, aku akan takut pada bentakan-mu!" balas Ros dengan Syara nyaring.
__ADS_1
Kedua perawat itu terkesiap. Ternyata, Ros bukanlah wanita yang lemah. Ia tidak takut sama sekali kepada mereka berdua. Sungguh mengesankan.
Pikir kedua-nya.
"Cepat katakan! Siapa kalian, dan siapa yang telah menyuruh kalian berdua? Kalian berdua pasti adalah orang suruhan bukan? Jawab aku! Cepat katakan!" teriak Ros dengan menekankan nada suaranya pada kedua perawat palsu tersebut.
"Ha.ha.ha!" Bukannya menjawab, kedua perawat palsu itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan Ros yang menang sangat benar.
"Dia pintar juga bang," kata salah satu dari mereka.
"Benar, pantas saja bos menyuruh kita menculiknya. Dia gak punya rasa takut sama sekali. Kira-kira, kalau kita bermain-main dulu padanya. Apa dia akan takut pada kita?" orang yang selalu di panggil dengan sebutan bang tersebut menyeringai, kala ia menggoda Ros dengan ancaman ringannya.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jangan berani macam-macam kalian berdua. Kalau tidak--"
"Kalau tidak apa cantik?" tanya pria yang selalu di panggil Bang.
"Kalau tidak, mungkin kita akan menikmatinya Bang!" jawab temannya.
'Ha.ha.ha.!'
"Diam kalian!" bentak Ros membuat kedua perawat palsu itu langsung terdiam.
"Dia membentak kita Bang!"
"Benar! Berani juga ya, dia."
"Iya Bang. Saya jadi takut nih. Jangan-jangan dia ini wanita jadi-jadian bang. Jadi, dia gak ada takutnya sama sekali sama kita," balas perawat palsu itu sambil terkekeh karena mendengar suara bentakan dari mulut Ros.
"Kalian berdua pasti akan menyesal, karena telah memperlakukan aku seperti ini!" bentak Ros lagi, di sertai dengan sebuah kata ancaman.
"Iiih... Takut..."
"Lepas!"
__ADS_1
"Jangan harap cantik!"
Tangan salah satu perawat palsu itu mencengkeram erat wajah Ros, hingga Ros meringis merasakan sakit di bagian wajahnya, terutama pipi dan dagu.
"Kita tinggalkan dia di sini bang. Pusing kepala saya mendengar wanita itu terus membentak kita!"
"Ayo... Tapi sebelum kita pergi, kita foto dulu wanita ini. Sebagai barang bukti untuk Tuan kita. Kalau kita berdua, sudah berhasil menyelesaikan misi!"
"Siap Bang!" ujar salah satunya sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celananya. Lalu, tak lama kemudian, pria itu memotret Ros yang sedang terduduk di kursi single, dengan tangan dan kaki terikat, serta mata yang tertutup kain.
"Sudah Bang Beno!" ujar pria itu sambil memperlihatkan hasil jepretan kamera ponselnya.
"Good..." Beno mengacungkan kedua jempol sebagai bentuk pujian atas hasil karya dari fatner kerjanya.
"Ayo, kita cabut!" ajak Beno akhirnya.
"Ayo bang!" balasnya.
...***...
"Susah sekali ikatan ini," ujar Ros saat ia masih saja mencoba membuka ikatan di tangannya dengan usaha penuh.
Setelah kepergian kedua perawat palsu itu, Ros lebih leluasa untuk melepaskan ikatannya, walaupun dengan mata yang tertutup. Namun, ikatan tangan itu masih enggan untuk terbuka. Ros geram, vwajahnya yang tertutup kain, jika terbuka, mungkin saha sudah mengeluarkan api, saking geramnya wanita itu. Dan bukan hanya geram, Ros juga marah pada kedua orang, serta orang yang berada di belakang penculikan-nya dan Herman.
"Herman!" gumam Ros pelan. Ia tidak sengaja mengingat nama Herman. Dan langsung berpikir serta bertanya-tanya. Apakah Herman juga bernasib sama seperti dirinya? Jika ya? Sungguh menyebalkan ini semua. Rendy pasti mengkhawatirkan keadaan mereka berdua saat ini, yang tidak bisa di hubungi, juga tidak ada di tempat yang tadi mereka singgahi. Yaitu rumah sakit, tempat di mana Kayla di rawat.
"Bagaimana dengan keadaan Herman? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ros pelan.
'Hap!'
"Akhirnya!" ucap Ros sambil bersorak pelan. Tangannya telah berhasil terlepas dari ikatan tali yang mengikat tangannya hingga tangan Ros berbekas.
Cukup menyisakan rasa sakit. Namun, tidak terlalu parah. Hanya menyisakan bekas tali, juga sedikit kemerahan saja di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku harus mencari jalan keluar!" gumamnya sambil celingukan, mencari jalan yang bisa membawanya keluar dari dalam gudang yang pengap dan berdebu itu.
Bersambung...