Dia Milikku

Dia Milikku
Rencana


__ADS_3

Gelapnya malam, tak semenakutkan gelapnya hati seorang manusia. Gelapnya malah hari, masih bisa di terangi dengan cahaya lampu yang indah. Sedangkan gelapnya hati, hanya bisa di terangi dengan kesadaran diri, dan memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.


Matthew dan Doni, kedua manusia dengan hati segelap malam dan sepekan awan hitam itu, sudah menyusun sebuah rencana untuk melenyapkan Ros dan Rendy. Orang yang menjadi target utama dalam rencana mereka.


"Bagaimana Don? Kau sudah siap?" tanya Matthew dengan nada dingin dan aura yang berbeda.


Doni menganggukkan kepala, menatap sekilas ke arah Matthew. Lalu, menatap lagi pada barang yang ia pegang di tangannya.


Sebuah cairan mematikan yang sudah lama Matthew simpan di tempat persembunyiannya. Cairan yang bisa menghilangkan nyawa seseorang, tanpa membuatnya merasakan sakitnya di cabut nyawa. Dapat di campurkan pada cairan infus, atau pada makanan dan minuman yang akan di konsumsi. Dan bekerja dengan sangat cepat, tidak sampai setengah jam, cairan itu akan bekerja sesuai keinginan penuangnya.


"Aku sudah lama menyimpan cairan itu. Dan hampir saja aku melupakannya, jika aku tak sengaja mengambil barang di tempat persembunyiannya cairan tersebut," ucap Matthew pada Doni yang terlihat masih sibuk dengan cairan di tangannya. Nampaknya, cairan itu begitu menyita perhatian Doni, hingga Doni enggan melepaskan tatapan matanya dari cairan yang sedang ia pegang.


"Kita jalankan rencana kita sekarang, Paman!" ucap Doni terlihat tidak sabar. Wajahnya berbinar, mengingat rencana yang ia bayangkan akan berhasil membuat Ros dan Rendy meregang nyawa.


"Tentu! Kita jalankan misi kita sekarang. Dengan rencana yang sudah matang, aku yakin, rencana kita akan berhasil kali ini. Dan aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba!" balas Matthew tak kalah senang dengan ucapannya sendiri. Dengan ide yang sudah ia rangkai dengan sedemikian rupa bersama Doni.


...***...


"Kau yakin, Kak?" tanya Rendy dengan mengerutkan kedua alisnya ke atas. Menatap taj percaya pada sosok Surya yang baru saja memberikan Rendy juga Ros berita.


"Seratus persen. Aku tidak akan mengatakan semua ini, jika aku tidak yakin dengan ucapanku sendiri. Aku mendengarnya, Ren. Mereka sudah merencanakan sesuatu untuk membunuh kalian."

__ADS_1


Deg!


Dada ros berdebar. Ternyata, kematiannya dan Rendy, masih menjadi incaran utama Matthew juga Doni. Ros tidak bisa menerima itu semua.


"Aku tidak akan membiarkan rencana mereka berhasil, Kak." Ros menatap lurus ke depan. Tatapannya terlihat kosong, namun tajam. Ada kemarahan besar yang Ros perlihatkan dari sorot mata juga wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Tenangkan dirimu, Sayang. Aku akan mengurus mereka berdua dengan Kak Surya. Kau tidak perlu khawatir. Aku dan kak Surya bisa mengatasi ini semua," balas Rendy. Ia tahu, jika istrinya itu sedang menyimpan kemarahan besar yang tak mampu di ungkapkan oleh kata-kata.


"Aku tidak mau kalian sampai kenapa-napa," ucap Ros lirih. Tatapannya beralih pada Rendy yang selalu setia berada di sisinya.


Rendy menggenggam erat tangan Ros, menciumnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Doakan yang terbaik untukku dan kakakku. Restui juga apa yang akan aku lakukan demi kebaikan kita. Itu yang aku butuhkan saat ini, Sayang," balas Rendy pelan dan memenangkan.


Ros mengangguk pelan. Ia yakin, jika apa yang Rendy katakan memang benar. Ros hanya perlu memberikan doa terbaik dan dukungan, agar apa yang Rendy dan Surya rencanakan, bisa berjalan dengan lancar.


"Tentu, Kak. Kita buat mereka menyesal, karena sudah bermain-main dengan keluarga kita!" balas Rendy dengan mengepakkan tangannya keras, hingga terlihat memutih buku-buku tangannya.


"Baiklah! Kita bersiap sekarang, sebentar lagi, aku yakin mereka akan segera datang dengan samaran yang sudah di rencanakan." Surya memberitahu, apa yang ia dengar dari alat pelacak dan perekam suara yang ia pasang di dalam perban yang terpasang di kaki Matthew.


"Kamu siap sayang?" tanya Rendy pada Ros. Surya meminta Ros agar berpura-pura masih tak sadarkan diri, saat Matthew dan Doni datang ke mari untuk menjalankan rencana licik mereka. Agar mereka yakin, jika rencana yang akan mereka lakukan, berjalan dengan lancar. Padahal, Rendy dan Surya sudah berada dua langkah di depan.


"Demi kebaikan kita semua, aku siap!" jawab Ros yakin. Walau tenaganya masih lemah, ia akan melakukan perlawanan terhadap Matthew dan Doni, jika sewaktu-waktu, rencana yang telah Rendy dan Surya sedikit meleset.

__ADS_1


"Percaya padaku, Sayang." Rendy membelai lembut lengan Ros. Memberikan wanita pujaannya kekuatan sebelum rencana di mulai.


Surya berjalan keluar terlebih dahulu. Berjalan melewati setiap ruangan dengan langkah yang ia buat seolah-olah sedang tergesa-gesa sambil meletakkan ponselnya di telinga, berpura-pura sedang menelepon dengan seseorang yang penting.


Sedangkan di dalam, Rendy berpura-pura tertidur lelap dengan kaki yang berselonjor di sofa panjang yang khusus Rendy pesan untuk menemani Mama dan Mama mertuanya saat menemani Ros.


Begitupun dengan Ros, ia ikut memejamkan mata, sesuai dengan intruksi yang Surya berikan padanya. Alat-alat medis kembali di pasang di tubuh Ros. Cairan infus berganti dengan yang baru. Ros seakan di buat seolah ia belum sadarkan diri oleh para perawat, karena perintah langsung dari Surya.


waktu seakan berjalan dengan lambat. Satu menit seakan satu jam, dan satu jam seakan satu hari. Ros dan Rendy mulai bosan dengan keadaan ini. Orang yang tunggu-tunggu kehadirannya, belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Apa Surya salah memprediksi? Atau Surya salah waktu?


Di saat kekesalan dan keputusasaan hampir saja membuat Ros dan Rendy menyerah. Suara yang dibuka dengan perlahan dari arah luar, membuat keduanya kembali memejamkan mata, mengatur napas agar kembali normal dan terlihat sedang di buat-buat normalnya.


Derap langkah kaki terdengar. Namun, Ros tak mampu melihat siapa yang datang. Apakah itu perawat, dokter, atau jangan-jangan, orang yang berniat jahat padanya dan Rendy, yaitu Matthew dan Doni.


"Wanita itu masih belum sadarkan diri," bisik seorang pria yang cukup terdengar oleh Ros dan Rendy.


"Sepertinya pria itu juga kelelahan karena menjaga wanita tidak berguna itu," balas yang lainnya.


Rendy menahan geram dengan wajah dan tubuh yang tenang. Namun, hatinya meradang. Apa yang di katakan oleh Surya ternyata benar. Dua orang pria yang sudah membuat keluarganya menderita, datang kemari untuk membunuh Ros dan Rendy, sesuai dengan rencana yang sudah mereka buat.

__ADS_1


"Cepat! Jangan buang-buang waktu. Cepat suntikkan cairan itu , dan juga pergi dari sini!"


__ADS_2