
Kini Nita dan Nella telah berada di tempat jauh yaitu berada di pantai yang jauh dari perkotaan.
"Wah, ini sudah sangat lama sekali aku tidak pernah kemari lagi Nita. Aku menyukai pantai".
"Aku juga sangat menyukai pantai Nella" sambung Nita mengingat hari terakhir ia bersama dengan Argana sebelum pria itu meninggalkan negara tercinta.
Kemudian mereka berdua berjalan mendekati bibir pantai, dengan senyum mengembang di wajah Nella ia terlihat sangat bahagia sekali. Namun berbeda dengan Nita, ia tidak seperti biasanya lagi yang selalu terlihat ceria setiap harinya.
"Ya Tuhan, jika akhirnya akhir hidup ku seperti ini. Aku sudah siap Tuhan, tapi jangan biarkan nantinya keluarga ku berturut-turut dalam kesedihan setelah kepergian ku" ucap Nita dalam hati.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Nita lalu mendengar suara ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. Ia pun segera mengeluarkannya dari dalam tas, "Mama? Astaga!".
"Kenapa Nita?" tanya Nella melihatnya.
"Tidak ada apa-apa Nella".
Nella melihatnya dengan heran, "Kenapa kamu tidak menjawab ponselnya mu? Dari tadi berdering".
"Iya. Ini dari ibu ku, kalau gitu aku kesana sebentar yah".
"Mmmmm".
Nita sedikit menjauh dari Nella agar Nella tidak mendengar percakapan ia dan ibunya.
"Hallo ma!".
Ibunya yang berada diseberang sana langsung tersenyum, "Kamu lagi dimana Nita? Apa kamu sedang berada diluar?".
"Iya ma, aku sedang berada diluar bersama dengan Nella".
"Oh. Apa mama menganggu mu? Ada hal penting yang ingin mama bicarakan dengan mu sayang".
"Apa itu ma?".
"Mmmm.. Mama butuh uang Nita, kalau kamu tidak keberatan mama bisa tidak meminjam uang mu untuk 2 minggu kedepannya? Mama sangat membutuhkannya Nita".
"Tidak usah meminjam seperti itu ma. Mama butuh berapa? Ketepatan minggu depan aku sudah gajian".
"Terima kasih Nita, kamu benar-benar sangat pengertian sekali sama mama. Mama hanya butuh 10 juta saja untuk biaya pengobatan nenek kamu yang sudah menua".
"Ya sudah ma, nanti pulang dari sini aku akan mentransfer ya. Mama bisa menunggu kan?".
__ADS_1
"Iya sayang tidak apa-apa. Terima kasih banyak yah, jangan lupa menjaga kesehatan. Mama mencintai mu".
"Aku juga mencintai mama lebih dari mama mencintai ku".
"Iya sayang. Mama tutup yah".
Setelah ibunya mematikan panggilan tersebut, Nita lalu menghela nafas panjang menatap kearah Nella yang sedang bermain air dengan perasaan sakit.
"Ya Tuhan tolong aku".
Ia kemudian menghampiri Nella kembali dengan senyuman, "Sudah Nita?" tanya Nella.
"Mmmmm.. Kamu enggak mau bermain itu Nella?" tunjuk Nita kearah beberapa orang yang sedang bermain jetski.
"Kamu mau Nita?".
"Tidak, tapi aku ingin melihat mu bermain itu. Sepertinya menyenangkan".
"Hahahaha" tawa Nella. "Kalau kamu enggak mau kenapa kamu harus menawarkan kepada ku Nita ku sayang? Tidak akh, aku tidak suka permainan itu. Lebih baik aku disini saja menikmati angin sepoi-sepoi sambil melihat mereka bermain. Ayo minum es kelapa ini, tadi aku memesan saat kamu menerima telpon dari ibu mu".
"Terima kasih Nella".
"Terus, apa orang tua mu disana baik-baik saja?".
"Iya Nella. Hanya saja nenek ku yang sudah tua sering sakit dan membutuhkan biaya untuk membawanya kerumah sakit".
"Mmmmm".
"Bagus dong, kamu benar-benar anak yang sangat berbakti sekali kepada orang tua. Semoga rejeki mu selalu berlimpah supaya keluarga mu yang tinggal di kota seberang sehat selalu".
"Amin, terima kasih banyak doanya Nella".
"Mmmmm" senyum Nella.
Hingga kini mata hari sudah turun, dan permukaan bumi sudah mulai menggelap melihat jam telah menunjukkan pukul 18.00 sore.
"Bagaimana untuk hari ini Nella? Apa kamu begitu sangat menikmatinya?".
"Tentu saja Nita, ini semua berkat kamu mengingatkan aku untuk pergi berlibur. Wah, Ini sudah sangat lama sekali aku mengurung diri dirumah terus. Terima kasih".
"Iya Nella".
Nella lalu melirik kearah Nita yang sedari tadi seperti tidak ada semangatnya sambil menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Tapi kenapa aku merasa aneh dengan mu Nita?".
Nita tersenyum, "Aneh bagaimana Nella? Kamu ada-ada ajah deh. Ya aku selalu seperti biasa".
"Masa iya sih? Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku gitu Nita. Apa mungkin perasaan ku saja?".
"Itu perasaan kamu saja Nella. Sepertinya kita sudah hampir mau tiba".
"Iya, tapi kita harus singgah dulu ke suatu tempat, tadi adik ku menyuruh membelinya pizza kesukaan dia. Enggak apa-apa kan Nita kalau kita berhenti sebentar?".
"Iya".
.
Sedangkan Argana yang tengah berada di dalam kamarnya, ia sedang sibuk memikirkan perkataan Lucas lalu hari kemarin tentang bagaimana ia harus bisa merebut Hanju group kembali.
Dan sekarang ini ia memikirkannya, "Paman, kini sudah saatnya aku mengambil hak milik yang sudah paman miliki selama ini" gumam Argana. Lalu melirik ponselnya, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari Nita menunjukkan betapa indahnya pantai tersebut.
"Apa kamu masih mengingat pantai ini Ga? Pantai pertama kali kita bertemu disana dan yang akan menjadi terakhir. Tadi aku kesana bersama dengan rekan kerja ku Nella, kami berdua sangat menikmatinya karena disana telah benyak perubahan tidak seperti dulunya".
Nita sengaja mengirim foto tersebut hanya memperlihatkan punggungnya. Lalu Argana membalas pesannya, "Bersenang-senanglah untuk hidup mu yang terakhir kalinya".
Mendapatkan balasan dari Argana, kedua bola mata Nita langsung berkaca-kaca. Entah kenapa balasan itu sangat menyakiti perasaannya, dan ia juga tau kalau Argana mengatakannya karna ia sedang marah.
"Mmmmm.. Untuk yang terakhir kalinya, aku akan menikmati sisa hidup ku Ga. Bisakah aku berkencan dengan mu lagi ketempat ini Ga?".
Argana lalu menarik nafas panjang sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian menghubungi nomor tersebut, dengan cepat Nita langsung mengangkatnya.
"Sekarang apa mau mu?" tanya Argana.
"Mau ku ingin berkencan dengan mu Ga untuk yang terakhir kalinya".
"Apa kamu tidak berniat untuk hidup?".
"Kamu tau sendiri kalau aku tidak punya harapan lagi Ga".
Dengan sangat marah Argana mengepal tangan kanannya, "Aku akan membawa mu pergi keluar negeri untuk pengobatan mu. Dan mulai dari sekarang, jangan pernah...
"Tidak usah Ga. Aku tidak mau merepotkan kamu harus membawa ku keluar negeri. Aku sudah tau, karna pada akhirnya nanti semua akan sia-sia Arga. Tapi aku sangat berterima kasih sekali tela...
Tut.. Tut.. Tut...
__ADS_1
Gantung Nita begitu Argana mematikan panggilan tersebut secara sepihak.
"Kamu marah Ga? Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima keadaan ku yang seperti ini. Maafkan aku Ga Maafkan aku telah menjadi se-egois ini hiks.. hiks...hiks.. Aarrkkhhh" tangis Nita di bawah selimut tebalnya.