
Beberapa saat berlalu, Ros dan Rendy sudah berada di depan kantor yang bangunannya menjulang tinggi. Bangunan itu begitu megah dan besar. Yang tak lain adalah bangunan milik Rendy.
Saat Ros memasuki kantor itu, semua mata kini tertuju pada sosok wanita cantik bernama Ros yang sedang di gandeng tangannya oleh atasan mereka yaitu Rendy.
Beberapa orang menatap Ros dengan tatapan kagum dan terpesona akan kecantikannya.
"Wah... apakah dia istri dari atasan kita?"
"Dia cantik sekali,"
"Apakah dia Dewi, dia terlihat sangat manis! Dia juga terlihat seperti wanita yang baik hati."
"Benar-benar pasangan yang serasi."
"Aku ingin menjadi seperti istri Tuan Rendy."
Bisik-bisik kagum dari wanita yang terpesona akan kecantikan Ros.
"Ya Tuhan! apakah dia bidadari? dia sangat menguji iman dan hati!" salah seorang pria yang sedang lewat memperhatikan Ros dengan tatapan kagum. Pria itu bahkan, berjalan tanpa melihat kedepan dan- -
Brukkk! pria itus menabrak dinding saat ia berjalan, hingga kepalanya merasakan sakit, dan wajahnya merasakan malu yang teramat sangat.
"Hei, kau! Berani sekali kau menatap istriku seperti itu!" tunjuk Rendy pada karyawan pria yang baru saja menabrak dinding.
"Ma-maafkan saya Tuan! saya benar-benar tidak sengaja. Mata saya sangat sayang jika melewatkan melihat pemandangan indah di hadapannya," UPS, pria itu keceplosan. Sontak saja ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan yang masih memegang berjas.
"Kau! kurang ajar kau! Berani-beraninya matamu lancang seperti itu!" Rendy tidak terima, ia hendak mendekati pria itu, namun gerakannya di tahan oleh Ros dengan memegang tangan Rendy, agar ia tetap berada di sisinya.
"Jangan!" Ros menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia juga memberikan sorot mata menyipit, agar Rendy menahan dirinya, dan membiarkan pria itu pergi.
"Sayang! Mata pria itu sudah lancang melihat kecantikan mu!" ujar Rendy yang hendak menghampiri pria yang sudah kencang melihat istrinya.
__ADS_1
"Aku mohon...," kali ini Ros menunjukkan ekspresi wajah menghiba dengan mata yang berbinar, membuat Rendy gemas dan langsung terhipnotis, seketika itu juga, Rendy melakukan apa yang Ros minta, dengan membiarkan saja pria itu pergi.
"Kau ingat ya! Aku akan selalu mengenali wajahmu itu, walaupun kau memakai helm dan penutup wajah sekali pun!" ancaman. Rendy mengancam pria itu sambil memberikan tatapan sinis padanya.
"Mati aku! bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" pria itu bergumam dalam hati, dengan hati yang menangis pilu, menyesali perbuatannya yang telah lancang menatap istri dari dari atasannya itu tanpa berkedip.
"Ayo sayang!" ajar Ros kemudian. Keduanya pun kini berjalan menuju lift yang baru saja terbuka.
Berlanjut dengan beberapa orang lainnya bersikap biasa saja dan terkesan acuh tak acuh saat melihat Rendy menggandeng istri barunya ke kantor. Karena mereka di sana hanya untuk bekerja. Bukan untuk kepo terhadap kehidupan pribadi atasannya.
"- - - - - -"
Dan sebagian lagi, terutama para wanita, menatap Ros dengan tatapan iri dan dengki. Bagaimana bisa, sosok Rendy yang sempurna, bisa di dapatkan oleh seorang Ros, yang menurut mereka, wajah serta penampilannya biasa saja. Bahkan mereka mengklaim, bahwa wajah mereka jauh lebih cantik dari pada wajah istri dari atasannya itu. Begitupun dengan penampilan mereka, yang dirasa lebih baik dan menggoda dari istri atasan mereka itu.
"Yang benar saja! Kenapa Tuan Rendy bisa mendapatkan istri seperti dia! Dia terlihat biasan saja!"
"Cih! aku bahkan jauh lebih cantik dari pada istrinya itu."
"Benar-benar tidak cocok. Wanita itu tidak serasi sama sekali untuk berdampingan bersama tuan Rendy."
Bisik bisik para wanita yang berhati istri dan dengki. Membuat Ros merasa tidak nyaman di buatnya.
"Apa yang kalian lihat hah!" bentak Rendy pada para karyawan wanita yang menatap Ros dengan tatapan tidak suka. Karena Rendy juga menyadari nya. Seketika itu pula, para wanita itu langsung tertunduk dengan perasaan takut pada atasan mereka.
"Sekali lagi kalian menatap istriku dengan tatapan mata yang tajam dan tidak suka seperti itu. Akan ku buat kalian menyesal. Aku akan memecat kalian saat ini juga, dan akan aku pastikan, kalian semua tidak akan bisa bekerja di mana pun lagi setelah pemecatan yang aku lakukan pada kalian!" ancam Rendy dengan raut wajah yang serius.
"Ma-maafkan kami Tuan! kami benar-benar tidak bermaksud seperti itu!"
"Benar tuan! saya juga tidak bermaksud untuk- -
"Untuk apa? untuk menatap diriku dengan tatapan tidak suka maksudmu!" Rendy memotong ucapan salah satu karyawan wanita nya dengan nada bicara yang meninggi.
__ADS_1
Para wanita itu menggelengkan kepalanya secara bersamaan sambil menundukkan kepala mereka.
"Sayang! aku tidak papa!" ujar Ros lembut.
"Diam sayang! kali ini kau tidak boleh ikut campur! Biar aku beri pelajaran wanita wanita yang merasa diri mereka paling cantik dan segalanya ini."
"Aku benar-benar tidak papa sayang! sudahlah! kita ke ruangan mu sekarang. Aku sudah sangat lelah!" Ros memegang keningnya sambil ia pijat-pijat dengan mata yang ia pejamkan, membuat Rendy panik seketika.
"Lelah? kamu lelah sayang? ayo kita ke ruangan ku sekarang. Dokter akan segera datang memeriksa mu!" Rendy yang panik langsung melupakan amarahnya pada wanita yang berdiri di sampingnya, yang tadi menatap Ros dengan tatapan tidak suka.
Tidak ada jawaban. Ros terdiam sambil terus memegangi keningnya yang terus ia pijat. Berharap Rendy akan terjebak dengan rencananya dan langsung menghentikan kemarahannya pada para karyawan wanita yang menatap Ros dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa masih diam!" Rendy gusar, "ayo masuk, atau mau ku gendong sampai ke dalam!"
Belum sempat Ros menjawab, tiba-tiba saja Rendy langsung menggendong Ros dengan tenaganya yang kuat. Tanpa merasa malu dan risih oleh semua mata yang menatap mereka dengan rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang Rendy yang terkenal dingin dan terlihat angkuh, bisa berbuat seperti itu kepada wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya.
"Apa benar yang aku lihat? Taun yang dingin dan cuek itu melakukan hal yang sangat romantis kepada istrinya."
"Waaw..., tuan keren sekali. Aku iri, aku iri, aku iri...,"
"Aku ingin menjadi wanita itu satu jam saja!"
"Beruntung sekali wanita yang menjadi istri tuan itu!"
"Aku tidak suka melihatnya."
"Aku lebih cocok menjadi istri dari tuan Rendy dari pada wanita itu."
Suara hati para karyawan wanita Rendy dengan tatapan-tatapan mereka yang berbeda saat melihat Ros dan Rendy. Namun kali ini, Rendy tidak peduli sama sekali. Ia lebih tertarik kepada istrinya sendiri. Karena ia terlalu khawatir dengan ucapan lelah yang terucap dari bibir Ros beberapa detik yang lalu.
"Sayang? lepaskan aku!" ujar Ros saat berada dalam pangkuan Rendy.
__ADS_1
Bersambung...