
"Aku jemput setelah pulang kerja ya sayang?" ujar Rendy sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Ros tepat di depan kantornya.
Ros menganggukkan kepala paham.
Baru saja, Rendy berbalik badan dan hendak melangkah pergi. Panggilan dari suara-suara yang familiar di telinganya, membuat Rendy berbalik badan kembali.
'Pengacau! Tukang ganggu! Selalu usil! Biangnya masalah!' gerutu Rendy tanpa suara.
"Eh, aku kira tadi, tukang bersih-bersih di sini..." kata Nina sambil menyembunyikan senyumnya.
"Udah ganti profesi ya Mas Ganteng?" tanya Anto sambil mengulum senyum.
"Seragamnya bagus loh!" tambah Mila yang sama-sama menyembunyikan senyum. Namun, tetap saja, terlihat oleh siapapun juga, jika mereka sedang menahan tawa mereka agar tidak meledak.
"Sudah?" tanya Rendy singkat.
Ketiga-nya saling berpandangan.
"Ada dalam dari pembalasan!" kata Rendy sambil menyeringai.
Ketiga orang yang meledek Rendy langsung meneguk air ludah. Apa maksudnya? pikir ketiga-nya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya... Satu pesanku... Jangan sampai kamu terbawa amnesia seperti mereka," Rendy berlalu setelah mengecup pelan kening Ros. Membuat teman-teman Ros bergidik. Karena sebelum pergi, Rendy memberikan isyarat tangan yang di letakan di leher pada ketiga-nya.
"Ros, suamimu itu seram sekali!" kata Nina sambil bergidik.
"Benar Ros. Kamu gak takut apa, setiap hari bersamanya?" ujar Mila datang mendekat dan menyambung pertanyaan Nina pada Ros.
"Iya, Anto aja takut sama Mas Ganteng. Masa Mbak Ros enggak sih?" Anto tidak mau kalah memberikan pendapat.
"Itu 'kan pendapat kalian! Makannya, jangan suka cari gara-gara sama suamiku. Kena 'kan jadinya?" balas Ros sambil berlalu pergi. Berjalan mendahului ketiga temannya menuju ruangan pribadi Ros.
Reflek, ketiga teman Ros langsung membuntutinya dari belakang.
...***...
"Cepat ceritakan, apa yang kamu katakan tadi lewat telepon itu benar?" tanya Ros tanpa basa-basi, setelah mereka tiba di ruangan pribadi Ros.
"Tentu Ros. Kami bertiga sudah mengintrogasi wanita siluman itu, sampai dia benar-benar mengeluarkan suara," jawab Mila dengan berapi-api.
"Dan kamu tau siapa dalang di balik ini semua?" tanya Nina yang tak mau kalah dalam bercerita.
"Siapa?" tanya Ros penasaran. Siapakah orang yang berniat jahat untuk menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan Rendy?
"Kamu tidak akan percaya Ros!" ujar Mila sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa percaya... Tau saja belum!" tekan Ros membuat Mila menutup mulutnya.
"Oh iya ya!"
"Cepat! Katakan, siapa yang menyuruhnya? Siapa dalang di balik ini semua?" tanya Ros kembali, sambil menekan nada bicaranya. Emosi sedikit menguasainya.
"Vero!" jawab ketiga teman Ros yang nyaris bersamaan.
Ros tertegun. 'Vero?' gumam Ros pelan.
"Kamu tidak menyangka-nya bukan? Bahkan Ki bertiga saja masih belum percaya dengan ucapan si wanita siluman itu!" kata Nina mewakili perasaan Mila dan Anto.
"Bukankah Vero sudah meninggal?" tanya Ros keheranan. Setahunya, pria itu sudah meninggal saat menculiknya dulu. Tapi kenapa Vero bisa hadir kembali dalam kehidupannya? Apakah ini sebuah mimpi? Tapi ini nyata.
Apa mungkin teman-temannya salah dalam menggali informasi dari Anita? A
Ah, entahlah! Ros bingung memikirkannya.
"Itulah yang kami tidak percayai sampai saat ini Ros. Kita semua sama-sama tau, kalau Vero itu sudah meninggal. Tapi, kenapa dia bisa hidup lagi?" tanggap Mila.
"Atau jangan-jangan, dia itu hantunya Vero, Mbak! Dia mau membalas dendam atas kematian dirinya sendiri." Anto bergidik ngeri. Ros menatapnya tajam, tanpa berkedip. Anto jadi salah tingkah.
"Dasar bodoh! Sejak kapan orang meninggal bisa bangkit lagi!" Nina memukul keras tangan Anto yang berada tepat di dekatnya.
"Ya maaf Mbak... Inikan hanya pendapat Anto saja. Kalian percaya syukur, tidak percaya ya tak mengapa. Kenapa malah marah-marah seperti itu pada Anto!" ujar Anto. Wajahnya sedikit memelas, apalagi ia baru saja mendapatkan tatapan tajam dari Ros, yang merupakan teman sekaligus atasannya.
"Kalian memang jahat!" gerutu Anto.
"Katakan! Di mana Anita sekarang?" tanya Ros dingin. Keseriusan sudah mendominasi diri Ros. Tiada lagi candaan di setiap tutur katanya kali ini.
"Kami menyekapnya di gudang belakang kantor ini Ros!" jawab Nina.
"Aku ingin melihatnya! Ajak aku bertemu dengannya!" kata Ros masih terdengar dingin.
"Tentu Ros. Kami takut dia kabur. Karena kemarin, dia sempat mengelabui kami. Jadi, kami berinisiatif untuk menyekapnya di sini. Karena menurut kami, hanya di sinilah tempat yang paling aman untuk menyekap wanita siluman seperti Anita itu," ujar Mila sambil berjalan, menjadi pemandu jalan.
"Apa? Vero!" ucap Mila, Nina dan Anto yang baru saja mendengar sebuah pengakuan dari bibir Anita. Rasa tidak percaya membuat mereka lengah.
*Saat itu, Mila, Nina dan Anto yang tengah berbicara bertiga saja setelah mendengarkan pengakuan Anita soal siapa yang menyuruhnya, Anita berhasil melepaskan tali yang mengikat tangannya ke belakang.
"Tidak mungkin! Vero itu sudah meninggal. Tidak mungkin dia hidup lagi!" ujar Mila sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa Anita berbohong?" tanya Nina yang masih meragukan pengakuan Anita.
"Tapi Mbak, yang membenci hubungan Mbak Ros dan Mas Ganteng 'kan hanya Vero!" kata Anto ada benarnya. Di sini, yang mempunyai dendam pada hubungan Ros dan Rendy hanyalah Vero. Jadi, tidak mungkin Anita asal mengatakan saja, siapa yang menyuruhnya*?
__ADS_1
'*Brukk!'
Suara seseorang menabrak sesuatu, membuat Mila, Nina dan Anto berbalik badan. Memeriksa suara apakah itu. Dan betapa kagetnya mereka, saat mengetahui, jika suara yang baru saja terdengar itu adalah suara Anita yang menabrak pintu karena kurang hati-hati.
"Dia mau kabur Mbak!" ujar Anto yang langsung berlari menyusul Anita yang sudah bangkit dan hendak berlari.
Baru beberapa langkah Anita berlari, Anto sudah mencekal lengan Anita, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke dalam pelukan Anto.
"Ish, tubuh Anto sudah terkontaminasi oleh bakteri dari wanita penggoda ini," kata Anto membuat Anita naik pitam. Ia tentu saja tidak terima dengan apa yang Anto katakan tentangnya.
Walaupun apa yang Anto katakan itu benar adanya. Namun, tetap saja Anita tidak terima. Wajahnya sudah memerah, tangannya pun ikut mengepal. Ingin menampar mulut Anto. Tapi, tangannya sudah terlebih dahulu di ambil paksa oleh Mila dan Nina, hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memberontak saja.
"Lepaskan!" teriak Anita.
"Tidak akan!" jawab Mila dan Nina.
"Kalian akan menyesal!" ancam Anita dengan sorot mata tajam.
"Kami akan menyesal, jika kami membiarkanmu pergi dan bebas berkeliaran di luaran sana wanita siluman!" Mila membuat Anita semakin marah. Julukan untuknya yang memanggil dengan sebutan 'wanita siluman' membuat Anita semakin berontak dalam kemarahan.
"Tolong... Tolong..." teriak Anita meminta pertolongan pada para pengendara yang hanya satu, dua saja yang lewat.
Dengan gerakan cepat, Anto langsung membungkam mulut Anita dengan cukup kuat.
"Aw! Aw!" Anto berteriak, karena Anita menggigit keras tangan Anto yang sedang membekapnya.
"Di sini gak aman Mbak. Lebih baik, juta cari tempat lain yang lebih aman dari rumahnya sendiri," usul Anto yang langsung di setujui oleh Mila juga Nina.
Mereka membawa Anita setelah memberikan air minum berisi obat tidur secara paksa pada Anita. Hingga Anita menelannya dan langsung tertidur hanya dalam waktu kurang dari lima menit saja.
Menengok ke kiri dan ke kanan, samping dan belakang. Takut jika ada orang yang memergoki aksi mereka yang membawa Anita dari rumahnya sendiri. Walaupun di sini sangat sepi, tapi... tetap saja, rasa takut dan khawatir ketahuan orang itu masih ada. Hingga ketiga-nya berhasil membawa Anita masuk ke dalam mobil, ketiga-nya baru bisa bernapas lega.
"Menyusahkan sekali wanita ini!" gerutu Mila*.
...***...
"Begitulah Ros, kami membawanya ke sini dengan penuh perjuangan. Dia benar-benar wanita yang cerdik, tapi tidak secerdik kami bertiga." Mila yang masih memandu perjalanan, terus saja berceloteh. Dari kejadian kemarin saat memindahkan Anita ke gudang kantor, hingga membanggakan dirinya dan kedua temannya, masih saja Mila berceloteh ria.
"Terima kasih teman-teman, kalian memang yang terbaik," kata Ros memuji dengan tulus.
"Simpan terima kasihmu itu nanti Ros. Ini semua tidak seberapa jika di bandingkan dengan pertemanan kita," balas Nina yang langsung di sambut dengan anggukan dari Mila dan Anto.
"Di sini kami menyekapnya Ros!" kata Mila setelah mereka sampai di ruangan yang jarang sekali di pakai. Ruangan yang bahkan jarang terlewat oleh para karyawan kantor.
"Buka pintunya!" perintah Ros.
__ADS_1
Bersambung...