
Sekeluarnya ketiga orang itu dari dalam restoran, ia berkata kepada mereka. "Aku ke toilet sebentar ya. Kalian berdua masuk duluan" ucap Nita.
"Mmmmm" angguk Bagas.
Lalu Nita berjalan memasuki kamar mandi, di dalam sana dengan mata berkaca-kaca Nita langsung menangis melihat bukti dari pembayaran yang tadi ia lakukan.
"Astaga uang ku hiks.. hiks.. Ternyata hidup jadi orang kaya tidak enak. Hanya sekejap mata saja aku kehilangan semua uang ku dan sekarang hanya tersisa 300 rb sampai aku gajian nanti. Kalau aku meminta kepada ibu, akh tidak, aku tidak mungkin meminta uang kepadanya. Anak macam apa aku ini nantinya kalau sampai kejadian itu terjadi?".
"Tidak-tidak aku tidak boleh memintanya. Terus mengenai perusahaan ayah ku bagaimana ini? Mengenali wajah ayah ku sendiri aku tidak mengenalnya. Bagaimana dengan perusahaannya? OMG.. Pacaran sama orang kaya harus seperti ini yah? Tidak bisakah dia menerima aku apa adanya? yang penting aku hidup mandiri dan pandai mencari uang".
"Aarrkkhhh.. Apa yang harus aku lakukan? Akan lebih malu lagi jika nantinya Argana tau siapa aku yang sebenarnya. Haruskah aku berkata jujur? Tapi aku sama Argana baru 1 hari yang lalu jadian. Masa aku baru bahagia udah galau lagi? Akh, aku enggak mau kehilangan Argana ku. Dia harus menjadi milik ku".
Setelah itu Nita keluar dari dalam toilet, sambil menarik nafas dalam-dalam ia mencoba untuk berpikir tenang supaya ia bisa mendapatkan jawaban yang tepat untuk ia beri kepada Argana.
Di dalam kelas, Nita memilih duduk di samping Argana. "Aku duduk disini ya Arga".
"Mmmmm" balas Argana dengan gumaman.
"Terima kasih Arga heheheh".
Tidak lama kemudian dosen yang akan membawakan mata kuliah selanjutnya telah memasuki ruangan mereka.
"Oh iya Arga. Aku baru ingat, lalu bagaimana dengan kekasih mu itu? Apa kamu sudah putus dengannya?".
Bagas yang mendengar perkataan Nita langsung melihat kearahnya kalau saja Nita jangan pernah membawa-bawa Reysa. Karna ia tahu kalau posisi Reysa dalam hidup Argana tidak akan pernah tergantikan, siapa pun wanita tersebut.
"Nita" tegur Bagas.
"Mmmm? Kenapa Bagas?".
"Sebaiknya kamu fokus ke depan. Jangan membuat masalah Nita".
__ADS_1
"Akh iya Gas.. Maaf" angguk Nita tersenyum tipis melihat wajah Bagas yang datar seperti sedang kesal bercampur marah. "Apa karna aku bertanya tentang kekasih Argana yah makanya Bagas melihat ku tampak begitu marah? Tapi apa salahnya aku menanyakan itu?".
"Kalau pun Argana baru putus dari kekasihnya itu karna aku. Ya aku.. Akh, kenapa aku harus kepikiran kesana sih? Aku enggak mau nantinya Argana jadi kesal kepada ku karna aku wanita yang tukang cemburuan. Sebaiknya aku diam saja menunggu Argana sampai jujur tentang hubungannya dengan wanita itu. Aku rasa itu jauh lebih bagus".
.
2 jam lamanya berada di dalam kelas, kini mata kuliah tersebut telah berakhir. Nita kemudian melihat jam menunjukkan pukul 1:30 menit.
"Aku harus berangkat, waktu ku tidak banyak lagi" batin Nita melihat Argana masih duduk diatas kursinya. Lalu ia memanggilnya memberitahu Argana kalau ia duluan kembali pulang karena pekerjaan yang harus ia kerjakan sedang menunggunya dirumah.
Namun saat ia melangkah pergi, Argana langsung menahan tangannya. "Kenapa Arga?" kaget Nita.
"Aku akan mengantar mu pulang" jawab Argana menyandang tasnya.
"Akh tidak usah Arga. Lain kali saja mmmm, aku harus buru-buru. Maaf yah, bukannya aku enggak mau, tapi aku harus pergi sekarang juga Arga. Sampai bertemu dirumah mu besok ok hehehe.. Aku duluan yah" Nita pun segera pergi meninggalkan kedua orang itu.
Kemudian Argana tersenyum geleng kepala merasa sedikit terhibur melihat Nita yang tiba-tiba terlihat sedikit mengemaskan.
"Wah.. Apa kamu sedang tersenyum Arga?" ledek Bagas yang tiba-tiba melihat kearahnya.
.
Di dalam bus, begitu Nita duduk diatas kursinya, ia baru bisa menghela nafas legah menatap kearah samping.
"Hampir saja aku ketahuan oleh Argana. Padahal ini adalah kesempatan emas aku bisa menaiki mobil mewahnya Argana sambil melihatnya menyetir mobil. Aku yakin Argana pasti sangat gagah sekali. Astaga, aku jadi ingin berkencan dengannya".
Lalu Nita mengeluarkan kartu nama yang tadi ia terima dari Argana. Dengan rasa penasaran, ia pun mencari tahu nama perusahaan tersebut membuat ia seketika membulatkan mata.
"OMG. Perusahaan orang tua Argana memasuki 10 besar perusahaan terbesar di Asia dan bukan hanya di Indonesia saja. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Ini benar-benar sangat gila, ini benar-benar sangat gila".
Nita kemudian meremas ponselnya, ia tak habis pikir kalau Argana sampai memperkenalkan ia dengan keluarganya. Ia sangat yakin, orang tua Argana pasti tidak akan memberi restu apalagi ia hanyalah butiran debu bagi keluarganya. Lalu aku harus bagaimana hiks.. hiks.. Aku harus bagaimana? Aku sangat mencintai Argana, aku tidak mau berpisah dengannya hanya karna kehidupan kami yang bagaikan langit dan bumi".
__ADS_1
Sesampainya di gedung Hanju group, Nita melihat Mita sedang menunggunya di depan pintu ruangan mereka.
"Kenapa dengan wajah mu Nita? Kamu baik-baik saja?".
"Tidak Mita. Aku sedang tidak baik-baik saja" jawab Nita menggeleng kepala. "Apa yang harus aku lakukan Mita? Aarrkkhhh".
"Ada apa dengan mu Nita? Harusnya kamu cerita dulu biar aku tau cara membantu mu. Jangan jadi menangis seperti ini".
"Aarrkkhhh... Tapi aku enggak tau cara memberitahu mu yang sebenarnya. Ini sangat menyebalkan sekali Mita hhhmmss".
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin memberitahu ku. Sebaiknya kamu ganti pakaian, sebentar lagi kita akan kerja. Ayo buruan".
"Mmmmm" Nita lalu segera menggantikan pakaiannya, meskipun pikirkan y masih tertuju kesana, ia harus semangat bekerja mengingat uang ya yang sudah habis membayar makanan mereka.
"Hhmmss.. Aku tidak habis pikir" Nita setelah itu keluar. Dan kembali bekerja seperti biasanya.
.
Malam ini tepat malam minggu, Nita mendapat sebuah notifikasi dari Argana.
"Kamu dimana?".
"Ooo" senyum Nita langsung berlari kedalam kamar mandi untuk membalas pesan Argana. "Aku lagi.. Tunggu! Aku harus bilang dimana yah. Mmmmm, dirumah ajah deh" Nita pun segera membalas pesan Argana, memberitahu kalau ia sedang berada di apartemennya.
Ting!
Tidak menunggu lama, Argana membalasnya.
"Aku kesana sekarang juga. Jangan lupa mengirim alamat rumahmu".
Deng!
__ADS_1
"Oh no Arga. Apa-apaan ini? Akh, kenapa jadi seperti ini sih? Ya ampun aku harus melakukan apa? Bagaimana ini?" gumam Nita mengigit jari tangannya. "Tidak-tidak, Argana tidak boleh ke rumah ku. Kalau sampai itu terjadi, aku yakin malam ini juga Argana akan memutuskan aku".
"Aarrkkhhh.. Aku enggak mau putus dari Argana. Tapi apa yang harus aku lakukan?".