Dia Milikku

Dia Milikku
Jasad tanpa nyawa


__ADS_3

"Tidak! Jangan, jangan! Aku mohon! Jangan pukuli aku lagi!" Isak seorang Kayla di sebuah sudut ruangan rawat rumah sakit. Suaranya lirih, rasa takut begitu mendominasi jiwanya. Hingga Kayla tak mampu mengontrol emosinya sendiri.


Beberapa perawat dan dokter datang. Mereka mendapati Kayla yang sedang berada di pojokan kamar rawat sambil berjongkok dan menutup telinga dengan kedua tangannya.


Tubuhnya gemetar, matanya terpejam. Namun, terus mengeluarkan bulir-bulir bening yang sudah membasahi pipi hingga mendanau.


Wanita itu semakin terisak. Mulutnya tak henti berkata-kata. Memohon dan terus memohon.


"Sakit Doni... sakit! Aku mohon, lepaskan aku! Aku ingin bebas Don, lepaskan. Aku mohon!" lirih Kayla.


Beberapa perawat menghampiri Kayla dengan perlahan. Kayla yang tidak menyadari kehadiran mereka, terus mengeluarkan suara memohon dengan lirih. Hingga, Sebuah tangan dari salah satu perawat yang menghampiri, menyentuh bahu Kayla dengan pelan.


Kayla terlonjak. Ia terkejut, raut wajahnya semakin menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa.


"Si-siapa? Siapa kalian?" tanya Kayla histeris.


"Tenang ya mbak! Kita bukan orang jahat! Kita perawat," jawab salah satu perawat menenangkan dengan nada suara yang lembut.


Kayla menggelengkan kepala berat. Tidak percaya dengan apa yang di katakan perawat barusan.


"Bohong! Kalian pasti berbohong! Kalian orang suruhan Doni bukan? Kalian ingin membunuhku secara perlahan kan?" ucap Kayla dengan segala asumsi yang di tuduhkan pada para perawat tersebut.


"Mbak tenang ya? Kita bukan orang jahat," kembali salah satu perawat menjelaskan. Namun, Kayla tetap tak memercayai-nya sama sekali.


"Bagaimana Dok?" tanya seorang perawat sambil melirik dokter.


"Bujuk terus dia. Jika masih tidak bisa, dan semakin memberontak, kita suntikan obat penenang," bisik sang dokter yang tak terdengar oleh telinga Kayla. Namun Kayla menyipitkan mata, melihat para perawat dan dokter secara bergantian. Rasa curiga semakin memenuhi kepala.


"Minggir kalian! Kalian orang-orang suruhan Doni kan? Pergi kalian! Kalau kalian tidak mau pergi, aku--aku akan membunuh kalian semua!" ancam Kayla yang semakin tak terkendali. Ia mengambil benda-benda apa saja yang berada di sekitarnya.


'Bugh!'


'Pluk!'


Kayla melempar dan membanting barang-barang yang di jangkau oleh tangannya.

__ADS_1


Para perawat berjalan mendekat secara bersamaan. Memegangi tangan serta tubuh Kayla agar tidak berontak. Namun, tetap saja. Kayla berontak dan membuat para perawat kewalahan. Hingga, dokter turun tangan dan menyuntikan obat penenang yang mampu membuat Kayla tak sadarkan diri.


...***...


"Itulah hukuman, bagi orang yang berani berkhianat padaku!" ujar Vero sambil meniup asap yang baru saja keluar dari sebuah senjata api yang baru saja ia gunakan untuk melenyapkan seseorang.


Vero! Pria itu baru saja melenyapkan seorang wanita dengan tangannya sendiri.


Wanita yang ia lenyap kan, tidur terkapar dengan mata yang membulat dengan sempurna.


"Andai kau langsung lari dari kota ini dan tidak membuka mulutmu pada Ros dan Rendy. Aku yakin, saat ini, kau masih hidup dan menikmati uang yang aku berikan untuk-mu. Tapi, kau sungguh bodoh Anita, kau tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti. Hingga kau meregang nyawa seperti ini. Bahkan di tanganku sendiri!" Vero masih memegangi senjata api di tangannya. Menatap secara bergantian, antara senjata api, juga Anita yang sudah meregang nyawa.


"Kenapa kau membunuhnya Ver?" tanya seorang pria paruh baya yang memakai tongkat. Sama seperti yang Vero lakukan untuk membantunya berjalan.


Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, kaki Vero yang di tembak oleh Surya, tak bisa lagi berfungsi dengan semestinya. Hingga ia membutuhkan bantuan tongkat untuk menyeimbangkan jalannya.


"Karena dia sudah berani mengkhianati aku Paman! Dia tidak becus dalam menjalankan tugas! Aku benci orang yang tidak bisa menepati janji!" balas Vero pada pamannya. Ia menatap geram pada Anita. Lalu---


'Dor!'


Seakan belum puas, Vero menembak tubuh Anita berulang kali.


"Sudahlah Ver! Ini hanyalah jasad tanpa nyawa!" ujar Mathew sambil menghampiri Vero, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Biarkan aku bersenang-senang dengan jasad tanpa nyawa ini paman!" ucap Vero dengan menekankan nada bicaranya.


Mathew mengangkat bahu. Ia mengikuti apa yang Vero ucapkan padanya.


Meninggalkan dirinya sendiri, akan jauh lebih baik, dari pada harus di temani dan di ceramahi secara terus-menerus, Vero tidak akan menerima itu semua. Lebih baik, Mathew pergi saja. Pikirnya sambil berlalu meninggalkan Vero sendiri dengan jasad di depannya. Entah apa yang akan ia lakukan. Tapi, Mathew sama sekali tidak peduli.


"Tutup pintunya paman!" suruh Vero yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari Mathew, "Aku ingin sedikit bermain-main dengan jasadnya!" lanjutnya sambil menyeringai.


...***...


"Apa?" tanya Rendy dengan nada suara yang tertahan. Kaget bukan main. Namun, ia harus menahan kekagetannya di hadapan Ros, agar istrinya itu tidak curiga.

__ADS_1


"Baik, aku akan segera ke sana!" ucap Rendy kemudian. Menyudahi obrolannya yang terjadi lewat sambungan telepon.


"Siapa Kak?" tanya Ros setelah Rendy mengakhiri ucapannya di sambungan telepon.


"Emh, i-itu... Eva sayang! Ya, Eva menelponku," jawab Rendy terbata-bata. Jelas terbaca jika ia tengah berbohong dengan apa yang ia ucapkan. Namun, Ros mencoba berpikir positif tentang apa yang terjadi. Mungkin saja benar, yang menelepon itu memang Eva.


"Ada apa?" tanya Ros kembali. Menggali sedikit informasi.


"Tentang perusahaan sayang. Ada sedikit masalah!" jawab Rendy. Kali ini, ucapan Rendy terkesan lebih lancar dan tenang. Ros jadi berpikir, mungkin saja ia salah. Karena sempat mencurigai Rendy. Padahal, ia adalah suaminya sendiri.


"Apa katanya?" tanya Ros kembali.


"Katanya--"


'Tok! Tok! Tok!'


Selamat! pikir Rendy.


Rendy sudah bingung dengan jawaban apa yang harus ia jadikan sebagai alasan berbohong pada Ros. Tapi, ia di selamatkan dengan suara ketukan pintu yang mengalihkan fokus Ros yang langsung beralih pada pintu yang di ketuk.


"Sebentar!" jawab Ros dari dalam. Tapi, pintu masih terdengar terus di ketuk.


'Ceklek!'


Dengan perlahan Ros membuka pintu depan. Dan terlihatlah, wajah wanita yang tidak asing dalam penglihatan Ros dan Rendy, beberapa hari ini.


"Eh, Jeng An. Ada apa Jeng?" tanya 4os seperti biasa. Ramah. Walaupun sebenarnya Ros defikiy heran dengan jeng An ini, karena sering sekali menampakan dirinya di hadapan Ros dan Rendy. Tapi, Ros tetap menghargai dan tak mencoba untuk melukai hati Jeng An, jika Ros mengeluarkan bahasa kalbu-nya.


"Ini Ros, saya ada makanan sisa tadi syukuran rumah baru saya. Kue-kue nya masih banyak. Jadi, saya inisiatif buat bagi-bagikan semua sama Apr tetangga. Dari pada mubazir kan. Lebih baik saya bagi-bagikan aja!" kata jeng An memberitahu alasan kedatangannya malam-malam ke rumah kontrakan Ros.


"Saya lihat tadi, mas Rendy makan kue-nya lahap banget. Pasti ketagihan kan, sama kue-kue saya ini?" jeng An mendongakkan kepalanya melihat ke arah Rendy yang sedang mengernyit keheranan menatap ke arahnya.


Datang ke sini malam-malam, hanya untuk sekedar memberi kue dan membicarakan tentang Rendy yang makan dengan lahap di acara syukuran rumah baru nya Jeng An. Batin Rendy menggerutu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2