
Sore merangkak naik menuju malam. Suasana malam di kota semakin malam semakin ramai. Ros yang baru saja kembali ke rumahnya bersama Rendy, di kejutkan dengan sebuah pesan singkat yang di kirim oleh seseorang pada ponsel milik Rendy yang tergeletak di meja rias, dan tak sengaja Ros lihat dan baca.
'Gawat Tuan! Keadaan Nona Kayla semakin parah. Saat ini, Nona sedang mengamuk, dan dokter serta perawat lainnya sedang berusaha menenangkan!'
Begitu isi pesan singkat yang masuk melalui pesan singkat berwarna hijau, dari Rico.
Ros terhenyak, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, benar-benar tidak menyangka dengan keadaan Kayla yang baru saja ia ketahui melalui pesan singkat tersebut.
Ros terus menatap isi pesan tersebut. Lalu, dengan tangan gemetar, Ros menghubungi si pengirim pesan langsung memakai ponsel milik Rendy.
Nada sambungan sudah terdengar, tak lama suara orang yang mengangkat telepon dari balik sambungan telepon sudah terdengar jelas oleh Ros.
'Halo Tuan? Gawat! Nona masih mengamuk Tuan. Ia terus menjerit-jerit ketakutan. Nona juga menyebut-nyebut nama Tuan. Saya harap, Tuan bisa segera ke mari."
Ros masih terdiam menyimak apa lagi yang akan Rico katakan di balik sambungan telepon pada Ros yang di kira Rico adalah Tuannya.
'Minggir! Minggir kalian! Akan aku bunuh pria brengsek itu!'
Jeritan memilukan hati yang terdengar di balik sambungan telepon, yang keluar dari mulut Kayla, membuat Ros memejamkan mata. Dan saat mata-nya terbuka, bulir bening jatuh, dari mata membasahi pipinya yang putih dan bersih.
'Halo Tuan? Kenapa Anda diam saja? Nona Kayla hampir tidak terkontrol Tuan. Saya harap, Tuan bisa segera datang."
Rico kembali menjelaskan, dan berharap jika Rendy bisa segera datang untuk menenangkan Kayla yang semakin tak terkendali lagi.
Ros masih terdiam. Kembali mata-nya terpejam. Sampai hati Rendy tidak memberitahukan keadaan Kayla padanya. Padahal, Kayla juga sudah Ros anggap sebagai adiknya sendiri. Bahkan, dari jaman sekolah dulu, Ros dan Kayla merupakan teman dekat. Tapi, kenapa Rendy malah menyembunyikan keadaan Kayla yang sebenarnya pada Ros?
"Aku akan ke sana Rico. Kamu tenang saja!" dingin dan tegas suara Ros di balik sambungan telepon, membuat Rico yang berada di seberang sana terlonjak bukan main. Dirinya sudah banyak berkata. Ternyata, yang mengangkat telepon-nya bukanlah Rendy, melainkan istrinya. Berulang kali Rico mengecek ponselnya, memastikan jika yang ia hubungi adalah Rendy. Nomornya memang benar. Namun, yang mengangkat bukanlah Rendy.
__ADS_1
Rico mengerutuki dirinya sendiri. Mengapa ia bisa seceroboh ini? Harusnya, Rico memastikan dulu, jika yang menjawab telepon tersebut adalah Rendy, bukan Ros.
'Nyo-nyonya...' Rico tergagap.
"Katakan di mana Kayla di rawat?" tanya Ros masih dengan nada yang dingin.
Dengan terpaksa, Rico pun akhirnya memberitahu di mana Kayla di rawat. Ia juga menceritakan bagaimana keadaan Kayla saat ini pada Ros.
Sungguh Ros sangat terkejut. Ia baru mengetahui setelah beberapa hari ini, Kayla di rawat karena kasus KDRT yang di lakukan oleh Doni, suami Kayla sendiri.
Menutup sambungan telepon dengan perasaan bersalah. Ros adalah salah satu orang yang mendukung hubungan Kayla dengan Doni. Ia juga yang memberikan saran pada Rendy, agar suaminya itu mau membantu meringankan masalah keuangan Doni, beberapa bulan yang lalu.
Ros di hinggapi rasa bersalah pada Kayla. Ia sudah menjadi salah satu orang yang menghancurkan Kayla, tanpa ia sadari.
Wanita itu menangis dalam diam. Meratapi kecerobohannya. Dan saat Ros masih terdiam sambil menangis, Rendy datang dengan riang. Namun, riangnya wajah Rendy, berubah seketika, saat ia melihat Ros yang tengah terdiam dengan berlinang air mata.
Mata Ros tertuju menatap tajam ke arah-nya. Sangat menusuk, hingga Rendy jadi bingung sendiri.
"Sa-sayang? Kamu kenapa sayang?" tanya Rendy sembari mendekat ke arah Ros.
"Lepas?" Ros menyingkirkan tangan Rendy yang hendak memegang lengannya.
"Ke-kenapa? Kamu kenapa sayang? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rendy dengan raut wajah bingung. Ia belum menyadari kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat pada Ros.
"Kamu masih bertanya Kak?" ucap Ros sinis. Sebelah bibirnya tersungging ke atas. Pandangannya juga menatap lurus ke arah retina Rendy.
"A-apa maksud kamu sayang?" tanya Rendy masih belum paham.
__ADS_1
Ros semakin menyunggingkan senyumnya. "Hebat!" Ros bertepuk tangan. "Kamu memang hebat sayang... Bisa-bisanya kamu menyembunyikan keadaan Kayla yang sebenarnya dariku!"
Deg!
Rendy terdiam. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dari mana Ros tau? Pikirnya bertanya dalam hati.
"Kenapa kamu diam Kak? Apa aku salah bicara? Apa yang aku bicarakan ini salah? Siapa aku bagimu? Apa aku tak di anggap sama sekali oleh mu? Apa Kayla tidak penting bagiku? Katakan Kak? Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dariku?" segala pertanyaan yang sedari tadi menumpuk di kepala Ros, tersampaikan juga pada Rendy, melalui sekali tarikan napasnya.
Rasa lega juga curiga, menghinggapi Ros.
Rendy terpana dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Ros. Saking banyaknya, Rendy jadi bingung sendiri, harus menjawab yang mana dulu untuk menjawab pertanyaan Ros barusan?
"Sayang?" Rendy berusaha mendekati Ros. Namun, wanita itu menghindar, menjauh beberapa langkah dari Rendy.
"Jangan seperti ini sayang... Aku bisa menjelaskan!" ucap Rendy sambil menatap Ros dengan perasaan bersalah yang menghujami seluruh tubuhnya.
"Aku tidak membutuhkan penjelasannya sekarang Kak. Aku hanya ingin kamu mengantarkan aku menemui Kayla!" tegas dan dingin. Ros benar-benar membuat Rendy semakin bersalah.
"Tapi sayang..."
"Antar aku sekarang Kak!" Kembali Ros menegaskan ucapannya.
"Ba-baiklah..." Tidak ada pilihan lain, Rendy menyanggupi apa yang Ros inginkan. Mungkin dengan ini, Ros bisa memaafkan kesalahannya yang telah menyembunyikan keadaan Kayla yang sebenarnya dari-nya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tempat di mana Kayla di rawat. Suasana di dalam mobil begitu hening! Tidak ada satu pun yang mau dan berani memulai pembicaraan. Padahal, di dalam mobil terdapat tiga orang dewasa. Namun, semuanya sama-sama tak mau angkat bicara, apalagi Rendy. Pria itu terlalu takut untuk sekedar bertanya apakah Ros marah padanya atau tidak? Dan tentu saja, jawabannya pasti iya.
'*Ah, sial! Ros marah padaku! Kenapa aku bisa sampai ceroboh seperti tadi. Harusnya, aku tidak menyimpan ponselku sembarangan!' gumam Rendy dalam hati. Pria itu mengerutuki kebodohan-nya sendiri, yang ceroboh menyimpan ponsel di mana saja.
__ADS_1
"Aku bahkan, tidak berani menyentuhnya, walau hanya seujung jari kuku saja!" lanjut Rendy masih dalam hati.
Bersambung*...