
Setibanya Argana di tempat Mario dan Dafa menunggunya. Kedua orang itu langsung tersenyum senang telah melihat orang itu kembali dengan keadaan sehat dan tumbuh menjadi pria yang dewasa.
"Bro apa kabar?" tanya Mario memeluknya secara bergantian dengan Dafa.
"Baik seperti yang kalian lihat" jawab Argana senang.
"Syukurlah. Lalu bagaimana dengan Bagas? Dia baru saja memberitahu kami kalau ia berencana tidak akan kembali lagi ke kemari. Apa itu benar?".
Argana mendudukkan diri, ia lalu menyambar botol anggur tersebut menuang di dalam gelasnya.
"Dia juga berkata seperti itu kepada ku. Kalau memang dia akan tinggal disana sampai seterusnya, kita hanya bisa mendukungnya".
"Lalu bagaimana dengan kekasihnya itu?" tanya Dafa.
"Sepertinya mereka sudah putus" jawab Argana.
Mario tertawa, "Jangan bilang karna dia sudah putus dengan wanita itu dia tidak akan kembali lagi kemari?".
"Sepertinya" sahut Argana.
Kemudian ketiga orang itu bersenang-senang merayakan kembalinya seorang Argana.
"Terus, apa kamu akan selamanya disisi Ga?" Dafa menuang alkoholnya di dalam gelas.
"Aku berencana seperti itu" jawabnya.
Lalu Mario menatapnya, "Apa kamu sudah bertemu dengan Nita? Dia bekerja di perusahaan mu".
"Aku sudah bertemu dengannya".
Kedua orang itu tersenyum, "Kamu tidak merindukannya" tanya Mario kembali.
Argana tersenyum, "Kenapa kita harus membahas dia?".
"Sepertinya dia masih sangat mencintai mu Ga".
"Kamu tau dari mana?".
"Mmmmm.. Karna setiap kali aku berusaha mencoba untuk mendekatinya dia selalu menolak ku. Apa yang telah kamu lakukan sehingga wanita itu sangat mencintai mu".
"Kamu menyukainya?".
Mario tertawa, "Bisa dibilang Ga" jawabnya sedikit mulai merasa pusing. "Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu juga mencintainya?".
Dafa pun melirik ekspresi wajah tidak suka Argana, ia langsung bisa menebak kalau sebenarnya Argana menyukai wanita itu tapi ia tidak menyadari yang sebenarnya.
"Kenapa kamu tidak menjawab ku Ga?".
"Hentikan! Aku tidak ingin kamu menyebut nama itu disini".
"Kenapa Ga? Aku sangat menyukainya. Jika memang kamu tidak..
"Aku bilang hentikan Rio" potong Argana meremas gelas alkoholnya hingga pada akhirnya Dafa menghentikan mereka berdua yang sudah mulai mabuk.
"Sebaiknya kita membahas yang lain. Disini kita hanya ingin bersenang-senang" ucap Dafa.
Kemudian Argana mengusap wajahnya, ia lalu bangkit berdiri dari atas kursinya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Arga?" tanya Dafa.
"Aku ke toilet sebentar".
Argana berjalan meninggalkan mereka menuju toilet, namun nyatanya ia tidak memasuki toilet tersebut. Argana malah berjalan menuju taman yang berada disana sambil mengeluarkan sebatang rokoknya.
"Saya ingin duduk disini. Bisakah kalian pergi?" tanya Argana kepada beberapa pelayan sedang istirahat disana.
"Iya tuan silahkan" jawab mereka.
Argana lalu mendudukkan diri diatas kursi itu, ia lalu menikmati rokoknya dengan pikiran kosong menatap kearah langit yang begitu sangat cerah dipenuhi oleh cahaya bintang.
"Apa yang baru saja aku lakukan?".
Argana kemudian tertawa, ia tidak menyangka kalau Mario memiliki perasaan terhadap Nita wanita yang selama ini tidak ia sukai.
Namun ia merasa aneh, kenapa saat Mario mengatakan kalau ia menyukai Nita ia langsung merasa kesal dan marah.
"Ck, ada apa dengan ku?".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Argana mengeluarkan ponselnya, ia melihat panggilan tersebut berada dari Isabella sang nenek. "Iya nenek?" jawabnya.
"Kamu sedang dimana Arga?".
"Aku sedang di luar nek. Ada apa?".
Isabella lalu mendengar suara helaan nafas panjang Argana.
"Dengan siapa?".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Kamu sudah makan?".
Argana tersenyum, "Iya nek. Bagaimana dengan nenek?".
"Sebenarnya..
"Aku tau" potong Argana. "Aku tau Reysa pasti disana mendengar percakapan kita berdua nenek".
"Benar, dia berada di samping nenek. Katanya dia ingin bicara dengan mu. Haruskah nenek memberinya?".
Argana kembali mendengus, "Mmmmm" jawabnya.
Isabella pun memberikan ponselnya di tangan Reysa, "Hallo Ga! Ini aku Reysa. Apa kabar mu? Kamu baik-baik saja?".
Mendengar suara Reysa, ia tau kalau wanita yang dulu sangat ia cintai itu sedang menahan tangis.
"Aku baik-baik saja Rey. Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu juga baik-baik saja? Maaf yah kemarin aku belum sempat mengucapkan selama untuk mu".
Dan pada akhirnya Reysa pun menangis diseberang sana dengan tubuh bergetar.
"Jangan menangis Rey. Aku benar-benar tidak kuat mendengar mu menangis, aku mohon".
__ADS_1
"Hiks.. hiks.. Ga! Arga! Argana! Maafkan aku".
"Tidak apa-apa, mungkin ini sudah yang terbaik untuk kita berdua. Apa kamu bahagia? Aku harap kamu bahagia Rey".
"Tidak hiks.. hiks.. Tidak Ga, aku tidak akan pernah bahagia dengan pernikahan ku kecuali bersama mu Ga. Apa yang harus aku lakukan Ga? Aku tidak bisa melupakan mu, aku benar-benar tidak bisa melupakan mu hiks..".
"Aku juga Rey. Aku juga merasa apa yang kamu rasakan. Tapi sekarang kamu sudah milik orang lain Rey, belajarlah untuk melupakan aku".
"Tidak bisa Ga. Aku sudah berusaha untuk melupakan kamu tapi tetap saja aku tidak bisa Arga. Aku tidak bisa".
_
_
Argana lalu mematikan ponselnya, ia tiba bisa berlama-lama berbicara dengan Reysa karna itu akan membuat hatinya semakin hancur menerima kenyataan tersebut.
"Ternyata kamu disini Ga?".
Argana melihat Dafa.
"Kenapa? Apa perkataan Mario tadi menyakiti perasaan mu?".
Argana tersenyum, "Tidak" jawabnya bangkit berdiri. "Sepertinya aku harus kembali pulang, ini sudah jam 11 malam".
"Kamu yakin menyetir seperti ini dengan keadaan mabuk Ga? Kalau tidak aku akan memesan supir untuk mu".
"Aku masih bisa menyetir sendiri. Dimana Mario?".
"Ada di dalam, dia sudah mabuk sekali. Aku akan mengantarnya pulang. Kamu pulanglah duluan".
"Yasudah kalau gitu, aku pulan duluan".
"Iya, kamu hati-hati dijalan".
"Mmmmmm".
.
Sedangkan Reysa yang masih menangis di pelukan Isabella, ia merasa tidak berdaya dan sekujur tubuhnya sangat lemah.
"Ini sudah tengah malam, sebaiknya kamu kembali ke kamar mu" ucap Isabella menyuruhnya.
Namun Reysa yang masih menangis di pelukannya membuat Isabella semakin merasa tidak tega.
"Kalau kamu disini suami kamu nanti bisa marah Rey. Sepertinya dia sudah pulang, tidak baik seorang suami pulang kerja tidak menemukan istrinya di dalam kamar".
Lalu membantu Reysa melap air matanya, kemudian memperbaiki rambut panjangnya dengan tangan.
"Ayo sekarang kamu kembali ke kamar".
"Mmmmm" angguk Reysa.
"Jangan menangis lagi, suami kamu nanti curiga".
"Iya nek. Kalau gitu aku keluar".
"Iya".
__ADS_1
Sekeluarnya Reysa dari sana, Isabella kembali menarik nafas panjang tidak tega sekali melihat kerapuhan yang Reysa rasakan mengingat betapa saling mencintainya kedua orang itu. Tetapi takdir keduanya tidak bisa bersatu sehingga mereka harus melihat jalan masing-masing.
"Cepat atau lambat, nenek yakin kamu pasti bisa melupakan Argana. Nenek akan berdoa untuk mu".