
"Arga!! Aku mohon tolong dengarkan dulu penjelasan ku Ga. Aku mohon!!" Nita lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca kalau Argana tidak akan sudih melihatnya lagi yang sudah berani membohonginya.
Dan yang ada dalam pikiran Nita saat ini, ia yakin kalau selama ini Argana pasti berpikir kalau ia hanya memanfaatkannya. Tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu, ia benar-benar tulus mencintai Argana bukan karna harta yang ia miliki.
"Sekarang apa yang kamu inginkan dari ku?" tanya Argana.
"Hhhmmm?".
Nita mengusap wajahnya, "Ku mohon Ga. Jangan berpikir macam-macam tentang ku, aku tidak pernah mengharapkan lebih dari mu Ga. Yang aku inginkan hanya satu dari mu Argana, aku hanya ingin dicintai oleh mu, sisanya itu aku tidak pernah memikirkannya Argana. Aku mohon tolong maafkan aku hiks.. hiks...".
Nita menangis tanpa ia sadari kini Argana tidak berada di hadapannya lagi.
Lalu Mita menghampirinya kembali setelah ia melihat Nita seorang diri, "Siapa pria itu Nita? Kenapa kamu menangis seperti ini? Kamu mengenal pria tampan itu? Atau dia barusan menyakiti mu?".
Nita melihat Mita, "Dimana dia Mita?".
"Loh mana aku tau Nita. Aku kemari lagi karna tidak melihat siapa-siapa lagi disini selain kamu. Ada apa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?".
"Dia Argana yang selama ini aku ceritakan sama kamu Mita hiks..".
"Terus? Kenapa dia pergi begitu saja? Dan kenapa juga dia berada disini? Apa dia... Tunggu! Dari pakaiannya yang aku lihat tadi dia bukanlah orang biasa Nita dan kenapa juga dia berada di acara pernikahan orang terkaya di negara kita..
"Maaf jika aku tidak memberitahu kamu yang sebenarnya selama ini Mita. Argana anak orang kaya, dia putra dari pasangan suami istri tuan Lucas dan nyonya Marisa. Kamu tau group Asian?".
"Group Asian?".
"Mmmm.. Dia putra dari pemilik perusahaan itu Mita".
"OMG!!" Mita langsung menyentuh kedua lengannya merinding mendengar apa yang baru saja Nita ucapkan. "Jadi dia..
"Iya".
"Wah..!! Wah..!! Kamu sudah gila Nita, kamu benar-benar sudah gila Nita. Bagaimana bisa kamu mempermainkan anak dari pemilik Asian group? OMG..!! Aku benar-benar belum bisa mempercayai ini semua Nita".
"Maafkan aku Mita".
"Terus apa yang akan kamu lakukan? Sepertinya dia marah besar saat aku melihat ekspresi wajahnya tadi".
"Dia sangat marah sekali kepada ku Mita sampai dia tidak sudih lagi melihat ku karna selama ini aku sudah membohonginya".
__ADS_1
"Kamu sih.. Berani-beraninya mendekati pria seperti Argana. Harusnya kamu tau diri Nita kalau kamu dan dia itu bagaikan langit dan bumi yang tidak akan bisa bersatu".
"Kamu jahat sekali Mita" Nita menatapnya dengan kesal.
"Terus apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan kerumahnya minta maaf? Tapi apa kamu tau dimana rumahnya?".
"Aku tau dimana rumahnya Mita. Tapi kalau aku kesana..
"Sebaiknya tidak usah deh Nita. Aku takutnya nanti kedua orang tuanya tidak menerima mu, entar kamu jadi sakit hanya memikirkan itu atau kamu sudah mengenal kedua orang tuanya?".
"Aku belum mengenal kedua orang tuanya Mita. Itu juga yang aku takutkan kalau sampai orang tuanya tau kalau aku hanyalah orang miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi bagaimana dengan Argana?".
"Besok kan bisa Nita di kampus" jawab Mita.
"Apa kamu yakin Argana tidak akan memberitahu yang lainnya? Aku sangat takut sekali Mita. Aku takut kalau sampai satu kampus membuli ku".
"Hey... Jangan khawatir, aku yakin dia tidak akan pernah memberitahu yang lainnya. percaya kepada ku Nita".
"Benarkah?".
"Mmmmm.. Dia juga tidak mungkin setega itu memberitahu kepada mereka. Sekarang sebaiknya kita lanjut kerja lagi, entar kita ketahuan lama-lama disini".
_
_
Malam harinya Argana berada di sebuah klub seorang diri, ia sedang menikmati sebotol anggur di tambah Vodka tanpa perduli apa yang akan terjadi kepadanya.
Yang dia inginkan sekarang ini hanyalah ketengan tanpa seorang pun mengganggunya. Tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu, malahan seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan tersebut.
"Sedang apa kalian kemari? Aku ingin sendiri" ujar Argana melihat ketiga sahabatnya itu.
"Kamu pikir hanya kamu saja yang butuh minuman ini? Kami juga membutuhkannya" balas Bagas menuang di dalam gelasnya bersamaan dengan Mario dan Dafa.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dafa.
Argana menyeringai, "Apa menurut mu aku baik-baik saja?".
"Tidak" jawab Dafa. Lalu meneguk alkoholnya dengan sekali tegukan. "Jangan hanya karena satu wanita kamu jadi seperti ini Ga. Ada saatnya kamu melepaskan seorang wanita yang kamu cintai demi kebahagiaan dia".
__ADS_1
Argana pun tertawa mengejek melihat sang sahabat, "Apa sekarang kamu sudah menganggap ku gila?".
"Mmmmm" balas Dafa.
"Benar. Sekarang aku sudah benar-benar gila hanya karna dia. Tapi kamu tidak akan pernah mengerti sebelum kamu merasakan apa yang aku rasakan".
"Sebelum kamu merasakannya aku sudah terlebih dahulu melalui itu semua. Tapi lihatlah sekarang, aku mampu melewati ini dan kembali kepada diri ku yang semula".
Kemudian Mario dan Bagas membenarkan apa yang Dafa ucapkan. Dulu Dafa pernah merasakan apa yang Argana rasakan hingga ia pernah mencoba untuk bunuh diri, tetapi berkat Mario dan keluarga terdekatnya ia bisa bangkit kembali.
"Sekarang aku mau tanya. Apa kamu akan berlarut-larut dalam kesedihan ini?" ucap Dafa kembali.
"Ayolah bro. Jangan merasa terbebani seperti ini. Kamu harus bangkit dan segera melupakan Reysa, karna dia sudah bersama laki-laki pilihan orang tuanya. Yang perlu kamu lakukan sekarang ini, sadarlah dan buat keluarganya menyesal tidak memilih mu sebagai menantunya" Mario mencoba memberi nasihat, siapa tau Argana mau mendengarkan.
Lalu Argana kembali meneguk alkoholnya hanya dengan sekali tegukan saja. "Aku akan pergi meninggalkan negara ini".
"Apa?" kaget mereka.
"Mmmm.. Besok aku akan berangkat keluar negeri. Disana aku akan melanjutkan kuliah ku".
"Kamu serius Ga?" tanya Bagas. "Lalu bagaimana dengan.. Nita?".
"Lupakan gadis bodoh itu. Aku tidak ingin mendengar namanya" jawab Argana seketika kesal meremas gelas alkoholnya.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini Ga? Kamu yakin akan meninggalkan kampus?".
"Mmmmm.. Kalau aku masih disini aku akan terus-menerus memikirkan Reysa. Jalan satu-satunya aku harus pergi".
"Lalu, apa kamu akan meninggalkannya kita bertiga?" Mario seketika ber-raut wajah sedih menatapnya. "Jangan pergi Ga..
"Pergilah Ga jika dengan cara ini kamu bisa melupakannya" potong Dafa setuju begitu juga dengan Bagas.
"Aku setuju dengan Dafa Ga. Pergilah jika kamu benar-benar ingin pergi, secepat mungkin aku akan kesana menyusul mu" sambung Bagas.
"Mmmmm" senyumnya. "Terima kasih sudah memberi ku nasihat seperti ini".
"Jadi kamu benar-benar akan pergi Ga?" ulangi Mario bertanya.
"Ya".
__ADS_1