
Pagi-pagi sekali Nita berangkat ke kampus, ia lalu menunggu di depan gerbang kampus berharap ia bisa melihat mobil Argana masuk ke dalam sana. Namun yang di tunggu belum juga menunjukkan diri hingga jam kini jam telah menunjukkan pukul 9 pagi.
Kemudian Nita memutuskan menghubungi nomor Argana, tetapi balasan yang ia terima malah nomor yang ada tujuh berada di luar jangkauan atau nomor yang ada tujuh salah.
Nita meremas ponselnya, ia berpikir kalau Argana telah memblokir nomornya. Lalu ia mencoba menghubungi nomor ponsel Bagas.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....
Hingga pada akhirnya Bagas mengangkat ponselnya, "Iya Nita ada apa?" jawabnya.
"Syukurlah akhirnya kamu mengangkat ponsel mu juga Bagas. Argana dimana Bagas? Kenapa kalian berdua belum tiba di kampus? Ini sudah jam mata kuliah kita".
Bagas terdiam, ia lalu melirik kearah Argana yang sedang memesan tiket pesawat untuknya karna ia sedang tidak ingin menggunakan jet pribadi keluarganya.
"Ada apa Nita? Aku sedang mengantar Argana ke bandara".
"Apa?" kaget Nita. "Ma-maksud kamu apa Gas? Kenapa kamu mengantar Argana ke bandara? Emang dia mau kemana? Lalu bagaimana dengan kuliahnya?".
Kemudian Nita mendengar suara helaan nafas Bagas, "Ada apa Gas? Ayo beritahu aku. Argana mau kemana Bagas?" suara Nita langsung terdengar ingin menangis.
"Apa Argana tidak memberitahu mu Nita kalau dia akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri? Dan hari ini juga ia memutuskan berangkat".
"Apa?" dengan tubuh lemas Nita menjatuhkan buku yang ada dalam genggamannya di atas tanah. "Ka-kamu enggak lagi bercanda kan Bagas? Kamu benar-benar enggak lagi bercanda kan Bagas?".
"Aku mengatakan yang sebenarnya Nita kalau Argana akan segera berangkat" jawab Bagas mendengar suara Argana memanggil namanya. "Sudah dulu yah, sepertinya pesawat Argana akan segera berangkat".
Begitu Bagas mematikan ponselnya, dengan mata berkaca-kaca Nita melihat kebawah dengan pikiran tidak percaya kalau Argana semarah itu kepadanya.
"Tidak. Argana tidak boleh pergi sebelum aku minta maaf kepadanya. Aku harus ke bandara, iya aku harus bandara. Tolong tunggu aku Ga, tunggu aku Argana".
Nita memberhentikan taksi, ia lalu masuk kedalam memberitahu kepada si supir taksi untuk segera membawanya ke bendara dengan kecepatan tinggi karena ia sedang buru-buru harus segera tiba disana.
Dan dengan baiknya, si supir taksi mengiyakan apa yang baru saja Nita ucapakan hingga kini mereka telah tiba di bandara. Ia lalu turun, dan tidak lupa membayar upah taksinya dengan memberinya uang lebih.
"Terima kasih banyak nona" ucapnya menerima uang tersebut.
"Iya pak. Malahan saya yang seharusnya berterima kasih banyak telah membawa saya kemari dengan keadaan selamat".
"Iya nona".
__ADS_1
Nita keluar dari dalam taksi, ia sedikit berlari menuju ke dalam bandara mencari keberadaan Argana dan Bagas. Namun setelah hampir 30 menit lamanya ia mencari keberadaan kedua orang itu, ia tak kunjung belum menemukannya.
"Kamu dimana Argana? Aku mohon tolong dengarkan dulu penjelasan ku sebelum kamu pergi meninggalkan aku. Aku mohon Argana hiks.. hiks".
Tidak sampai disana, Nita kembali mencari keberadaan mereka. Tetapi lagi-lagi ia tidak menemukannya hingga kini ia sudah merasa lelah. Lalu ia mendudukkan diri disalah satu kursi disana, dengan air mata menetes Nita merasa sangat hancur dan bodoh telah berani membohongi Argana selama ini.
"Apa yang harus aku lakukan Arga? Semarah inikah kamu kepada ku? Tolong jangan tinggalkan aku Arga hiks.. Aku tidak ingin kamu membenci ku seperti ini Ga. Aku mohon tolong dengarkan dulu penjelasan aku Ga".
_
_
5 Tahun kemudian.
Setelah lulus kuliah, Nita menjatuhkan beberapa surat lamaran di semua perusahaan terbesar di Indonesia dan berharap salah satunya akan menerimanya.
Sangat bersyukur sekali, akhirnya salah satu perusahaan itu berhasil menerimanya bekerja disana sebagai staf administrasi di perusahaan Asian group perusahaan yang ia ketahui selama ini adalah perusahaan orang tua Argana.
Dan meskipun sekarang Nita telah melihat wujud asli orang tuanya secara langsung, ia tidak berani berkata kalau ia dan Argana pernah berteman dekat. Ia tetap pada dirinya sebagai mana ia dan Argana tidak pernah menjalin hubungan.
Setelah ia keluar dari dalam ruangan Lucas, Nita lalu berjalan di ujung lorong sana dengan tubuh lesu menatap kearah perkotaan.
"Tentu saja sekarang Argana sudah memiliki kekasih" Nita lalu menghela nafas berat memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. "Siapa pun wanita itu, beruntung sekali dia bisa mendapatkan Argana".
Kemudian Nita mendengar namanya di panggil dari belakang, "Ada apa Nella?".
"Sedang apa kamu disini? Dari tadi Bu Riska mencari mu. Ayo" jawab Nella berjalan duluan.
Nita pun segera mengikuti langkah kaki Nella dari belakang. Di dalam ruangan Administrasi ia melihat semua anggota team Bu Riska telah berkumpul disana kecuali dirinya dan Nella.
"Kamu dari mana saja Nita? Kamu tidak dengar kalau saya tadi menyuruh kalian berkumpul jam 2 siang?".
"Maaf Bu tadi saya lupa".
"Kebiasaan kalian semua tidak mendengarkan apa yang saya katakan. Mulai besok tolong di tingkat kedisiplinannya, bisa dilakukan?".
"Bisa Bu" jawab mereka.
__ADS_1
"Terima kasih. Disini saya ingin memberitahu kalian semua kalau besok kita kedatangan direktur baru".
"Loh.. Kenapa Bu? Lalu direktur lama kita?".
"Saya juga kurang tau. Tapi yang saya dengar direktur lama kita akan di mutasikan ke luar kota yang ada di kota xx".
"Oh" angguk mereka.
"Dan yang saya dengar direktur baru kita ini masih muda dan juga beliau katanya sangat tegas dalam pekerjaan. Saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik supaya kita semua aman. Bisakan?".
"Bisa Bu. Tapi...
"Tapi apa?" tanya si manager yang tak lain senior Riska saat salah satunya bertanya. "Apa yang ingin kamu tanyakan Ranu?".
"Tidak jadi Bu. Semoga kita semua tidak akan pernah terkena masalah dengannya" jawab Ranu memperhatikan satu persatu kelompoknya. "Yah kamu Nita, jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang seperti ini lagi".
"Iya" angguk Nita.
"Ya sudah. Kalian bisa kembali bekerja. Terima kasih sudah mau mendengarkan nasihat saya".
"Iya Bu" jawab mereka.
Lalu mereka semua kembali keatas kursi masing-masing, namun sebagiannya itu malah asik membahas seperti apa sih wujud rupa direktur baru mereka itu.
"Nita!" panggil Nella.
Nita menoleh, "Kenapa Nella?".
"Kamu juga penasaran kan seperti apa wajah direktur baru kita nanti?".
"Tidak" jawab Nita.
"Apa?".
"Mmmmm".
"Kamu yakin benar-benar tidak penasaran dengan wajah direktur baru kita nanti?".
"Iya. Emang kenapa? Kok kalian malah asik membahasnya sih? Kalian enggak ingat apa yang tadi Bu Riska katakan?".
__ADS_1
"Aisss" Nella pun langsung terlihat kesal kembali fokus dengan pekerjaannya.