
Rendy masuk kembali kedalam kamar hotelnya, melihat istrinya yang masih tertidur pun, Rendy tak tega untuk mengganggu apalagi untuk membangunkan Ros yang masih terlelap dalam mimpinya.
Hingga akhirnya, Rendy memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya.
------
"Bagaimana keadaan pasien bernama Ferro pasca operasi dok?" tanya seorang polisi.
"Pasien sudah mulai membaik pak, semoga saja, secepatnya bisa segera siuman!" jawab dokter yang menangani Ferro.
Setelah terjadinya aksi tembakan yang dilakukan Ros pada Ferro, Ferro langsung dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa anggota polisi, Ferro langsung mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit.
Sedangkan para anak buah Ferro, mereka lebih memilih melenyapkan diri mereka sendiri dengan meminum pil khusus yang sudah mereka simpan dalam saku baju mereka, dari pada harus mendekam di penjara dan membuka mulut mereka pada polisi.
Hingga polisi tak mampu mencari informasi dari para bawahan Ferro.
Dan untuk sosok pria paruh baya yang identitasnya masih misterius dan belum diketahui, orang itu ditangan khusus oleh Surya sendiri.
Surya masih mencari tahu, siapakah sosok pria paruh baya yang sudah sangat merepotkan nya itu.
Pagi pun menjelang, Ros mulai terbangun, ia meregangkan kedua tangannya sambil menguap, menikmati tubuhnya yang terasa segar setelah tertidur dengan begitu lamanya, hingga ia lupa akan suaminya sendiri.
Saat Ros masih merentangkan kedua tangannya, tiba tiba sosok suara yang sangat dikenalnya terdengar jelas ditelinga Ros.
"Pagi?" sapa Rendy yang tengah asik memandangi Ros yang baru terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Ros begitu terkejut, ia lupa jika dirinya sekarang sudah bersuami.
"Hah! Aaaaaaa..." Ros berteriak, namun teriakannya tak bertahan lama, karena Rendy langsung mendekati Ros, lalu membungkam mulutnya dengan ciuman pagi yang mendadak.
Ros membulatkan matanya, tak bisa berkata apa apa lagi, apalagi mengeluarkan suaranya untuk berteriak, saat tiba tiba saja Rendy membungkam mulutnya dengan ciuman.
Ciuman pagi yang awalnya mendadak, berubah menjadi ciuman panas, karena Rendy enggan untuk melepaskan bibirnya dari bibir sang istri.
Rendy meraih tengkuk leher Ros, memperdalam ciumannya, dalam dan semakin dalam, menyusuri setiap rongga mulut sang istri.
Hingga, Rendy melepaskan sejenak ciumannya dan berbisik pelan ditelinga Ros.
"Aku sudah menahannya dari sejak hari pernikahan kita, akan ku buat kau merintih kesakitan, bahkan jika kau berteriak dan memohon pun, aku tak akan melepaskannya," bisik Rendy yang membuat Ros seketika menjadi tegang.
"Boleh aku meminta hak ku?" pinta Rendy kemudian, yang penuh harap.
"Sayang?" panggil Rendy karena Ros tak merespon pertanyaannya.
"Sayang?" panggil Rendy lagi sambil menyentuh pundak sang istri, agar ia tersadar.
Dan sentuhan Rendy benar benar membuatnya sadar dari lamunannya.
"I-iya... A-apa" jawab Ros gelagapan, ia pun malah balik bertanya pada suaminya.
"Kau tidak mendengar ucapanku?" tanya Rendy.
__ADS_1
Ros menggelengkan kepalanya.
"Huh!" Rendy menghela napas beras, raut wajahnya mulai berubah.
"Apa yang kak Rendy tanyakan padaku?" tanya Ros karena ia benar benar tak mendengarkan ucapan Rendy.
"Sudahlah, lupakan saja!" ujar Rendy yang langsung terbangun dan hendak pergi dari ranjangnya.
Namun belum sempat Rendy bangkit, Ros menahan tangannya begitu erat, membuat Rendy tersenyum menyeringai.
Namun Rendy tak memperlihatkan senyumannya yang penuh arti itu pada sang istri, ia ingin istrinya itu sedikit mengerti tentang apa yang Rendy inginkan.
"Kenapa kak Rendy marah? apa salahku?" tanya Ros yang benar benar tidak mengerti.
Rendy tak menjawab, ia terdiam seribu bahasa, wajahnya ia tekuk se dramatis mungkin dihadapan istrinya.
"Kenapa wajah kak Rendy begitu jelek? aku malas melihatnya!" goda Ros, membuat Rendy yang tadinya hendak merajuk, malah kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri.
"Apa yang baru saja kau katakan hah?" tanya Rendy sambil memeluk pinggang sang istri begitu erat.
Tubuh mereka begitu dekat, hingga tak menyisakan celah sedikitpun, hanya wajah mereka saja yang masih sedikit berjarak, hingga Rendy mendekatkan hidungnya dengan hidung mancung milik Ros, membuat kedua hidung itu saling bersentuhan.
"Kau mengatai ku apa barusan hah!" tanya Rendy lagi, membuat Ros lagi lagi tak bisa berkata apa-apa.
Kembali Rendy berbisik di telinganya, "akan ku buat kau merintih kesakitan pagi ini."
__ADS_1
Rendy kembali menyeringai setelah mengatakan sesuatu ditelinga istrinya itu, yang lagi lagi terdiam membisu.
Bersambung...