
"Tidak pantas seorang nyonya meminta maaf pada bawahan nya nyonya!" Eva menggenggam tangan Ros yang menyentuh tangannya.
"Kenapa? Karena kau tidak mau memaafkan ku?" Ros menatap Eva dalam.
"Tidak nyonya, bukan begitu!" Eva gelagapan menjawab ucapan Ros, "maksud saya..., Emh..., maksud saya!" bingung Eva menjelaskannya.
"Saya mengerti Eva, dengan apa yang kamu maksud. Tapi saya bersalah, dan saya benar-benar meminta maaf, karena saya menyesali semua perbuatan saya. Kecemburuan saya yang tanpa alasan, membuat saya bodoh dan tidak bisa mengontrol diri sendiri," Ros menjelaskan dengan perasaan menyesal.
"Sudahlah sayang! tidak perlu seperti itu Aku senang jika kau cemburu seperti itu kepadaku," Rendy merangkul bahu Ros, "apa kamu tahu? Kamu terlihat ribuan kaki lebih menggemaskan saat kamu cemburu seperti itu!" Rendy terkekeh saat menjelaskannya, ia juga mengedipkan sebelah matanya dengan nakal, membuat Ros tersenyum seketika. Perasaan malu, namun juga terharu dan bahagia, sedang Ros rasakan saat ini.
"Benar nyonya, anda tidak perlu seperti itu. Karena saya sama sekali tidak mempermasalahkan semua yang telah terjadi tadi. Saya benar-benar memaklumi, dan saja juga sudah memaafkannya," ujar Eva membuat Ros lega.
"Terima kasih Eva, dan maafkan saya!" Ros memeluk tubuh Eva, dan keduanya kini tengah berpelukan.
Ekhem!
Rendy berdehem, walaupun tenggorokan nya baik baik saja, namun entah mengapa Rendy rasanya ingin berdehem , mengeluarkan suara indahnya untuk mengingatkan seseorang agar seseorang tersebut tidak bertindak di luar batas.
Dengan gerakan cepat, Ros mengakhiri pelukannya dengan Eva, ia berhambur memeluk Rendy, sang suami yang tidak suka jika istrinya memeluk orang lain, walaupun orang lain itu adalah seorang wanita.
"Anak pintar!" ujar Rendy sambil mengacak rambut Ros, setelah Ros beralih memeluknya.
"Cih! mulai lagi!" semua orang yang ada disana kompak mengatakan hal yang sama kepada Ros dan Rendy. Hingga tanpa terasa, mereka sudah lama berada di sana, dan harus kembali ke tempat mereka bekerja masing-masing.
Cup!
Rendy mengecup kening Ros dengan rasa sayang.
"Kamu yakin tidak mau ikut denganku ke kantorku?" tanya Rendy memastikan kembali.
"Iya sayang! aku akan ke rumah mama Maya bersama Herman setelah ini!" jawab Ros.
"Huh! padahal aku ingin sekali kamu bisa menemaniku bekerja di kantor barang sejenak!" wajah Rendy memelas, ia berharap rencana nya akan sukses dan berhasil.
Ros tampak menimbang-nimbang semua ucapan Rendy. Tidak ada salahnya jika ia menemani Rendy terlebih dahulu sebelum ia pergi ke rumah mamahnya. Pikir Ros.
"Baiklah kak! aku akan ikut bersamamu ke kantor!" dan Yeay rencana Rendy berhasil. Akhirnya Ros mau juga mengikuti dan menuruti ucapan Rendy.
__ADS_1
"Serius sayang? kau mau ikut denganku, ke kantorku?" tanya Rendy lagi memastikan. Namun dengan segera ia membukakan pintu nya agar Ros tidak berubah pikiran.
"Eva, saya akan berangkat ke kantor bersama dengan istri saya!" ujar Rendy.
"Tentu tuan! s kita menyenangkan duduk berdua satu mobil bersama istri anda!" Eva terkekeh saat mengucapkan kalimat itu untuk Rendy. Dan Ros yang melihat serta mendengar ucapan Eva pun tertawa dengan suasana hati yang gembira.
"Maafkan aku Eva, aku benar-benar menyesal, ternyata kau sangat baik! kau mendukung hubungan kuvdebgab suamiku!" gumam Ros lirih.
"Tidak usah terlalu di pikiran nyonya, semuanya sudah berlalu," ujar Herman yang ternyata mendengar semua yang Ros katakan barusan.
"Terima kasih Herman!" Ros tersenyum ke arah Herman, dan Herman hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada hal saya menantikan saat nyonya akan menghajar tuan tadi!" ujar Herman kemudian.
Ros tergelak mendengar semua penuturan Herman yang baru saja ia dengar.
"Apa yang sedang kalian obrolkan?" Rendy tiba-tiba saja datang dan masuk, langsung menanyakan sesuatu. Membuat Ros serta Herman begitu terkejut, karena kedatangan nya yang tiba-tiba.
"Sayang..., Kamu mengagetkan ku!" protes Ros.
"Benarkah? memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Rendy lagi.
"Begitu ya?" Rendy membawa Ros dalam dekapannya. Di ciumnya kepala Ros dan keningnya dengan gemas, sesekali Rendy menghirup aroma rambut Ros yang harum, seharum bunga.
"Rambutmu wangi sekali!" Rendy terus menghirup aroma dan menciumi rambut Ros. Hingga Ros geli di buatnya.
"Hentikan kak!" Ros sedikit memberontak.
"Kenapa? aku sangat menyukai wangi rambutmu ini!" ujar Rendy.
"Apakah se wangi itu?" balas Ros dengan bertahta pada dirinya sendiri. Dan Ros pun dengan sengaja, mencium rambutnya yang sudah mulai panjang, setelah ia piring sesaat sebelum acara lamaran dulu.
"Hmmm..., Kamu bisa membuktikannya sendiri!" balas Rendy. Dan Ros sudah membuktikannya, bahwa yang dikatakan Rendy memang benar. Rambutnya begitu wangi, bahkan sangat wangi saat indera penciuman Ros mulai menyentuh rambutnya sendiri.
"Mau mencium wangi rambutku?" Rendy merendahkan kepalanya, sejajar dengan wajah Ros. Agar Ros langsung mau mencium bau harus rambutnya juga.
"Rambutmu tak kalah wangi dari rambutku kak;" ujar Ros setelah ia mencium rambut Rendy.
__ADS_1
"Benarkah?" Rendy bertanya seolah ia tidak percaya.
"Heem, rambutmu bahkan jauh lebih wangi dari rambutku!" jawab Ros dengan jujur.
"Kamu tidak usah membual sayang! Rambutmu lah yang paling wangi. Rambutmu yang paling harus dan lembut, tidak ada yang lain!" ujar Rendy, terdengar tidak nyambung sama sekali.
"Kak Rendy! Suamiku tercinta! Apaan sih! kamu selalu membuat merasa menjadi wanita yang paling istimewa!" batin Ros.
"Apa-apaan tuan Rendy ini! menggelikan sekali aku mendengarnya. Bisa bisanya tuan berdebat hanya karena rambut. Dan anda juga tidak mau dibantah karena nyonya mengatakan jika rambut tuan jauh lebih wangi dari pada wajahnya," batin Ros.
"Aku tidak membual sayang! semua yang aku katakan adalah sebuah kebenaran!" jawab Ros dengan raut wajah yang serius namun terlihat sangat cantik. Hingga Rendy terbuai dan langsung menciumi semua bagian wajah Ros termasuk bibirnya.
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Begitu banyak kecupan yang Rendy berikan kepada Ros, hingga Ros merasakan geli, namun hatinya berbinar.
"Hentikan kak! aku merasa geli!"
"Tidak mau!" jawab Rendy singkat.
Pasrah! hanya pasrah yang bisa Ros lakukan saat ini, agar Rendy senang dan ia tenang.
Bersambung...
Hai hai, selamat dini hari semuanya...😘 Buat yang udah like, komen, dan yang udah baca marathon ceritanya kak Ros sama kak Rendy, makasih banyak ya...,😍 aku padamuuuuu🌹
Ketemu lagi sama otor Fitria Su. Kepanjangan dari Sulaeman.
Oh ya..., kalian boleh panggil aku Fit, Fitri, Fitria, kalau temen Deket aku panggilnya Upit 😑 jangan tanya kenapa ya? soalnya aku juga gak tahu 😭 Kalian boleh panggil aku dengan panggilan apapun, asal jangan panggil aku dengan sebutan Sule atau Eman🤣
__ADS_1
Fix itu gak enak banget kedengarannya 🤣🤣🤣