
"Apa istriku ini ingin melihat sesuatu yang lebih kekar dari tangan suamimu ini?" bisik Rendy membuat Ros membulatkan matanya.
Ros memukul lengan Rendy saat mendengar apa yang Rendy bisikkan barusan.
"Aww..." jerit Rendy, padahal Ros memukulnya sangat pelan.
"Kenapa memukulku sayang?" tanya Rendy.
"Aku bahkan ingin menggigitmu," ketus Ros.
"Istriku yang cantik ini mau menggigitku disebelah mana dan bagian mana? suamimu ini dengan senang hati akan menyerahkan tubuhnya untuk sang istri menggigitnya," ujar Rendy sambil terkekeh.
Ros kembali memukul dan mencubit perut Rendy.
"Bisa bisanya membisikkan sesuatu yang sangat intim ditempat seperti ini," ujar Ros, membuat Rendy tertawa, tepat di sebelah telinga Ros, walaupun kali ini, cubitan Ros cukup keras diperutnya, namun itu membuat Rendy semakin menegang.
"Kenapa? disini bahkan sangat sepi!" ujar Rendy yang mulai mencium bahu Ros yang terbuka.
"Tapi ini diluar sayang," ujar Ros, menolak secara halus.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke hotel," ajak Rendy yang benar benar sudah tidak sabar.
"Kita bahkan belum menghabiskan makan malam kita," ujar Ros yang kembali menyantap makan malamnya, walaupun Rendy sudah mulai tak bisa diam dengan tangannya yang mulai menyusuri lekuk tubuh Ros.
Plakkk!
Ros memukul lengan Rendy cukup keras, hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Apa tangan suamiku ini tidak bisa dikondisikan?" kesal Ros, karena Rendy mengganggu makan malamnya.
"Iya, iya, maafkan suamimu ini! aku berjanji tidak akan mengganggu istriku yang sedang makan ini!" ucap Rendy kesal, yang kembali ke tempat duduknya dan kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda karena Rendy terus menggoda Ros.
Ros tak menghiraukan ucapan Rendy, Ros terus melahap makanannya, sesekali melirik Rendy yang makan dengan wajah yang kusut.
Ingin rasanya Ros tertawa, namun takut jika tawanya itu menyakiti Rendy. Hingga akhirnya, Ros pun menahannya dengan susah payah.
"Lepaskan saja! aku tahu istriku yang cantik ini sedang menertawai ku dalam hati kan?" ujar Rendy yang mengetahui apa yang sedang Ros rasakan.
Hahaha...
Tawa pun meledak, Ros benar benar tidak bisa menahan tawanya. Ros meluapkan semua yang ia pendam dalam hatinya untuk menertawai Rendy.
"Sudah puas!" ujar Rendy yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Ros lagi.
"Haha, belum!" jawab Ros.
__ADS_1
Rendy pun menggelitik Ros dari belakang, membuat Ros tak mampu menahan tawanya kembali.
Hahahaha ...
Tawa Ros semakin menjadi-jadi, Rendy sangat gemas dibuat Ros.
"Hen-ti-kan, haha, aku minta maaf! aku mohon, ampun!" ujar Ros yang sudah tidak kuat lagi tertawa.
"Berjanjilah untuk tidak meledek dan mengacuhkan ku lagi, baru aku akan menghentikannya," ujar Rendy, masih dengan posisi tangan diperut Ros.
"Iya, iya, aku berjanji," jawab Ros secepat kilat.
Rendy pun menghentikan aktivitasnya menggelitiki Ros.
Ia kembali ke tempat duduknya dan melahap kembali makanan dihadapannya.
"Aku kan sudah meminta maaf, jangan ditekuk terus wajah tampan mu itu, nanti menjadi jelek, aku tidak mau melihat wajah jelek mu itu lagi," ujar Ros yang kembali mengundang Rendy untuk membulatkan matanya ke arah Ros.
Melihat Rendy yang kembali melototkan matanya, Ros pun dengan cepat menghampirinya.
Ros melakukan apa yang Rendy lakukan tadi padanya. Ros meletakkan dagunya di bahu kekar Rendy, menyandar dengan penuh kenyamanan dan kehangatan. Memejamkan matanya, menghirup aroma parfum dan menikmati wanginya.
Ros benar benar terhipnotis dengan aroma tubuh Rendy yang memabukkan.
Membuat Ros ingin terus merasakan aroma itu.
"Kau menggoda ku?" ucap Rendy yang mengecup pipi Ros yang berada disebelahnya.
"Hmmm, anggap saja seperti itu," jawab Ros, membuat Rendy yang kini melebarkan senyumnya.
Setelah berhasil membuat Rendy kembali tersenyum lebar, Ros kembali ke tempat duduknya, namun, saat Ros hendak kembali, Rendy menangkap tangan Ros, hingga menghentikan langkah Ros.
"Bisakah kita kembali ke hotel saja sekarang? rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk melahap mu malam ini!" ujar Rendy.
Ros pun tertawa dan mendekati Rendy kembal.
Rendy kira, Ros akan mencium atau memeluknya, tapi ternyata, Ros membisikkan sesuatu padanya.
Membuat Rendy sedikit kecewa, namun kembali tersenyum saat mendengar apa yang Ros bisikkan padanya.
"Setelah makan malam selesai, kita akan segera kembali ke hotel," bisik Ros begitu lembut, menyihir pendengaran Rendy hingga Rendy merasakan sesuatu menegang di bawah sana.
Ros kembali duduk setelah bisikan nya berhasil membuat Rendy diam terpaku ditempat duduknya.
Beberapa detik berlalu, hingga Rendy kembali sadar dan dengan cepat ia menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Sendok dan garpu beradu dengan piring, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
"Pelan pelan sayang, kau bisa tersedak nan- -
Uhuk! uhuk! uhuk!
Belum selesai Ros bicara, Rendy sudah terbatuk-batuk karena tersedak makanan.
Dengan cepat Ros menghampiri Rendy, menyodorkan segelas air putih dan menepuk nepuk pelan punggung Rendy.
Rendy pun mengambil gelas berisikan air putih itu lalu meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Terima kasih sayang, uhuk! uhuk!" ucap Rendy.
"Aku baru saja akan mengatakannya, pelan pelan saja makannya, nanti kak Rendy bisa tersedak," ucap Ros mendengus kesal.
"iya, iya, maafkan aku, aku akan pelan pelan makannya," jawab Rendy lembut, mengalah karena bersalah.
Lagi lagi, Ros kembali ke tempat duduknya, namun kali ini berbeda.
Ros mengambil kursinya dan mendekatkan kursinya dengan kursi Rendy, lalu Ros pun terduduk di sebelah Rendy dengan kursi yang sudah berdekatan.
Ros mengambil alih sendok dan garpu yang akan dipegang oleh Rendy, mulai menyuapi Rendy sedikit demi sedikit kedalam mulutnya.
"Aaa..., buka mulutmu," ucap Ros dengan membukakan mulutnya agar Rendy mengikuti gerakannya.
Rendy pun membuka mulutnya dengan perasaan bahagia, sesendok makanan telah meluncur di mulutnya.
Rendy mengunyah makanan dengan penuh perasaan, tidak menyangka jika Ros rela menghentikan makannya demi menyuapi Rendy.
"Habis..., apa mau tambah lagi?" ucap Ros menawari Rendy.
"Sudah cukup!- - ucap Rendy yang kini mengambil piring milik Ros, - -sekarang, giliran aku yang menyuapi istriku makan."
Ros mengernyit, namun ada perasaan senang dalam hatinya.
"Ayo sayang, buka mulutmu!" ujar Rendy dan Ros pun membuka mulutnya.
Sesuap demi sesuap makanan telah masuk kedalam mulut Ros. Ros menikmati setiap suapan yang Rendy berikan padanya. Hingga makanan pun habis, kedua makanan dalam piring milik Ros dan Rendy sudah habis, tak menyisakan sedikitpun sisa diatasnya.
"Apa masih kurang? mau tambah lagi? apa mau memakan sesuatu yang lain?" tanya Rendy beruntun, membuat Ros bingung harus menjawab apa.
"Sudah, sudah, aku sudah kenyang, dan ingin kembali ke kamar kita,! jawab Ros yang membuat Rendy senang bukan main.
Inilah yang aku tunggu-tunggu dari tadi.
__ADS_1
batin Rendy menyeringai.
Bersambung...