
"Bodoh! Sudah hampir dua minggu kau masuk ke dalam kehidupan mereka, tapi kau masih belum bisa juga menghancurkan rumah tangga Ros dan Rendy!" ujar seorang pria dengan wajah berangnya. Ia menatap marah pada seorang wanita yang ia suruh untuk menghancurkan rumah tangga Ros dan Rendy.
"Maafkan saya Tuan. Rendy dan Herman, benar-benar tidak membiarkan saya masuk lebih dekat lagi pada Ros!" jawab di wanita itu membela diri.
"Bodoh!" hardik si pria yang dipanggil Tuan.
"Maafkan saya Tuan!" Berkali kali meminta maaf, semoga saja dapat membuat sang Tuan memaafkan kegagalannya.
"Kau harusnya dekati Rendy. Bukan mendekati Ros," pria itu semakin geram. Susah payah ia menyewa seorang wanita cantik untuk menghancurkan rumah tangga Ros dan Rendy. Namun, masih saja belum berhasil.
"Akan saya laksanakan Tuan!"
"Harus! Dan kalau sampai kau gagal lagi aku pastikan kau akan mendapatkan hal yang tak kau pikirkan sebelumnya sama sekali," pria itu berkata seraya membelai lembut, pipi wanita suruhannya dengan sebuah pisau tajam yang siap merobek serta merusak kulit wajahnya dengan sekali gerakan saja.
'Glek!'
Wanita itu menelan ludah dengan susah payah.
"Beri saya kesempatan Tuan. Akan saya laksanakan tugas dari Tuan dengan baik, sesuai rencana," ujar wanita itu. Menatap takut dan ngeri pada sebuah pisau tajam yang membelai lembut pipinya.
"Ingat. Satu kali kesempatan-- Aku hanya memberikan dirimu satu kesempatan saja. Dan jika kau gagal... Kau tahu 'kan, apa yang bisa aku lakukan padamu, Anita!" seringai kecil itu membuat si wanita suruhan yang tak lain adalah Anita, bergidik ngeri.
"Saya mengerti Tuan!"
...***...
"Siang Mas ganteng? Mbak Ros!" sapa Anto, saat Ros dan Rendy selesai menemui klien siang ini.
"Siang Anto," balas Ros ramah. Sedangkan Rendy, pria itu hanya menatap wajah Anto sekilas. Lalu, mengalihkan kembali pandangannya pada sang istri yang cantik jelita nan mempesona.
"Sombongnya Mas ganteng ini," gerutu Anto.
"Apa aku mengenalmu?" tanya Rendy tampak serius.
"Ish..." Anto memberengut sebal. Pria kemayu itu langsung meninggalkan Rendy dengan memalingkan wajahnya. Berjalan keluar setelah berpamitan kepada Ros.
"Eh, Anto kenapa?" tanya Mila yang baru saja datang.
__ADS_1
"Entahlah!" jawab Nina yang berada di sampingnya.
"Eh, siang Ros, Ren," sapa Mila dan Nina nyaris bersamaan.
"Siang... Bagaimana kabar kalian?" tanya Ros antusias.
"Baik Ros. Apalagi setelah kami melihat wajahmu. Kami semakin baik," Mila memeluk tubuh Ros, di susul oleh Nina yang juga memeluk Ros dan Nina. Ketiganya saling berpelukan seakan sudah tak bertemu beberapa tahun lamanya.
Di tengah acara haru, melepas rindu dengan saling berpelukan. Rendy langsung melepas pelukan Mila dan Nina dari tubuh sang istri.
"Sudaaaaah... Lepas! Kalian bisa membuat istriku yang cantik ini terkena asma, karena kalian memeluknya terlalu erat," ujar Rendy yang terus berusaha melepaskan Mila dan Nina dari Ros.
"Ya ampun Ros, aku tidak menyangka, suamimu ternyata semakin posesif saja," keluh Mila yang masih belum puas memeluk sahabatnya.
"Aku harap kau bisa lebih bersabar lagi ya Ros," sambung Nina.
"Bersabar kenapa?" tanya Rendy sengit.
"Bersabar menghadapi suami seperti dirimu," jawab Mila yang disusul dengan tawa keras dari mulut Nina, dan tawa kecil dari bibir Ros.
"Kurang a..." belum selesai Rendy berucap. Mila dan Nina sudah lebih dulu melarikan diri dari hadapannya dan Ros.
"Benar, istirahatlah dan coba tenangkan suamimu, agar ia bersikap sedikit lebih manis. Ok!" teriak Nina yang tak mau kalah dari Mila. Keduanya sama-sama saling terkekeh setelah berhasil membuat Rendy kesal.
"Awas ya, kalian!" gerutu Rendy.
"Sudahlah Kak. Mereka hanya bercanda!" Ros menggandeng tangan Rendy manja. Membawanya menuju lift, ya g pintunya baru saja terbuka.
Baru saja Ros dan Rendy hendak melangkah masuk. Langkah mereka terhenti karena seorang wanita tengah terburu-buru berlari menuju lift yang akan Ros dan Rendy pakai.
"Anita..." panggil Ros lembut.
"Mbak Ros. Tuan!" ekspresi wajah kaget Anita membuat Rendy menyipitkan mata dan bertanya-tanya.
'Kenapa harus selalu kebetulan bertemu dengan wanita ini?' tanya Rendy dalam hati.
"Kenapa terburu-buru sekali Anita?" tanya Ros sebelum melangkah masuk.
__ADS_1
"Maaf Mbak, handphone saya ketinggalan di atas," jawab Anita sambil menundukkan kepalanya.
"Handphone? Di atas?" heran Rendy.
"Iya Tuan," jawab Anita yang tak berani menatap wajah Ros dan Rendy.
"Ko bisa?" tanya Rendy lagi. Ia benar-benar ingin tahu alasan Anita yang sebenarnya.
"Kakak!" Ros menegur dengan nada yang teramat pelan. Berusaha untuk tidak menyakiti perasaan suami juga pegawainya.
"Apa? Aku 'Kan hanya bertanya sayang!" jawaban klasik dan menyelamatkan, keluar dari bibir Rendy.
"Ayo Anita, masuklah!" kata Ros mengajak Anita. Namun, Anita tampak sungkan dengan ajakan Ros barusan.
"Ayolah, jangan seperti itu. Jangan tolak ajakan ku. Ini perintah Anita," kata Ros sedikit lebih tegas. Jika tidak seperti ini, Anita tidak akan mau masuk. Pikirnya.
Dengan perasaan yang di buat sungkan Anita akhirnya berjalan masuk dengan perlahan. Gerakan serta ekspresi wajahnya mengatakan jika ia sungkan. Namun, hatinya berkata lain. Ia senang bukan kepalang, rencananya selalu dibuat mudah oleh Ros.
"Terima kasih Mbak!"
"Tidak apa Anita."
'Aku akan mengawasi mu Anita,' ucap Rendy dalam hati. Tangannya semakin erat merangkul pundak Ros, seakan ia tak akan pernah melepaskannya.
"Ada apa?" tanya Ros yang heran dengan perubahan sikap sang suami.
"Tidak sayang. Aku hanya ingin memelukmu saja. Kamu tau 'kan, aku tidak bisa jauh darimu walau hanya satu detik saja," rayuan gombal yang membuat Ros tersenyum. Sedangkan wanita di belakang mereka, mendengarnya dengan perasaan kesal.
'Kita lihat saja nanti, Tuan. Apakah ucapanmu itu nyata dan terbukti, atau hanya omong kosong belaka,' ujar Anita dalam hati. Rencananya kali ini tidak boleh gagal, apa pun yang terjadi. Tekad wanita itu.
'Ting!'
Pintu lift terbuka. Rendy segera mengajak Ros melangkah keluar. Di susul Anita dari belakang.
"Di mana kamu meninggalkan handphone mu Anita?" tanya Ros.
"Di atas meja ruangan Mbak Ros. Setelah keluar meeting, saya terburu-buru keluar, jadi handphone saya ketinggalan. Maaf Mbak!" jawab Anita menjelaskan.
__ADS_1
"Tidak apa Anita. Kenapa harus meminta maaf? Ambillah handphone kamu," balas Ros ramah. Dan Anita langsung menganggukkan kepalanya. Wanita itu langsung berjalan mencari handphone yang dengan sengaja ia tinggalkan setelah selesai meeting, karena ia mendengar percakapan antara Mila dan Ros lewat sambungan telepon, bahwa Ros dan Rendy akan ke kantor siang ini, setelah bertemu dengan klien. Dan tentu saja, Anita tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menjalankan rencananya.
Bersambung...