Dia Milikku

Dia Milikku
Menguji adrenalin


__ADS_3

Malam semakin larut. Hawa dingin tak membuat niat Rendy dan Mamah Ajeng surut, untuk menjemput istri, sekaligus Mr menantu.


"Kamu kayak keong Ren," ujar Ajeng pada Rendy.


"Maksud Mamah?" tanya Rendy yang langsung mengerutkan keningnya.


"Iya, kamu nyetirnya kayak keong. Lambat!" jawab Ajeng, mempertegas ucapannya.


"Ini udah cepet Mah," bela Rendy. Perasaan, dirinya sudah mengendarai mobil secepat yang ia bisa. Namun, sang Mamah menyebutnya lambat. Apa dia tidak salah dengar? Apa mamah nya ini tidak bisa merasakan?


"Berhenti Ren. Kamu ini... Di bilangin, gak terima," gerutu Ajeng. Dirinya ingin cepat-cepat sampai ke rumah besannya untuk menyelesaikan masalah antara anak dan menantunya. Ajeng tak ingin kehilangan menantu sebaik Ros.


"Mau apa Mah?" tanya Rendy yang heran dengan sikap Mamah nya.


"Udah, kamu nurut aja! Mamah bilang berhenti, ya berhenti!" jawab Ajeng ketus. Rendy pun pasrah. Ia, mau tidak mau harus menuruti ucapan Mamah nya, yang merupakan sebuah perintah yang harus ia lakukan.


'Cekittt!'


Rendy menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


"Keluar kamu!" ucap Ajeng dengan nada memerintah. Rendy semakin bingung. Apa yang sebenarnya akan Mamah nya itu lakukan?


"Tapi Mah--"


"Turun!" dengan tegas Ajeng memerintah. Rendy tak bisa menolak lagi. Ia akhirnya turun dari mobil. Namun, tidak dengan Ajeng. Wanita paruh baya yang masih gesit, lincah dan cekatan itu, berpindah posisi duduk, dari penumpang, menjadi pengemudi. Rendy yang sudah di luar, tentu saja kaget dengan apa yang Mamah nya lakukan.


'Apa-apaan ini mah? Apa Mamah mau menggantikan Rendy mengemudi?" tanya Rendy shok.


"Nah... Itu tau!" jawab Ajeng tanpa panjang lebar.


"Rendy gak mau naik Mah! Mamah mau menguji adrenalin Rendy" tolak Rendy sungguh-sungguh.


"Benar gak mau naik?" tanya Ajeng memastikan, jika anaknya itu hanya mengancam.


"Iya!"


"Ya sudah kalau gak mau naik. Mamah tinggalin aja kamu di sini. Biar Mamah sendiri yang pergi ke rumah mertua kamu," Ajeng menghidupkan kembali mesin mobil yang tadi sudah di matikan Rendy.


Rendy menjadi gusar. Apakah ia harus naik. Atau tetap bertahan dengan sikapnya yang tidak mau ikut menjadi penumpang Mamah nya sendiri.


Suara mesin mobil semakin jelas terdengar, bahkan Mamah Ajeng sudah mulai menggerakkan tangannya di atas kemudi.


"Tunggu Mah!" akhirnya Rendy pasrah. Ia menghalangi laju jalan sang Mamah yang hendak meninggalkannya di tempat yang sepi.

__ADS_1


"Mau masuk apa tidak?" sang Mamah bertanya serius.


"I-iya Mah. Rendy masuk!" ragu-ragu Rendy menjawab. Hatinya sudah resah dan cemas dengan apa yang akan Mamah nya lakukan.


"Kamu siap?" tanya Ajeng. Rendy tak menjawab, ia hanya melirik Mamah nya sekilas, lalu mengangguk pasrah.


"Pegangan!" perintah Ajeng lagi.


"Mamah mau apa Mah?" tanya Rendy dengan hati yang was-was.


"Ikut aja apa kata Mamah!"


Lagi, lagi dan lagi. Rendy pasrah dan menuruti apa yang Mamah nya perintahkan. Hingga--


"Aaaa!" Pria tampan yang menjadi kucing penurut di depan induknya itu berteriak sepanjang perjalanan. Nyalinya sejak pertama kali mobil berjalan di ambil alih kemudinya pun sudah menciut. Di tambah lagi dengan cara mengemudi sang Mamah, nyalinya semakin tiada saja.


Bagaimana tidak! Mamah nya mengendarai mobil sudah seperti pembalap saja. Salip sana, salip sini. Berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Membuat jantung Rendy hampir copot di buatnya.


'Cekitttt!'


Mobil berhenti. Ajeng menginjak rem mobil dengan mendadak, membuat Rendy yang sudah tak tau lagi di mana nyawanya kini, semakin tak berdaya di buatnya.


"Turun Ren! Kita sudah sampai!" ujar Ajeng memberitahu. Namun, bukannya menuruti apa yang Ajeng perintahkan, Rendy malah mual dan hampir muntah.


"Ih, Ren... Kamu jorok banget sih!" Keluh Ajeng pada anaknya.


"Sebentar Mah. Rendy gak kuat!" ucap Rendy jujur. Bagaimana dia tidak kuat. Apa yang Ajeng lakukan barusan, membuatnya takut, sangat pusing dan mual.


"Kamu ini... Masa gitu aja, kamu mau muntah! Kayak bukan laki-laki aja!" ejek Ajeng yang langsung melenggang masuk ke halaman rumah besannya.


"Tunggu Rendy mah!"


...***...


"Mamah mau ke mana?" tanya Ros yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Mau ke depan Ros. Kayaknya ada tamu deh," jawab Maya tanpa menghentikan langkahnya yang pelan.


"Aku ikut Mah," pinta Ros.


"Ayo!" jawab Maya.


"Aneh. Bertamu malam-malam," gerutu Ros. Namun, ia tetap mengekori langkah sang Mamah.

__ADS_1


"Mungkin saja itu suami kamu Ros," jawaban Maya membuat Ros tertegun dan menghentikan langkahnya.


'Apa benar yang Mamah katakan?' pikir Ros dalam diam.


"Kenapa malah bengong? Ayo!" ajak sang Mamah lagi.


"Eh, i-iya!" jawab Ros gelagapan.


'Sret!'


Suara pelan dari gorden yang Maya buka untuk mengintip siapa orang yang bertamu malam-malam ke rumahnya. Dan benar saja dugaannya. Besan dan menantunya berada di balik pintu rumah yang masih terkunci. Terlihat Bu Ajeng yang seperti biasanya, berdandan heboh walaupun waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Juga Rendy yang berada di samping Bu Ajeng. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Rendy. Wajahnya terlihat pucat pasi dan tidak bergairah. Apa Rendy sakit? pikir Maya.


"Siapa Mah?" tanya Ros.


"Suami dan mertuamu," jawab Maya, "apa suamimu sedang sakit Ros?" tanya Maya kemudian.


Ros mengerutkan keningnya, "sakit?" tanyanya kemudian.


"Ya? wajahnya sangat pucat!" jawab Maya.


"Biar aku lihat!" mendengar ucapan sang Mamah barusan, membuat Ros khawatir. Bagaimana dan seperti apa pun ia marah terhadap suaminya sendiri. Tapi, hati tidak bisa di bohongi. Rasa khawatir dan peduli itu masih ada. Bahkan, tidak luntur sedikitpun, hanya karena sebuah kesalahpahaman yang belum tentu benar adanya.


'Ceklek!'


Ros membuka pintu rumah Mamah nya. Hingga memperlihatkan kedua orang yang kini sangat mengkhawatirkannya juga.


Ajeng langsung memeluk erat menantu kesayangannya. Yang langsung di sambut juga oleh Ros. Sedangkan Rendy, ia juga mengharapkan agar Ros bisa memeluknya, seperti ia memeluk Mamah nya.


"Ros, sayang! Apa kamu baik-baik saja Nak?" tanya Ajeng langsung.


Tanpa menjawab. Ros hanya menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.


"Jeng Maya! Maafkan kelakuan anak saya Jeng. Saya benar-benar tidak menyangka," ucap Ajeng dengan nada memelas dan merasa bersalah.


"Masuk dulu Jeng. Sudah malam!" tawar Maya sebelum menjawab pertanyaan dari besannya itu.


"Terima kasih Jeng," Ajeng dan Maya masuk beriringan. Menyisakan Ros dan Rendy yang masih saling terdiam di antara pintu. Bahkan, Rendy tak sanggup untuk menatap wajah sang istri yang tentu saja masih kecewa dengan kejadian tadi siang.


"Tidak mau masuk?" tawar Ros datar. Rendy langsung mendongak mendengar tawaran Ros barusan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi, Rendy juga langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang.


"Ma-mau!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2