
"Nenek!" semakin tangis Argana menggenggam jemari Nita dengan erat.
"Ada apa ini?" tanyanya melihat para suster dan si dokter.
Si dokter lalu menghela nafas berat melihat Argana bersamaan dengan Isabella. "Maaf, pasien telah berpulang".
DDDUUAARR!
Bagaikan disambar petir Argana membulatkan kedua mata menatap si dokter dengan mata tajam. "Ma-maksud dokter apa? dokter baru saja bilang apa?".
"Sebelum tiba dirumah sakit, pasien telah kehilangan nyawanya. Kami mohon maaf, sebaik mungkin kami sudah melakukan yang terbaik" jawabnya.
Argana kemudian tertawa sumbang melihat wajah Nita yang sudah memutih dengan mata melotot. "Kenapa? Kenapa kamu tidak menunggu jawaban ku hhhmm? Kenapa kamu tidak menunggu sampai aku mengatakan kepada mu kalau aku juga mencintai mu? Kenapa? Kenapa....??" teriak Argana membuat pasien yang juga berada disana melihat kearah mereka.
Lalu Isabella mendekati Argana mengusap punggung dengan lembut, "Dia sudah tiada Arga..
"Tidak, dia tidak mungkin pergi meninggalkan aku begitu saja. Nenek tau? Dia sangat mencintai ku sejak pertama kali kami masuk kuliah. Jadi tidak mungkin dia pergi begitu saja meninggalkan aku, dia harus mendengar jawab ku dulu" jawab Argana mengusap wajahnya.
"Nita ayo bangun. Ini aku, kamu pasti ingin mendengar jawab ku kan? Sekarang buka mata mu Nita, ayo dengarkan jawaban ku".
"Argana!" panggil Isabella lembut. "Sudah, jangan seperti itu lagi, kamu bisa saja menyakiti tubuhnya" ucapnya melihat Argana sedari tadi menggoyang-goyang tubuh Nita. "Nenek tau apa yang kamu rasakan karna dulu nenek juga pernah kehilangan seorang suami. Sekarang ikhlaskan dia yah, dia sudah tiada".
Kemudian Isabella menyuruh si dokter menutup kedua mata Nita yang masih melotot, dan saat itu juga Argana melihat Nita meneteskan air mata untuk yang terakhir kalinya membuat Argana semakin terpuruk.
.
1 minggu pun berlalu begitu cepat setelah kepergian Nita untuk selama-lamanya. Argana kini sedang berada didalam ruangannya menunggu laporan dari polisi kalau perusahaan Hanju saat ini sedang dalam penyelidikan.
"Ada apa ini?" teriak Dilan memarahi mereka satu persatu.
Lalu si detektif mendekatinya sambil mengeluarkan surat izin pemeriksaan.
"Apa?" kaget Dilan.
"Sebaiknya anda segera menghubungi pengacara anda" jawabnya menyuruh anak buahnya itu mengeledah semua ruangan Dilan untuk segera membawa semua barang bukti ke kantor polisi.
__ADS_1
Lalu Reno memasuki ruangan Dilan bersama dengan Reysa. "Ada apa ini?" tanya Reno kepada si polisi.
"Kami sedang melakukan penyelidikan".
"Apa?" Reno kemudian melihat Dilan sedang berusaha untuk menghubungi pengacara. "Rey, sebaiknya kamu jangan disini" ucapnya.
"Kenapa? Lalu bagaimana dengan papa Ren?".
"Kamu tenang saja. Biar aku yang mengurusnya".
"Baiklah kalau gitu. Tolong kamu lindungi papa".
"Mmmmm, kamu jangan khawatir" angguk Reno menghampiri Dilan yang baru saja selesai menghubungi pengacaranya.
"Bagaimana pa?" tanyanya.
"Kurang ajar. Ini semua karna Argana. Anak itu benar-benar sudah berani melawan ku".
"Argana?" gumam Reno mengepal kedua tangannya sangat marah. "Lalu apa yang akan kita lakukan Pa?".
"Kurang ajar. Bisa-bisanya dia tidak menjawab panggilan ku" geram Dilan melihat Reno. "Kamu tunggu disini sampai mereka pergi, aku pergi dulu".
"Iya pa" angguk Reno.
Sekeluarnya Dilan dari sana, Reno melihat mereka satu persatu dengan sangat marah ingin sekali membunuhnya.
Setalah hampir 2 jam lamanya, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Reno seorang diri disana. Ia lalu menutup pintu, kemudian berjalan mendekati kursi kebesaran Dilan membuka sebuah tempat rahasia antar ia dan Dilan saja yang mengetahui tempat tersebut tanpa ia sadari kalau Reysa baru saja membuka pintu membuat terkejut.
"Apa yang sedang Reno lalukan disana?".
Ia lalu masuk ke dalam dengan langkah kaki pelan agar Reno tidak mendengarnya menuju ke arah rak buka yang tersusun sangat rapi itu. Sambil melihat Reno, ia berpikir keras apa yang sedang suaminya itu sembunyikan selama ini bersama dengan ayahnya. Tidak menunggu lama, Reno pun bangkit berdiri, ia terlihat tersenyum sangat bahagia membuat Reysa semakin kebingungan melihat senyuman itu seperti senyuman yang tidak pernah ia lihat selama beberapa tahun lamanya ia mengenal seorang Reno.
"Ya Tuhan ada apa dengannya? Kenapa dia sangat menakutkan sekali?" ia lalu melihat Reno keluar.
Setelah itu ia berjalan kearah tempat yang tadi ia lihat Reno memasuki sebuah ruangan yang tidak ia ketahui. Seperti yang tadi ia lihat Reno berdiri, ia kini telah berada di posisi itu, tepat di bawah kursi kebesaran Dilan, tetapi ia sama sekali tidak melihat apa-apa disana selain keramik lantai yang tersusun sangat rapi.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Kenapa aku tidak bisa melihat sesuatu?" Reysa mencoba mencarinya lagi seperti yang tadi ia lihat Reno memasuki sebuah ruangan tepat di bawah kursi kebesaran Dilan. Tetapi lagi-lagi ia tidak berhasil menemukannya hingga ia merasa kelelahan mencari ruangan itu.
"Aku sangat yakin kalau selama ini papa dan Reno pasti menyembunyikan sesuatu yang selama ini perusahaan tidak tau. Iya, aku sangat yakin itu. Tapi bagaimana cara aku membuktikan kalau aku saja tidak bisa menemukan rahasia yang baru saja aku lihat?".
.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....
Argana melirik ponselnya, ia melihat sebuah panggilan itu berasal dari Reysa yang selama ini secara diam-diam ia menyimpan nomor ponselnya.
"Apa?".
"Arga ini aku Reysa".
"Aku tau" jawabnya sedikit ketus.
"Apa kamu orangnya? orang yang baru saja melaporkan perusahaan Hanju group telah melakukan korupsi selama ini?".
Argana menyeringai mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya, "Mmmm, itu aku. Kenapa? Kamu mau marah?".
"Tidak, aku malah ingin membantu mu Arga untuk membongkar semua apa yang telah papa lakukan selama ini".
"Apa?" Argana sedikit kaget mendengar jawaban Reysa yang ia pikir kalau Reysa akan memakinya setelah apa yang ia lakukan terhadap Hanju group. "Kenapa tiba-tiba kamu menawarkan aku...
"Aku tau kalau selama ini papa bukanlah orang baik Ga. Begitu juga dengan Reno, aku sangat yakin kalau papa dan Reno melakukan hubungan kerja sama" potong Reysa dengan sangat yakin.
"Dan tadi itu saat polisi selesai melakukan pemeriksaan di ruangan papa. Reno tertinggal seorang diri".
"Terus?".
"Saat itu juga aku memasuki ruangan papa melihat Reno tidak ikutan keluar bersama dengan sang polisi. Aku merasa curiga, dan pada akhirnya aku masuk kedalam langsung melihat Reno memasuki sebuah ruangan rahasia tepat di bawah kursi kebesaran papa".
"Tapi anehnya Ga, setelah Reno keluar, aku berjalan mendekati tempat tersebut, namun aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang janggal disana. Dan itu membuat ku heran terus-menerus mencari tempat itu".
"Hingga pada akhirnya aku menghubungi kamu Ga. Apa kamu membutuhkan bantuan ku? Sebisa mungkin aku akan membantu mu Ga".
__ADS_1