Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 41


__ADS_3

Selesai makan siang yang sudah bisa dibilang tidak makan siang lagi melihat jam kini telah menunjukkan pukul 3 sore.


"Arga!" panggil Nita.


"Kenapa?" balas Argana menghentikan langkah kakinya. Kemudian melihatnya, "Ada apa?" tanyanya lagi.


Nita pun langsung tersenyum dengan lebar, "Terima kasih banyak untuk hari ini. Kalau bukan karna kamu aku pasti hanya rebahan saja dirumah seorang diri".


"Justru aku yang harusnya bilang terima kasih banyak untuk mu".


"Kenapa jadi kamu Ga?".


"Tidak! Lupakan saja. Kamu masih mau disini atau mau pulang? Hari sudah semakin sore" ujar Argana melirik jam tangannya.


"Lalu bagaimana dengan mu Ga? Apa kamu sudah mau pulang?".


"Iya".


"Oh.. Ya sudah kalau gitu kamu pulang saja".


"Bagaimana dengan mu? Kamu membawa mobil sendiri? Kalau tidak aku akan mengantar mu pulang" tawar Argana melihatnya.


"Iya Ga aku bawa mobil sendiri. Pulanglah, begitu kamu tiba dirumah jangan lupa memberitahu ku ok".


"Ya sudah kalau gitu aku pulang duluan".


"Mmmmm.. Hati-hati dijalan Ga".


Seperginya Argana dari sana, Nita kembali menerbitkan senyuman di wajahnya sambil menatap lurus kearah laut yang begitu sangat indah.


Kemudian ia berjalan di bibir pantai menuju halte bus tempat ia turun tadi, namun saat itu juga rintikan hujan membasahi jalan.


"Ooo.. Hujan turun?" Nita berlari kearah halte.


Disana ia tampak kedinginan melihat pakaian yang ia pakai basah, "Kenapa tidak sampai dirumah dulu sih.." gantung Nita melihat mobil sport Argana melintas dari hadapannya.


"OMG! Argana tadi melihat ku enggak yah?" ia terlihat khawatir kalau sampai Argana melihatnya. "Tapi kalau dia tadi melihat ku, tidak mungkin Argana tidak berhenti. Itu artinya dia pasti tidak melihat ku, iya aku yakin itu. Tapi kenapa dia baru berangkat yah? Bukankah sudah sedari tadi dia sudah pergi?".


Tidak menunggu lama, bus yang akan membawanya ke kota telah tiba, mereka yang menunggu disana segera masuk ke dalam bus tersebut.


"Akhirnya pulang juga" gumamnya sambil kedinginan.


Ia lalu melihat kearah laut, pemandangan yang sang indah itu membuat Nita kembali menerbitkan senyuman di wajahnya.


"Sampai bertemu di lain waktu lagi. Kali ini aku berharap aku bisa datang kemari bersama dengan dirinya".


.


Sesampainya dirumah Nita keluar dari dalam bus, ia langsung berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


"Kamu sudah datang?".


Nita terkejut, "Mama?".


Sang ibu tersenyum, "Mmmm.. Kamu habis dari mana? Kenapa pakaian mu basah semua?" tanyanya membawa sang putrinya masuk ke dalam rumah. Lalu melap tubuh Nita yang basah dengan handuk, "Kamu dari mana bisa basah seperti ini Nita?" tanyanya lagi.


"Maaf Ma. Tadi Nita habis dari pantai sama teman. Terus mama kenapa bisa datang kemari? Mama datang sama siapa? Adikku dimana?".


"Mama datang sendiri Nita. Adik kamu mama tinggal dirumah sama nenek".


"Oh, terus mama bawa apa dari kampung?".


Ibunya kembali tersenyum sudah sangat mengenal putrinya itu kalau ia pulang dari mana saja pasti yang Nita tanyakan makanan.


"Ada di dalam kulkas. Mama tidak akan pernah lupa membawa makanan kesukaan kamu. Sekarang kamu mandi dulu, mama akan menyiapkan makan malam".


"Siap ma. Kalau gitu aku mandi dulu".


"Mmmmm".


Nita pun memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat ia baru saja pulang dari pantai. Tidak menghabiskan waktu yang lama, hanya sekitaran 15 menit. Nita langsung keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian santai.


"Kamu sudah selesai? Minum dulu teh ini supaya tubuh kamu hangat sayang".


"Terima kasih ma" senang Nita. Lalu ia mendudukkan diri diatas kursi makan. Di atas meja ia melihat semua hidangan yang ada disana adalah makanan kesukaannya semua.


"Wah.. Ma! Ini sangat istimewa sekali".


"Ini ma. Nasinya tolong di banyakin ya ma, aku sangat lapar sekali. Wah, makan malam ini benar-benar sangat mengundang perut ku lapar heheheh..".


"Iya sayang. Ayo dimakan sampai kamu kenyang".


"Iya ma".


Dengan sangat lahap Nita menikmati setiap hidangan tersebut hingga kini perutnya semakin membuncit.


Ting!


"Ponsel kamu berbunyi Nita" beritahu sang ibu.


Nita pun segera menyambar ponselnya, ia melihat sebuah notifikasi di dalam layar sana, dan yang membuat Nita seketika tersenyum lebar, pesan itu berasal dari Argana.


"Pesan dari siapa sayang? Kenapa kamu terlihat bahagia sekali?" penasaran sang ibu.


"Hehehehe.. Dari teman ma" jawab Nita.


"Teman?".


"Mmmmmm".

__ADS_1


"Teman siapa? Mama curiga kalau itu bukanlah sembarangan teman".


Nita kembali tertawa setelah ia membalas pesan Argana, "Teman seperti biasa ma. Cuman yah, Nita suka sama dia ma. Orangnya sangat tampan dan juga baik".


"Dia laki-laki?".


"Iya ma".


"Wah..! Sejak kapan putri mama mulai tertarik melihat laki-laki? Ini benar-benar Nita yang selama ini mama kenal?".


"Tentu saja iya ma. Entah kenapa pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh hati kepadanya meskipun dia tipikal pria dingin. Tapi aku sangat menyukainya ma".


"Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia tau kalau kamu menyukainya?".


"Dia tau ma".


"Terus?".


"Terus gimana ma?".


"Kenapa kalian berdua tidak berpacaran saja kalau dia tau putri mama suka sama dia? Mama tidak akan pernah melarang mu Nita, kalau kamu mau berpacaran silakan, asalkan pacarannya jangan berlebihan".


Nita pun semakin melebarkan senyuman di wajahnya, "Terima kasih ma sudah memberikan aku kebebasan".


"Tentu saja sayang. Lagian kamu bukan anak remaja lagi yang harus mama pantau setiap saat. Kamu sudah tumbuh dewasa dan kamu sudah tau menjaga diri kamu sendiri dan kamu juga sudah tau mana yang terbaik untuk mu".


"Wah.. Terima kasih banyak ma. Aku janji sama mama akan melakukan yang terbaik. Doakan Nita sehat selalu ya ma, supaya kelak aku bisa mendapatkan jodoh seperti yang mama harapkan selama ini".


"Amin".


_


_


Di kediaman keluarga Davison Reysa sedang di kurung di dalam kamar seorang diri, ia sedari tadi tak henti-hentinya menangis sambil memohon agar Dilan mengeluarkannya dari sana.


Namun Dilan tidak akan pernah melakukan kesalahannya lagi dengan membiarkan Reysa bebas dari pandangan matanya.


"Hiks.. hiks.. Tolong lepaskan Reysa Pa Ma hiks..".


Sedangkan sang adik yang berada di ujung sana hanya bisa menatap dengan wajah sedih mendengar suara tangisan sang kakak yang meminta tolong untuk di keluarkan dari dalam kamar.


"Sedang apa kamu disini Brian?" tanya Kirana.


Brian lalu menatapnya, "Ma! Mama sama papa enggak kasihan melihat kak Reysa di kurung seperti ini?" ucap Brian.


Kirana tersenyum, "Itu salah kakak kamu sendiri. Dia sudah tau papa kamu orangnya seperti apa, tapi kakak kamu masih tetap melawan papa. Jadi sekarang dia mau menyalahkan siapa?".


"Tapi ma...

__ADS_1


"Sudah, dari pada kamu disini, ayo ikut mama kesana sebentar" tarik Kirana membawa Brian dari sana.


__ADS_2