
"Tenanglah Ren. Cepat atau lambat, kita pasti akan menemukan di mana keberadaan Ros!" jawab Surya di balik sambungan telepon. Pria tampan dan matang itu, sudah mendapatkan titik terang keberadaan Ros, karena sebelum Ros menaiki taksi, Anto dengan cekatan mencatat plat nomor kendaraan yang Ros pakai. Hingga dengan mudah Surya melacaknya.
"Bagaimana aku bisa tenang Kak. Istriku marah, dan ini semua gara-gara wanita siluman itu!" geram Rendy.
"Tapi kau menikmatinya bukan?" kata Surya menggoda Rendy. Pria itu terkekeh setelah mengatakannya.
"Itu 'kan karena aku tidak tau siapa yang menciumku. Sudah kubilang bukan? Mataku terpejam, dan aku tidak mengira bahwa wanita itu yang ternyata menciumku. Sial!" gerutu Rendy membela diri.
"Ya, ya... Aku tau!" tanggap Surya. Kakak angkat dari Rendy itu segera mematikan sambungan telepon, dan menyuruh Rendy untuk menemuinya di suatu tempat.
...***...
"Aaaa!" Teriak Ros di suatu tempat. Wanita cantik itu menenangkan diri dari kesedihan hati yang menyelimutinya.
Suara burung yang beterbangan dari atas pohon, seakan melarikan diri karena terlalu kaget dengan teriakan tos barusan.
'Pluk!'
Satu batu berukuran kecil, Ros lempar dari genggaman tangannya ke arah danau yang airnya begitu bening dan tenang. Namun, dapat menenggelamkan.
Ya, Ros berada di sebuah danau yang terletak cukup jauh dari kota. Wanita itu menenangkan diri dari hiruk pikuk yang membuatnya bisa semakin dikuasai amarah.
Menenangkan diri dengan cara menyendiri, itu akan lebih baik. Pikirnya.
"Ah, harusnya aku sudah mengerti. Kenapa setiap kali Anita berada di dekatku, Rendy seolah tak suka dan berusaha menjauhkan kami," ucap Ros kala terisak.
"Jadi ini alasannya. Mereka berdua mempunyai hubungan lain di belakangku!" sisi gelap Ros menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar adanya.
"Tapi aku sangat mengenal suamiku. Dia tidak mungkin berkhianat dan membohongiku," Dan sisi positif Ros, menyangkal sisi gelapnya sendiri. Bahwa, yang baru saja terbersit itu belum tentu benar. Kedua sisi itu saling menentang satu sama lain.
"Tenanglah Ros... Kendalikan dirimu. Kau harus tenang, jangan terbawa emosi," ujarnya sendiri menenangkan diri.
"Aku harus mencari buktinya sendiri-- Ya, aku harus mencari tau kebenarannya sendiri sebelum aku menyimpulkan semuanya," ucapnya lagi pasti.
Ros berbalik, dan berjalan mendekati kursi yang terdiam sendiri, tanpa ada kursi lain yang menemani. Menghempaskan tubuhnya di kursi yang menyendiri itu. Menghirup aroma udara yang menginjak sore hari.
Ros memejamkan mata. Menikmati indahnya ciptaan Tuhan di tengah kegalauannya. Sejuk, damai dan menenangkan. Sedikit mengurangi rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
Di tempat yang sama. Namun, bukan hanya jarak antara tubuhnya dan Ros saja. Ada jarak diantara kedekatan mereka yang beberapa saat lalu mulai merenggang.
Rendy bersama dengan Surya, menatap kearah dan titik yang sama. Titik di mana Ros berada. Jika Surya menatap Ros sedih, sebagaimana adiknya sendiri yang dilukai oleh orang lain. Lain dengan Rendy. Pria itu menatap Ros penuh dengan penyesalan. Menyesal karena dia sudah berhasil masuk dalam perangkap Anita yang sepertinya sudah di siapkan sejak awal.
"Jangan Ren," Surya menahan bahu Rendy, saat pria itu hendak mendekati istrinya yang termenung di sisi Danau.
"Aku ingin meminta maaf, dan menjelaskan semuanya pada istriku, Kak," ucap Rendy.
"Belum saatnya. Biarkan dia tenang dulu. Dia butuh waktu, Ren." Rendy menghela napas berat. Apa yang Surya katakan memang benar adanya. Ros butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan hati serta emosinya.
"Bersabarlah!" ucap Surya lagi menenangkan.
Walau berat. Namun, Rendy melakukan apa yang Surya sarankan, untuk tidak mendekati Ros dulu.
Melihat dari kejauhan. Merindu dalam diam. Sungguh menyiksa batin, Jiwan dan raga! Bahkan sebelumnya, Rendy tidak pernah bisa berjauhan walaupun hanya satu detik saja dengan sang istri. Kini, hanya karena sebuah kesalahpahaman, ia harus rela saling berjauhan.
...***...
"Dasar anak kurang ajar!" Baru saja kaki Rendy menginjak rumah mewahnya setelah sang Bibi membukakan pintu masuk. Seorang wanita paruh baya, sudah mencerca Rendy dengan ganasnya.
"Aw! Aw! Sakit mah, sakit!"
"Biarkan saja! Lebih sakit lagi hati menantu mamah, dari pada pukulanku ini!" Bukannya berhenti, mamah Ajeng malah semakin bernafsu memukuli anaknya sendiri. Ajeng sudah mendengar apa yang terjadi pada anak dan menantunya sore tadi, lewat mulut teman-teman Ros.
Mereka bertiga dengan bernafsu menceritakan serta melebihkan kejadian yang sebenarnya, untuk memberikan Rendy sebuah pelajaran.
"Apa?" Teriak Ajeng setelah mendengar kabar dari mulut teman-teman Ros.
"Kurang ajar anak itu!" geram Ajeng.
"Kami sakit hati Bu... Tidak sepantasnya Ros di perlakukan seperti itu oleh Rendy," tambah Mila dengan wajah sedih memelas. Namun, dalam hatinya ia bersorak kegirangan, karena bisa membuat Rendy terkena amukan ibunya sendiri.
"Benar Bu... Ros itu wanita yang baik, kami sangat menyayanginya, dan saat kami tau Rendy menyakitinya, kami benar-benar kecewa," Nina juga tak mau kalah menambahkan sebuah cerita yang tidak semuanya benar.
"Anto mohon Bu, berikan pelajaran yang setimpal untuk Mas Ganteng," wajah Anto juga memelas. Ia meminta dengan terang-terangan agar Ibu dari Rendy ini memberikan Rendy pelajaran.
"Kalian tenanglah. Saya pasti akan memberikan pelajaran untuk anak tidak tau diri itu!" jawab Ajeng memastikan kepada semua teman Ros.
__ADS_1
Yes!
Ketiga teman Ros bersorak gembira dalam hati. Rencana untuk memberikan pelajaran kepada Rendy membuahkan hasil. Mereka bertiga sudah tidak sabar untuk menyaksikan sendiri, bagaimana Bu Ajeng menghukum anaknya sendiri. Namun, jika mereka menyaksikan, sudah pasti Rendy akan curiga kepada mereka. Jadilah mereka hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi nanti.
'Pasti seru!' pikir ketiganya seraya terkekeh dalam diam.
"Kenapa Mamah memukulku?" tanya Rendy yang terus mencoba menghindar dari amukan Ajeng.
"Masih bertanya? Dasar anak tidak tau diri!" Ajeng semakin garang, ia mengejar Rendy yang terus menghindar dari amukannya.
"Rendy tidak mengerti Mah. Tolong jelaskan dulu," kaya Rendy yang memang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada wanita yang mengandung, melahirkan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang itu.
"Ampun Mah! Ampun!" teriak Rendy memohon. Tapi Ajeng tak mau menghentikan aksinya pada sang anak.
Dan tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya yang di sogok oleh ketiga teman Ros, tengah merekam kejadian antara ibu dan anak yang membuat ketiga orang yang jauh di tempat lain, tertawa terbahak-bahak. Mereka menyaksikan, bagaimana garangnya sang Wanita bernama Ajeng, menghukum anaknya sendiri.
Bukan hanya ketiga teman Ros yang jauh si sana yang tertawa. Bahkan, semua pembantu di rumah itu, juga tertawa geli melihat kelakuan ibu dan anak tersebut.
"Hei, kalian! Berani menertawaiku lagi, Aku pecat kalian!" ancam Rendy saat dirinya masih menghindar dari kejaran Ajeng.
Semua langsung bungkam dan terdiam, termasuk wanita paruh baya yang sedang merekam kejadian tersebut. Ia dengan cepat langsung menyembunyikan handphone canggihnya di balik kerudung yang menutupi dadanya.
"Berani kamu memecat mereka, Mamah pecat juga kamu jadi anak Mamah!" balas Ajeng pada Rendy.
"Ampun Mah! Kenapa begitu? Rendy 'kan bicara pada mereka semua, bukan pada Mamah!" ujar Rendy masih terus berlari. Hingga--
'Bruk!'
Rendy tersandung. Kakinya menyenggol kaki meja, hingga ia jatuh tersungkur. Dan kesempatan itu, tidak Ajeng sia-siakan. Wanita paruh baya yang sangat menyayangi menantunya itu, langsung mengarahkan gagang sapu ijuk pada Rendy, membuat Rendy meringis.
"Aw! Ampun! Sakit! Hentikan Mah!" teriak Rendy seraya memohon belas kasihan pada Mamahnya.
"Dengar ya... Kali ini, kamu selamat. Tapi, jika lain kali kamu menyakiti menantu Mamah lagi... Akan Mamah buat kamu menjadi ikan asin. Biar kering sekalian!" ancam Ajeng yang tidak terdengar main-main. Seketika itu juga, Rendy bergidik ngeri. Kemudian Rendy hanya terdiam dan mendengarkan sambil mengusap-usap tubuhnya yang terasa nyeri semua. Ia juga berpikir, 'dari mana Mamahnya tau, kalau Rendy sudah menyakiti Ros?'
"Dengar Rendy... Mamah tidak main-main dengan ucapan Mamah barusan! Camkan itu!" ujar Ajeng sebelum ia pergi ke dapur dan meninggalkan anaknya yang termenung sendiri. Memikirkan dari mana Mamahnya itu tau.
Bersambung...
__ADS_1