
"Eh, mas Rendy... Baru aja, saya mau nanyain mas Rendy sama istrinya... Tau-tau, udah ada di depan pintu aja!" seloroh Jeng An yang tak di hiraukan oleh Rendy.
Pria itu langsung masuk menghampiri istrinya yang sedang merajuk. Mendekati sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan kedua tangan.
"Sayang?" panggil Rendy. Ros menatapnya dengan tatapan tajam seperti ingin menguliti.
"Ros, suaminya manggil, kok malah di cuekin sih! Dosa loh!" kata Jeng An mengingatkan. Rendy tersenyum senang, sedangkan Ros tersenyum kecut menanggapi ucapan Jeng An yang memang sangat benar.
Pasti mas Rendy ini buat salah sama istrinya, ya kan? Jadi deh di cuekin!" kepo Jeng An dengan mata menyipit penuh selidik.
"Enggak kok Jeng, cuma lagi kesel aja sama suami saya," balas Ros yang tidak senang dengan rumah tangganya di ikut campuri oleh orang lain, termasuk Jeng An. Dirinya baru menyadari, bersikap demikian di depan orang lain terhadap suami sendiri, bukanlah hal yang baik. Bahkan, tidak memberikan sebuah solusi. Hanya membuat harga diri suaminya terinjak saja.
Ros membuang napas panjang. Di tatapnya Rendy, lalu tersenyum dengan manis.
Jeng An kembali mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan perubahan sikap Ros yang tiba-tiba berubah pada suaminya. Saat baru datang, terlihat cuek. Sesaat kemudian lagi, ekspresi wajah Ros kembali berubah ramah pada suaminya. Sungguh aneh. Pikir Jeng An, alias ajaib.
"Maaf ya Jeng, karena suami saya sudah jemput, saya permisi pulang dulu," pamit Ros dengan ramah.
"Loh, ko cepet banget sih Ros? Suaminya kan baru datang! Kok langsung pulang. Gak nyobain kue nya dulu apa?" kata jeng An.
"Gak usah repot-repot Jeng An," kata Rendy.
"Saya gak repot kok. Kan tinggal ambil aja itu kue nya. Deket istri kamu!" tunjuk Jeng An dengan senyum mengembang.
"Gak usah Jeng An," tolak Rendy lagi.
"Sedikit aja mas Rendy..." paksa jeng An.
"Gak usah Jeng," Rendy masih bersikukuh menolak dengan cara halus.
"Itu buatan istrinya Loh..." ucap jeng An memberitahu. Pasti Rendy tidak akan menolak. Pikir Jeng An. Dan benar saja, Rendy langsung menghampiri Ros yang berdiri tepat di dekat meja yang terdapat kue brownies di atasnya.
"Karena Jeng An maksa, ya sudah deh, saya cobain kue nya. Apalagi kue ini buatan istri sendiri," ucap Rendy sebelum mengambil potongan kue brownies yang setelah di lihat-lihat, ternyata sangat menggugah selera.
__ADS_1
Rendy mengambil sepotong kue brownies dan mencicipinya dengan elegan.
Satu gigitan masuk. Rendy mencicipi rasanya.
Sangat enak.
Gigitan ke dua, Rendy semakin lahap memakannya. Dan di gigitan ke tiga, gigitannya semakin besar. Hingga, di gigitan ke empat, kue brownies di tangannya sudah habis tak tersisa.
Rendy mengambil kembali potongan kue brownies ke dua. Memakannya dengan dua kali gigitan saja.
Masih terasa kurang, Rendy kembali mengambil potongan yang ke tiga. Hingga akhirnya, Jeng An mendehem cukup keras. Membuat Rendy menghentikan tangannya yang akan mengambil potongan kue ke empat.
"Enak ya mas... Katanya gak mau..." goda Jeng An. Rendy tersenyum kikuk.
"Di lanjut aja mas Ren, gak papa kok. Saya cuma bercanda," kata Jeng An akhirnya.
Rendy pun melanjutkan acara makan kue brownies dengan lahap, di saksikan oleh Ros dan Jeng An yang melongok menatap tak percaya pada tingkah Rendy yang terlihat seperti orang kelaparan.
"Kak?" Ros menyenggol lengan Rendy dengan sikutnya. Membuat Rendy seketika menghentikan kembali gigitan yang entah sudah ke sekian kalinya.
"Istrinya jago bikin kue mas Ren. Mas Rendy pasti beruntung, punya istri kayak Ros," puji Jeng An pada Ros.
Ros tersenyum tipis menanggapi pujian dari Jeng An.
"Iya dong Jeng. Saya suami paling beruntung karena mendapatkan istri seperti Ros," Rendy menatap hangat pada Ros, ya g di balas dengan tatapan hangat pula dari wanita yang sudah menyerahkan segala yang ia punya padanya.
"Kalau gitu, kita pamit dulu ya Jeng?" pamit Ros sebelum pulang.
"Oh, boleh-boleh. Kue nya jangan di bawa lagi ya mas Ren, saya juga mau!" ucap Jeng An dengan menekankan kata-katanya untuk Rendy, karena jeng An melihat, tangan Rendy hendak mengambil kembali potongan kue brownies yang hanya tersisa beberapa potong saja.
"Kok tau sih jeng," tanya Rendy sambil cengengesan.
Jeng An mencebik. Dan Ros tertawa geli dengan tingkah kedua-nya. Sama sama ajaib.
__ADS_1
...***...
Meninggalkan rumah Jeng An dengan saling berpegangan tangan. Rendy benar-benar menyesal telah membuat Ros marah tadi pagi hingga kini, mungkin masih tersisa, sisa-sisa kemarahan itu. Namun, Ros mampu mengendalikannya di hadapan Jeng An, agar harga diri suaminya tidak di remehkan oleh orang lain.
"Maaf ya sayang," kata Rendy dengan menatap lurus ke depan. Melihat rimbunnya pepohonan yang mereka lewati, sungguh menyejukkan mata. Berbeda dengan jalan raya yang sering ia lewati, di penuhi dengan debu dan polusi.
Ros menghirup udara segar yang saat ini berada di sekelilingnya. Sangat segar, hingga Ros menghirup dalam-dalam untuk beberapa saat.
"Untuk apa Kak?" tanya Ros sambil mengalihkan pandangannya pada Rendy. Berhenti melangkah, lalu menatap Rendy lekat-lekat.
"Untuk yang tadi, " jawab Rendy kikuk. Kenapa bisa seperti ini? Rendy terlihat seperti seorang gadis yang baru merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Di tatap begitu lekat oleh Ros, membuat hati Rendy meleleh.
"Memang yang tadi itu apa?" Ros membalikkan pertanyaan pada Rendy, masih menatapnya tanpa kedip. Membuat Rendy salah tingkah di buatnya. Dan Ros menyadari itu.
"A-apa ya?" Rendy balik bertanya. Entah kenapa, tiba-tiba jadi terbata-bata begini ucapannya.
"Mana aku tau!" jawab Ros cepat, sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Pokoknya, aku minta maaf untuk semua kesalahanku," ucap Rendy akhirnya. Tidak kuat dengan tatapan Ros yang begitu menusuk hingga ke ruang kalbu. Menghancurkan bongkahan-bongkahan rindu yang menggebu di dalam sana.
Rendy memeluk Ros dengan penuh rasa sayang juga rindu yang baru saja terbongkar akibat tatapan Ros yang mematikan.
"Malu Kak, ini di jalan," ucap Ros saat Rendy memeluknya erat.
"Biarkan aku memelukmu erat-erat sayang. Entah mengapa, aku sangat merindukanmu," balas Rendy tanpa mau melepaskan pelukannya dari tubuh Ros.
"Tapi ini di jalan Kak, malu. Banyak yang lewat," kata Ros mengingatkan kembali.
"Biarkan saja! Kita ini kan suami istri, tak masalah jika berpelukan seperti ini," Rendy tak mau kalah, tetap dengan pendapatnya.
"Tapi aku gak enak!" ucap Ros juga tak mau kalah, "kita pelukannya di rumah saja ya Kak, jangan di jalan. Nanti menimbulkan fitnah!" bujuk Ros yang langsung membuat Rendy melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Baiklah... Sesuai perintah mu istriku," balas Rendy sambil menatap genit wajah Ros. Tak lupa dengan kedipan mata yang membuat Ros mengulum senyum.
Bersambung...