Dia Milikku

Dia Milikku
Saling melengkapi


__ADS_3

"Kamu tidak papa sayang? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Rendy saat ia baru saja tiba di kantor WO milik Ros. Pria itu langsung memutar tubuh Ros ke sana kemari, hingga Ros pusing dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Rendy memastikan jika istrinya itu baik-baik saja.


"Istrimu pusing, Ren!" kata Surya mengingatkan. Rendy langsung menghentikan apa yang ia lakukan pada Ros.


"Maaf sayang, maaf-maaf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu pusing," ujar Rendy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak papa Kak," balas Ros, "ayo!" ajaknya kemudian. Rendy dan Surya langsung mengikuti langkah Ros yang berjalan menuju ruangan pribadinya.


"Kamu tidak bercanda dengan ucapanmu tadi 'kan sayang?" tanya Rendy setelah mereka tiba di depan pintu masuk ruangan Ros.


"Untuk apa?" tanya Ros sambil membalikkan badannya menatap Rendy dan Surya secara bergantian.


"Untuk... Untuk... untuk apa ya?" ulang Rendy.


"Ayo! Ikuti aku!" ujar Ros seraya membuka pintu ruangannya. Rendy dan Surya yang belum mengetahui apa-apa, langsung berjalan masuk mengikuti Ros. Namun, baru beberapa langkah keduanya mengikuti Ros, pandangan mereka sudah di suguhkan dengan hadirnya seorang wanita yang terduduk di kursi kayu. Namun, dengan tangan terikat.


"Wanita itu..." gumam Rendy sambil mengeraskan rahangnya. Ros tau, jika saat ini, Rendy sedang menahan amarahnya pada wanita yang ada di ruangannya tersebut.


"Tahan Ren," kata Surya yang juga melihat ekspresi wajah Rendy yang berubah.


"Aku kesal pada wanita itu. Bukan hanya kesal, aku bahkan marah dan sangat membenci wanita itu!" kata Rendy penuh dengan penekanan.


Perlahan Rendy berjalan, menghampiri Anita dengan langkah yang ia buat sepelan mungkin. Dengan tangan ya v mengepal, juga mata yang tertuju pada Anita.


Di setiap sorot matanya menyiratkan kemarahan yang teramat besar untuk Anita. Wanita yang kini telah menjadi sanderaannya.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?" tanya Rendy dengan suara yang ia tahan agar tak menggelegar memenuhi ruangan ini.


"Ma-maafkan aku Tuan!" kata Anita tanpa membalas pertanyaan Rendy.


"Aku bertanya padamu. Bukan meminta permintaan maaf darimu!" kata Rendy dingin. Matanya terus menatap-nya tajam.


"Yang, yang menyuruhku..."

__ADS_1


"Siapa?" Teriak Rendy. Anita tersentak. Bahkan, bukan hanya Anita. Ros, Mila, Nina dan Anto yang ternyata juga berada di sana, ikut tersentak dengan teriakan Rendy barusan.


"Tuan Vero!" jawab Anita akhirnya. Rendy sungguh tidak percaya. Ternyata, apa yang Ros katakan tadi di sambungan telepon memang benar adanya. Vero dalang di balik ini semua.


"Kurang aj*r!" geram Rendy, "ternyata pria brengs*k itu masih hidup. Dan dia sudah membodohi kita semua," ujar Rendy dengan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Kau!" tunjuk Rendy. Ia mengalihkan pandangannya pada Anita "beraninya kau!" lanjutnya kemudian.


"Maafkan aku Tuan! Aku hanya orang suruhan saja. Tidak lebih!" kata Anita membela diri. Tentu saja! Siapapun, tidak ingin di salahkan, termasuk juga Anita.


"Dimana orang itu bersembunyi sekarang?" tanya Rendy, "Aku akan membuat perhitungan dengannya," kata Rendy sambil menatap tajam Anita.


"A-aku tidak tau Tuan!" jawab Anita.


"Kak, aku serahkan wanita ini padamu. Biarkan dia menjadi urusanmu," kata Rendy pada Surya.


"Tentu Ren. Biarkan dia menjadi urusanku," Surya membalas ucapan Rendy dengan menyunggingkan senyuman.


"Terlambat! Semua pengakuanmu itu, sudah terlambat. Walaupun kau mengemis darah pun saat ini, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu. Camkan itu Anita!" balas Rendy tanpa memalingkan wajahnya dari Ros.


Berjalan keluar sambil menggandeng tangan Ros dengan begitu mesra. Walaupun wajahnya terlihat sekali sedang menahan rasa kesal dan amarah. Namun, prilakunya pada Ros tetap sama, hangat dan mesra.


...***...


"Dengar sayang. Kamu harus berhati-hati, aku tidak tenang sekarang, setelah mengetahui jika ternyata Vero masih hidup. Aku mohon, kita kembali dulu ke rumah kita yang dulu. Setelah masalah Vero selesai, kita kembali lagi ke rumah kontrakan kita. Bagaimana?" ucap Rendy kala keduanya sedang berada di sebuah taman dekat kantor Ros.


Ros mengangguk, "jika itu memang keputusan darimu, maka aku akan menyetujuinya," kata Ros lembut. Apa yang di katakan oleh Rendy sangat benar. Di rumah kontrakannya sekarang, sangat tidak aman. Berbeda dengan di rumah mewah mereka. Banyak pelayan dan penjaga, Ros aman di sana.


"Benar sayang?" tanya Rendy seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ros menyetujui permintaannya tanpa membantah atau pun apa.


"Tentu Kak. Kenapa juga aku harus tidak setuju. Semua yang kamu katakan memang benar. Aku aman di sana. Sedangkan di rumah kontrakan kita, kita hanya tinggal berdua saja. Tentu kamu akan sangat mengkhawatirkan aku bukan, jika kamu pergi untuk bekerja dan meninggalkan aku sendiri," jawab Ros panjang lebar.


Rendy tersenyum senang. Di genggamnya tangan perempuannya itu dengan sangat erat, lalu ia kecup dengan pelan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, karena mendukung dan mematuhi apa yang aku inginkan dan aku katakan," ucap Rendy yang tak melepaskan genggaman tangannya dari Ros.


"Tentu Kak. Maaf karena aku sudah egois dengan memintamu menuruti semua keinginanku," ujar Ros jujur.


"Tidak, tidak! Ini semua hanya salah paham. Dan kamu sudah tau kan? Kamu juga percaya kan padaku sekarang?" ucap Rendy seraya bertanya.


Ros menganggukkan kepala. Ia juga merebahkan kepalanya di bahu Ros sambil memejamkan mata. Menikmati indahnya sebuah rumah tangga jika keduanya bisa saling memaafkan, saling memahami dan saling bisa mengakui kesalahan masing-masing tanpa adanya sebuah kata bernama gengsi.


Kini, Ros mengerti, apa artinya saling melengkapi.


"Terima kasih Kak, karena sudah mau menerimaku apa adanya," ungkap Ros.


"Akulah yang harusnya berterima kasih Sayang. Karena dirimu mau menerima semua kelebihan dan kekuranganku," Rendy juga mengungkapkan isi hatinya.


Semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajah keduanya. Rambut Ros yang mulai memanjang, tertiup hingga menutupi sebagian wajah Rendy.


Bau harum dari rambut Ros langsung menyeruak ke indera penciuman Rendy.


Rendy memejamkan mata. Menikmati aroma harum yang memanjakan penciumannya. Aroma kesukaannya begitu menusuk, namun tak mampu untuk melukainya sama sekali. Justru, Rendy sangat menikmati aroma tersebut.


"Ini sudah sore sayang. Kita pulang sekarang. Aku sudah tidak tahan dengan aroma rambutmu itu," kata Rendy yang membuat Ros langsung mengangkat wajahnya dari bahu Rendy.


Diciumnya rambutnya sendiri oleh Ros. Mengendus dengan seksama. Apakah benar, rambutnya itu mengeluarkan bau? Pikir Ros.


"Apakah rambutku benar-benar bau Kak?" tanya Ros keheranan. Ia sudah mencium rambutnya sendiri. Namun, tak Tercium bau sama sekali. Rendy pasti berbohong. Tuduhnya lagi dalam hati.


"Sangat bau sayang. Saking baunya, aku jadi ketagihan dan ingin menciumnya lagi dan lagi," kekeh Rendy yang membuat Ros langsung melayangkan cubitan keras di paha Rendy.


"Aw! Sakit sayang!" Rendy mengusap-usap pahanya sendiri.


"Aku kira, rambutku benar-benar bau. Ternyata, kamu mengerjaiku!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2