
"Pamit mau kemana?" kembali Jeng An menanyakan pertanyaan yang sama pada Ros. raut wajahnya sedikit berubah. Mungkin, dia akan kehilangan sesosok tetangga baru yang belum ia cari tau bagaimana sifat aslinya.
"Kami mau ke rumah kami yang dulu Jeng An," jawab Ros sambil tersenyum.
"Loh, kenapa?" tanya Jeng An, "di si i gak betah ya?" tanyanya lagi.
"Bukan, bukan!" jawab Ros cepat sambil mengangkat kedua tangannya.
"Terus kenapa kamu sama suami kamu mau pergi dari sini? Kalian 'kan baru beberapa hari di sini!" raut wajah Jeng An berubah sendu. Kenapa dengan orang ini? Pikir Rendy. Baru juga kenal beberapa hari, sudah bersikap seperti sudah kenal beberapa tahun saja.
"Kami... Ada urusan mendadak Jeng An, jadi... Kami harus pulang dulu," jawab Ros dengan sedikit rasa tidak enak. Dirinya juga sebenarnya sudah nyaman berada di lingkungan ini. Namun, apa daya, keselamatan dirinya dan juga Rendy sedang di pertaruhkan karena kemunculan kembali Vero yang datang ke dalam kehidupan mereka secara tiba-tiba dan tanpa di Disangka-sangka.
"Seperti itu ya?" tanya Jeng An kemudian.
'Ros mengangguk, "iya Jeng An. Sebenarnya, saya juga sudah nyaman berada di sini. Tapi..." Ros tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi kenapa Ros?" Jeng An kembali bertanya, ingin tahu alasannya.
"Tapi kita benar-benar haru pergi, Jeng An," jawab Rendy cepat. Ia mendahului Ros yang ingin menjawab pertanyaan Jeng An, namun ragu-ragu ia katakan.
Dalam hati, pria itu terus menggerutu, "dasar ibu-ibu kepo, ingin tau saja urusan orang."
"Ooo..." sahut Jeng An memajukan bibirnya ke depan.
"Iya jeng."
"Padahal, saya mau ada acara nanti sore. Saya juga sudah berniat mau mengundang kalian berdua jadi tamu saya... Maka dari itu, saya ke sini pagi-pagi begini," wajah Jeng An sedikit memelas.
Loh, kenapa lagi dengan wajahnya? pikir Rendy. keningnya mengerut dengan mata yang sedikit menyipit.
"Mau ada acara apa jeng An?" tanya Rendy akhirnya. Pria itu sedikit kepo dengan acara yang akan Jeng An lakukan.
"Syukuran rumah baru saya mas Rendy. Saya harap kalian mau datang, sebelum pindah lagi dari sini. Hitung-hitung sebagai tanda perkenalan kalian sama warga di kampung sini," jawab Jeng An yang seketika itu juga merubah ekspresi wajahnya, dari murung menjadi senang semringah.
"Jeng An baru bikin rumah?" tanya Ros.
__ADS_1
"Iya Ros. Kamu datang ya? Sore ini, sebelum kalian pergi dari sini. Saya bakalan kecewa banget kalau kalian berdua tidak datang ke acara syukuran rumah baru saya," ucap Jeng An dengan panjang lebar.
"Gimana kak?" Ros mengkode suaminya yang berada tepat di sisinya.
"Gimana apanya?" Rendy mengangkat kedua tangan. Lalu keduanya saling pandang.
"Aku gak enak kak, kalau sudah di undang, tapi gak bisa hadir," bisik Ros di dekat telinga Rendy.
"Terus?" tanya Rendy.
"Kita tunda dulu kepulangan kita ya?" balas Ros masih berbisik.
Jeng An yang ada di depan mereka. Menyipitkan mata sambil menyelidik. Bisik-bisik apa? Pikirnya.
"Gimana Ros? Mas Rendy? Kalian bisa 'kan hadir di acara saya?" tanya Jeng An lagi. Masih berharap jika kedua tetangga barunya itu bisa hadir di acaranya yang entah seperti apa.
"Gimana kak?" Ros melirik Rendy lagi. Rendy sedikit terdiam. Seperti sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan? Menuruti keinginan Ros, atau menolaknya dengan alasan keselamatan mereka.
Bingung!
Akhirnya Rendy merasakan kembali yang namanya kebingungan dengan apa yang harus ia putuskan.
'Dasar tukang maksa!' gerutu Rendy tanpa suara.
"Ya sudah, karena Jeng An ini memaksa. Saya dan istri saya akan hadir di acara syukuran rumah baru nya Jeng An!" jawab Rendy dengan sedikit menekankan nada bicaranya. Agar jeng An tahu, jika dirinya sedikit terpaksa dengan undangan dari ya yang terkesan sangat mendadak.
Ros berbinar mendengarnya. Apalagi jeng An yang sudah mengeluarkan segala jurus untuk mengundang Ros dan Rendy agar hadir ke acaranya.
"Wah... Serius nih, mas Rendy? Ros?" tanya Jeng An memastikan.
"Kalau suami saya sudah bilang begitu, berarti dia serius Jeng An," jawab Ros membanggakan suaminya di depan Jeng An.
Jeng An terkekeh, "kalau gitu, saya tunggu kalian jam empat sore nanti di rumah saya ya... Saya mau keliling lagi buat nyebarin serta ngundang para tetangga yang belum pada tau," ujarnya.
"Eh Jeng," panggil Ros.
__ADS_1
"Iya Ros. Ada apa?" tanya Jeng An.
"Emh, kalau boleh tau... rumahnya Jeng An itu, sebelah mana ya?" tanya Ros kemudian. Rendy juga ingin tau.
"Oo... iya iya, saya sampai lupa nunjukin dimana rumah saya berada." Jeng An menepuk jidatnya sendiri.
Ros menyimak, begitu pun Rendy.
"Rumah saya... yang paling besar dan mewah di kampung sini Ros, mas Rendy," jawab jeng An penuh dengan kebanggaan. Tangannya ia gerak-gerakkan untuk merapikan rambut. Rendy menyipitkan matanya kembali. Jawaban macam apa pikirnya. Wanita ini sombong atau apa? "Kalian tau 'kan dimana rumah saya?"
"Ooo.." kali ini Ros yang ber oh ria. Ia tidak memedulikan apa yang Jeng An sombongkan padanya. Tapi, letaknya di mana, ia mana tau. Rumah yang paling mewah dan besar di kampung sini. Memang itu di mana? Ros bertanya-tanya dalam hati. Begitupun Rendy.
"Aduh Jeng, kami mana tau di mana rumah Jang An. Memangnya, seberapa mewah sih, rumah Jeng An itu?" tanya Rendy semakin memancing keinginan Jeng An untuk pamer. Alias memamerkan kehidupan mewahnya di antara pada warga kampung sini.
"Mewah banget dong, mas Rendy. Pokoknya, kalian nanti harus datang ke rumah saya ya... Awas aja kalau gak datang. Nanti nyesel loh!"
"Nyesel kenapa Jeng An?" tanya Rendy makin penasaran.
"Nyesel gak bisa lihat rumah mewah saya dong! Emangnya apa lagi?"
"Astaga naga!" Rendy menepuk jidatnya tidak percaya. Dia pikir, akan menyesal kenapa? Nyatanya? Sangat tidak bermutu sekali! Pikirnya lagi. Benar-benar aneh!
Sedang Ros, wanita itu semakin mengulum senyum, mendengar apa yang Jeng An ucapkan.
...***...
"Ayo kak, nanti kita bisa terlambat!" ujar Ros pada Rendy. Dirinya sedikit tergesa sore ini. Takut jika ia terlambat menghadiri acara undangan syukuran rumah baru dari Jeng An.
"Sebentar sayang," jawab Rendy yang masih rebahan di atas kasur. Pria itu begitu malas untuk datang ke acara tersebut. Kesal pada orang yang mengundangnya, lebih tepatnya.
"Cepat siap-siap Kak. Aku gak enak sama Jeng An, yang udah ngundang kita," kata Ros sambil merapikan gamis yang ia pakai. Gamis berwarna mocca, yang di padupadan kan dengan warna jilbab yang senada dengan gamisnya, begitu cocok Ros kenakan.
"Sayang, itu jilbab kamu miring sedikit loh!" kata Rendy sambil menunjuk Ros dengan telunjuknya. Ia sengaja mengatakan itu, untuk mengulur waktu.
"Serius?" Ros langsung berbalik menatap cermin, melihat apa yang barusan Rendy katakan.
__ADS_1
Di balik cermin, Ros melihat Rendy yang sedang terkekeh setelah Ros berbalik. Dirinya yakin, pasti Rendy baru saja mengerjainya.
Bersambung...