
Sudah delapan jam setelah transfusi darah yang di lakukan oleh dokter dengan Rendy sebagai pendonornya. Namun, tak ada tanda-tanda Ros akan sadar. Hanya masa kritis yang sudah ia lewati, tapi kendaraannya belum datang juga. Rendy mulai panik, Maya apalagi. Hanya Ajeng yang mampu mengontrol emosi dalam diri.
"Ini sudah delapan jam, Dok. Kenapa istriku belum sadar juga?" tanya Rendy dengan raut wajah panik.
"Tenang, Tuan. Kita serahkan semuanya pada yang di atas. Terus berdoa dan minta kesembuhan bagi istri Anda. Semoga saja, Tuhan mendengar semua doa-doa Anda," balas dokter sambil menepuk-nepuk bahu Rendy.
"Dokter benar, Ren. Berdoa lah. Hanya itu jalan satu-satunya agar Ros sadar," ucap Ajeng. Membenarkan apa yang dokter ucapkan pada Rendy.
"Baik Ma," balas Rendy. Pria itu tampak berjalan dengan langkah yang gontai. Melewati koridor dengan perasaan khawatir yang terus menerus mengusik dada. Delapan jam berlalu, istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Suami mana yang tidak cemas melihatnya?
"Ren?" Dari arah depan, terlihat Surya memanggil.
Rendy menatap wajah Surya yang berlari menghampiri Rendy. Padahal, Rendy juga sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa Kak?" tanya Rendy.
"Aku sudah mendapatkan kabar. Doni, juga terlibat dalam semua ini Ren," ucap Surya memberi tahu. Rendy mengepakkan tangan mendengarkan Surya bercerita. Walaupun ia tahu apa yang sudah Doni lakukan pada adiknya. Namun, Rendy juga tidak menyangka, jika Doni bekerja sama dengan Vero juga Matthew untuk mencelakai orang orang yang Rendy lindungi.
"Kakak tidak salah berbicara 'kan?" Rendy memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sudah menyelidikinya sendiri. Dan kau tahu yang lebih gila lagi dari ini?" tanya Surya. Rendy mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Ternyata, Doni dan Vero adalah adik dan kakak sepupu. Mereka berdua bersaudara. Dan pernikahan Doni dengan Kayla, sudah di rencanakan sebelumnya. Mereka ingin menyerangmu lewat Kayla," jawab Surya yang membuat Rendy tercengang.
"Kurang ajar! Jadi mereka sudah merencanakan semuanya. Aku benar-benar kecolongan," ujar Rendy. Sebelah tangannya mengepal, memukul dinding di sebelahnya sebagai bentuk pelampiasan.
"Aku tidak akan memaafkan mereka semua. Dan untukmu Doni, lihat apa yang bisa aku lakukan untukmu. Kau sudah menyerang mental adikku. Kau membuatnya sakit dengan semua perlakuan mu pada Kayla. Aku benar-benar tidak akan melepasmu!" ujar Rendy lagi.
"Oh iya, Herman sudah sadarkan diri. Salah satu perawat sudah mengabariku. Kau mau melihat keadaannya?" tanya Surya.
"Tentu Kak."
Tiba di tempat tujuan, Rendy langsung masuk dengan tergesa. Herman yang sudah sadarkan diri, di buat heran dengan langkah Tuannya.
"Tu-tuan," kata Herman terbata.
Rendy tak menjawab. Ia terus berjalan dengan sorot mata tajam, menatap ke arah Herman. Pria itu gelagapan. aApa kesalahannya? pikirnya bingung.
__ADS_1
"Kau!" Rendy mencengkeram erat pakaian Herman dengan kedua tangannya.
"A-a-apa salah saya, Tuan?" tanya Herman tidak mengerti. Wajahnya sedikit ketakutan. Kenapa Rendy malah mencengkeram erat pakaiannya? Salah apa dia?
"Salahmu... Karena Kau sudah mengorbankan nyawamu sendiri demi Aku. Apa kau tidak berpikir terlebih dahulu? Bagaimana dengan keluargamu? Anak dan istrimu? Apa kau mau, mereka semua menghakimiku, karena Aku, kau jadi seperti ini!" ujar Rendy tanpa membiarkan Herman berbicara.
Pria yang berstatus sebagai sopir pribadi itu berkaca-kaca. Ternyata, Rendy begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Herman. Rendy membulatkan mata.
"Kau gila Herman. Kau gila!" ucap Rendy. Ia menggelengkan kepalanya dengan ucapan terima kasih yang Herman ucapkan padanya.
"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya," ucap Herman lagi. Rendy menepuk-nepuk bahu Herman.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Surya yang baru saja datang. Langkahnya tertinggal oleh sang adik, karena Rendy begitu senang dengan kesadaran Herman.
"Sudah lebih baik, Pak!" jawab Herman.
"Baguslah!" balas Surya. "Keluargamu sebentar lagi akan datang. Aku sudah menghubungi mereka sedari tadi. Namun, baru saat ini tersambung," lanjut Surya.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak. Tidak usah repot."
"Hei, siapa yang repot. Itu belum seberapa dengan apa yang sudah kau korbankan untuk menyelamatkan nyawaku," ucap Rendy sewot. Herman tertawa mendengarnya, begitu pun dengan Surya.