Dia Milikku

Dia Milikku
Sudah jatuh tertimpa tangga


__ADS_3

"Beraninya kau membuka mulutmu dan mengatakan jika aku lah yang sudah menyuruhmu menghancurkan kehidupan rumah tangga Ros dan Rendy!" ujar seorang pria tampan. Namun, hatinya tidak setampan wajahnya.


Vero! Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Vero. Ia mencengkram erat wajah Anita dengan sebelah tangannya. Hingga tangannya mengeras dan sedikit memutih. Menandakan jika Vero benar-benar sedang di Landa amarah yang teramat besar pada wanita di hadapannya.


"Ma-maafkan aku Tuan," kata Anita terbata-bata. Wajahnya sakit, pipinya apalagi. Dan tangannya, tak bisa berbuat apa-apa, karena tenaganya tak sebanding sama sekali dengan tenaga Vero yang teramat besar.


"Maaf kau bilang!" ucap Vero dengan nada geram. Ia bahkan semakin mempererat cengkraman tangannya di wajah Anita.


"Maafkan aku Tuan!" ucap Anita kembali.


"Kau tidak pantas mendapatkan maafk dariku Anita. Kau telah membongkar rahasia tentang kematianku pada Ros dan Rendy! Apa manusia pengkhianat seperti dirimu, pantas untuk aku maafkan?" balas Vero yang membalikkan pertanyaan pada Anita.


"Aku mohon Tuan. Jangan hukum aku..." lirih Anita seraya memohon. Wanita itu sudah benar-benar sangat takut dengan ucapan Vero saat ini. Apalagi wajahnya tidak menunjukkan sedikit rasa prihatin ataupun kasihan untuk Anita.


Sungguh, wanita itu benar-benar telah jatuh pada lubang yang salah. Sudah jatuh, tertimpa tangga juga. Baru saja lepas dari teman-teman Ros, juga Ros dan Rendy, ia terjebak pada Surya. Lalu setelah itu, Vero berhasil merebutnya dari tangan Surya dengan sedikit mengecoh-nya. Dan saat sudah berada di tangan Vero, Anita masih saja berada dalam kondisi yang tidak aman.


Antara hidup dan mati! Kini Anita berada.


"Aku memang tidak akan menghukummu Anita. Kau tenang saja!" ucap Vero dengan seringai yang tak mampu Anita lihat dengan mata telanjang.


Wanita itu merasakan sedikit lega di dadanya. Namun, apakah Vero berucap jujur? Karena setahu Anita, Vero bukanlah orang yang dapat di percaya, walaupun Vero berstatus sebagai bos-nya.


"Sung-sung...guh Tuan?" tanya Anita ragu-ragu.


"Tentu saja. Aku tidak akan menghukummu, melainkan langsung membunuhmu!" jawab Vero yang kali ini menampakkan seringai jahatnya di depan Anita.


Anita menggeleng. Ia ketakutan setengah mati dengan jawaban dari Vero barusan. Lebih baik di penjara, dari pada harus di hukum mati dengan cara di bunuh. Pikir Anita dalam hati.

__ADS_1


...***...


"Mau kemana Ros? mas Rendy?" tanya seorang warga kampung, tetangga Ros dan Rendy.


"Eh, Mbak! Saya mau ke rumahnya Jeng An. Tapi, saya gak tau di mana rumahnya," jawab Ros ramah.


"Walah, kebetulan... Saya dan ibu-ibu yang lainnya juga mau ke rumahnya Jeng An," ucap si Ibu mewakili yang lainnya.


"Serius Mbak?" tanya Ros dengan wajah serius.


"Iyalah Ros. Masa sih saya bohong!" jawab wanita itu, "kalau gitu, gimana kalau kita barengan aja ke rumah si Jeng An itu?" tawarnya kemudian.


Ros menatap Rendy. Meminta persetujuan dari suaminya tanpa kata, hanya sebuah kode lirikan mata saja. Lalu Rendy pun merespon lewat anggukan kepala. Sebagai tanda, jika ia menyetujui usulan atau ajakan dari para tetangganya.


"Boleh ibu-ibu?"


Beberapa menit kemudian, semua rombongan ibu-ibu yang sudah di undang oleh Jeng An, tiba di tempat tujuan. Mereka semua menatap takjub pada bangunan mewah di hadapan mereka. Hanya Ros dan Rendy saja yang terlihat biasa-biasa saja dengan bangunan mewah tersebut.


"Nah, ini rumahnya Jeng An, Ros, mas Rendy," kata wanita itu memberitahu.


Tanpa di beri tahu pun, aku sudah tau! gerutu Rendy dalam hati. Ia tak mampu mengucapkannya secara langsung, karena takut Ros akan marah padanya. Jadi, lebih baik mencari aman saja dengan menggerutu dalam hati saja. Pikir ya lagi.


"Ini rumahnya sayang? Rumah paling megah dan paling mewah di kampung ini katanya! Tapi, bagiku ini tidak seberapa. Rumah kita jauh lebih megah dan mewah. Ini sama sekali tidak ada apa-apanya!" bisik Rendy seraya mencibir.


"Hus!" Ros membuat Rendy bungkam. Ia yang hendak mengeluarkan lagi bahasa kalbunya untuk rumah Jeng An, langsung mengurungkan niatnya.


"Kenapa sayang?" tanya Rendy seraya berbisik.

__ADS_1


"Itu tidak baik Kak. Kita tidak boleh membanding-bandingkan apa yang kita punya, dengan milik orang lain. Aku tidak suka itu!" Ros menekankan nada bicaranya pada Rendy, yang membuat Rendy seketika bungkam.


"Iya, maaf sayang. Aku 'kan tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk membandingkan apa ya g kita punya, dengan apa yang Jeng An punya," Rendy berbisik lirih. Sungguh, ia benar-benar tak bisa menjaga mulutnya agar tak mengeluarkan bahasa kalbu untuk Jeng An di hadapan Ros.


"Eh, ibu-ibu, Ros, mas Rendy... Akhirnya, kalian datang juga." Wanita dengan dandanan glamor, datang dari arah pintu masuk, keluar dan menyapa para tamu yang baru saja datang ke rumah barunya.


"Ko malah diem aja. Ayo! Masuk-masuk!" ajaknya kemudian dengan ramah.


"Aduuuh... Makasih loh, Jeng An. Repot-repot nyuruh kita masuk. Nanti, rumah barunya jadi kotor loh, karena kita-kita semua ini," ujar salah seorang ibu-ibu yang datang bersama rombongan Ros dan Rendy.


"Gak papa dong Bu, aku malah seneng, rumahku kedatangan banyak tamu kayak gini! Gimana Ros, mas Rendy, rumah saya bagus kan?" tanya nya sambil melirik pada Ros dan Rendy yang menatap biasa saja pada rumah Jeng An. Tidak seperti para tetangganya, yang menatap takjub pada bangunan mewah milik jeng An.


"Iya Jeng An, rumahnya bagus sekali," ucap Ros memuji. "Benar kan Kak?" Ros mengikut siku Rendy sambil menekankan pertanyaannya.


"Eh, iya-iya... Rumah jeng An ini bagus sekali. Paling megah dan mewah di antara rumah yang lainnya," balas Rendy sambil memuji. Walau dalam hati, pria itu merutuki apa yang baru saja terjadi.


"Wah, senengnya saya... di puji sama tetangga baru," kata Jeng An yang terlihat memasang wajah malu-malu tapi menyebalkan.


"Eh, kenapa pada diam di luar terus... Ayo semuanya, masuk dulu. Silahkan di makan hidangan yang sudah tersedia. Jangan sungkan-sungkan, anggap aja ini di restoran." Jeng An berjalan duluan menuju ruang yang sudah ia sediakan untuk para tamu undangan yang datang.


"Sekali lagi makasih ya Jeng, karena sudah mau mengundang saya beserta suami ke acaranya jeng An," kata Ros pelan.


"Saya yang harusnya berterima kasih sama kalian. Karena kalian mau meluangkan waktu kalian yang berharga, buat datang ke acara saya."


"Mas Rendy, ayo! Di cobain kue-kue sama makanannya. Pasti mas Rendy ketagihan. Ini semua, saya pesen dari catering loh!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2