Dia Milikku

Dia Milikku
Anggap saja saya tidak ada!


__ADS_3

"Dokter Fahri bercanda! data mereka sudah lama menghilang, mereka, keluarga Dipradja sudah meninggal lama sekali akibat insiden kecelakaan! aku ini seorang anggota polisi dok! aku ini seorang jenderal!" ujar Surya kemudian.


Dokter Fahri semakin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bercanda Surya, aku serius! apa kau tidak bisa melihat ekspresi wajah serius ku saat ini!"


Surya memperhatikan raut wajah dokter Fahri dengan seksama, memandangi matanya, melihat apakah Surya mengajak adanya kebohongan dari ucapan dokter Fahri padanya? namun nihil, Surya tak melihat ataupun menangkap kebohongan dari raut wajah dan juga mata dokter Fahri yang ditunjukkan padanya.


"Kenapa saya harus mempercayai ucapan anda Dok?" tanya Surya kemudian.


"Karena saya tidak berbohong! saya serius, saya juga mengetahui jika kamu memiliki tanda merah di bagian perut atas kamu, tepatnya sebelah kiri pusar mu!"bisa jawab Fahri yang membuat Surya membulatkan matanya tak percaya.


Pasalnya, hanya ia dan Rendy lah yang mengetahui keberadaan tanda merah itu di tubuhnya. Bahkan, Bu Ajeng pun tak mengetahuinya.


"Dari mana anda tahu?" tanya Surya dengan menyelidik.


"Karena saya adalah pamanmu Surya, saya adik dari ibumu! saya yang selalu membantu ibu mu untuk merawat mu saat kamu masih kecil!" jelas Fahri.


"Tidak mungkin!" sanggah Surya.


"Itu mungkin Surya, tidak ada ! tidak mungkin di dunia ini!" jelas Fahri lagi, "saya sudah membuktikannya dengan tes DNA itu!" lanjut Fahri.


"Ya, dari mana anda bisa melakukan tes DNA ini?" tanya Surya.


"Maafkan saya Surya, saya sudah lancang! saya melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan kamu!" jawab Fahri, "kamu ingat pertemuan kedua kita di cafe xxx dulu?" tanya Fahri kemudian.


"Ya, saya mengingatnya!" jawab Surya.


"Saat saya memeluk kamu, saya tidak sengaja menemukan rambut kamu yang terjatuh di baju mu, dan saya berinisiatif mengambilnya, lalu saya melakukan tes DNA dengan rambut milik ibu kamu!" jelas Fahri.


Surya terdiam, dengan sejuta pikiran dan pertanyaan yang melintas di benaknya.


"Sekali lagi, maafkan saya Surya! saya hanya ingin membuktikan rasa penasaran saya saat pertama kali melihatmu! kesan pertama saat saya melihatmu adalah


'wajahmu tak asing bagiku' jadi saya nekat melakukannya, maafkan saya Surya" ujar Fahri lagi.


"Anda tahu Dok! melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan orang yang di tes DNA adalah sebuah kejahatan, itu ilegal dok," balas Surya setelah terdiam beberapa detik.


"Saya tahu Surya, maka dari itu, maafkan saya!" balas Fahri.


...***...


"Sayang? apa semuanya sudah selesai membereskan pakaiannya?" tanya Rendy kepada Ros.


"Sudah sayang! kita pulang sekarang!". balas Ros.

__ADS_1


"Ayo?" Rendy mengulurkan tangannya saat mengajak Ros pulang, sebelah tangannya menggandeng Ros dan sebelah tangannya lagi menyeret koper mereka yang berukuran cukup besar.


"Biar aku yang bawa kak!" pinta Ros yang hendak mengambil koper dari tangan Rendy.


"Eits, mau apa?" tanya Rendy yang menjauhkan koper dari jangkauan Ros.


"Mengambil koper!" jawab Ros.


"Sudah! kamu cukup diam, dan berada dalam gandengan tangan ku, itu sudah sangat membantu ku!" ujar Rendy yang si sambut senyuman hangat dari Ros.


"Serius gak papa?" tanya Ros, "aku bisa ko!" lanjut Ros.


"Kalau kamu terus maksa mau bawa koper ini! aku gendong kamu sampai rumah!" ujar Rendy yang langsung membuat Ros menuruti perkataan Rendy.


"Haha, aku bercanda sayang! jangan di buat serius, kau boleh mengambil koper itu, bahkan kalau perlu..., semua koper yang berada di hotel ini juga boleh kamu bawa jika kamu kuat!" ujar Ros yang mengundang gelak tawa dari Rendy.


"Hahaha..., jika kamu menginginkan nya, aku siap membawakan semua koper koper milik mereka semua! semua orang yang berada di sini!" balas Rendy yang membuat Ros sulit untuk berkata lagi.


"Kenapa?" tanya Rendy sambil terus berjalan menuju lift.


"Tidak!" jawab Ros.


Ting!


pintu lift terbuka, Ros dan Rendy berjalan masuk kedalam lift.enutup pintu lift dan menekan tombol paling bawah menuju lobby.


"Aku sangat bersyukur bisa mempunyai suami seperti kamu kak!" ucap Ros lembut.


"Aku juga sangat bersyukur bisa memiliki istri yang cantik dan baik hati seperti dirimu! apalagi istri yang selalu bisa memuaskan dan melayani suaminya dengan sangat baik, haha!" balas Rendy dengan tawa renyahnya, membuat Ros memukul pelan tangan Rendy dengan tawa yang memenuhi hampir seluruh bibirnya.


Ting!


Pintu lift terbuka, Rendy kembali menggandeng tangan Ros keluar dari dalam lift.


"Ayo sayang!" ajak Rendy


"Ayo!" balas Ros dan keduanya pun keluar dari dalam lift.


"Selamat pagi tuan? selamat pagi nyonya?" sapa resepsionis.


"Selamat pagi!" jawab Ros.


"Hmm...," balas Rendy.

__ADS_1


"Senyum sedikit kak, jangan terlalu kaku sama orang lain!" bisik Ros dengan senyumnya yang tak pudar sedari pagi.


"Senyuman ku ini hanya untuk istriku seorang, orang lain tidak berhak melihatnya!" balas Rendy, "begitupun dengan senyum mu, hanya aku, suamimu yang berhak melihatnya!" lanjut Rendy.


Ros pun mengerutkan alisnya, " mulai lagi! sepertinya aku salah bicara!" batin Ros.


"Jangan memancingku ya?" bisik Rendy yang entah apa maksudnya, tapi Ros seperti tersihir dengan bisikan Rendy di telinganya barusan.


"Haha! sayang, apa maksudmu!" balas Ros setelah beberapa saat terdiam.


"Ayo masuk!" ajak Rendy setelah tiba di depan hotel dan langsung membukakan pintu mobil untuk Ros.


"Biar saya saja tuan!" ujar sopir saat hendak membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Tidak usah! biar saya saja!" tolak Rendy, "kamu tolong bawakan koper saya dan masukkan ke dalam bagasi mobil!" suruh Rendy kemudian.


"Baik tuan!" balas sopir itu yang langsung membawakan kopernya dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.


Ros pun masuk ke dalam mobil setelah Ros masuk, dan keduanya kini sudah berada di dalam satu mobil yang sama.


"Jalan pak!" ucap Rendy.


"Baik tuan!" balas sopir, "Emh..., maaf tuan! kita akan kemana sekarang?" lanjut sopir seraya bertanya.


"Ke rumah saya pak!" jawab Ros.


"Baik tuan!" sahut sang sopir yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang.


Didalam mobil, pasangan pengantin baru itu tak henti hentinya bersikap mesra, layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya.


"Mas, malu!" ujar Ros saat Rendy terus menciumi nya di dalam mobil.


"Malu kenapa? pada siapa? pada pak supir?" balas Rendy secara beruntun.


Ros tak menjawab ucapan Rendy, Ros terus menyingkirkan mulut Rendy dari pipinya.


"Pak supir, kamu tidak melihat kami bukan!" tanya Rendy.


"Tidak tuan! saya tidak melihat apapun, kaca spionnya juga sudah saya alihkan ke arah yang lain, jadi saya tidak bisa melihat apapun dari belakang!" jawab sopir itu.


"Kamu dengar kan sayang?" ucap Rendy kemudian yang merasa sangat menang.


"Jangan hiraukan saya tuan, nyonya, anggap saja saya tidak ada!" ujar sopir seolah membela Ros.

__ADS_1


"Apa? apa apaan dia ini! bisa bisanya sopir ini mengatakan jangan hiraukan saya, anggap saja saya tidak ada! mana bisa begitu, dia kan sebesar itu, sudah pasti aku melihatnya," batin Ros.


Bersambung...


__ADS_2