
Rendy mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya sendiri. Hatinya sudah dag, dig, dug, tak karuan. Pria yang sudah berstatus sebagai seorang suami itu takut, jika istrinya terbangun dan dirinya ketahuan telah keluar dari rumah tanpa mengabari juga tanpa mengajaknya.
Krekkkk...
Suara dari pintu kamar yang di buka secara perlahan, membuat hati Rendy kembali tak karuan. Ia memejamkan mata, sampai pintu terbuka dengan sempurna.
"Aku mohon ya Tuhan, jangan bangunkan istriku. Biarkan ia tidur lelap sampai pagi," doa Rendy dalam hati.
Pintu terbuka dengan sempurna. Sesosok wanita berselimut tebal, masih terlelap dalam tidurnya.
Rendy tersenyum senang. Dadanya terasa lega seketika. Apa yang ia panjatkan sebagai doa, benar-benar di kabulkan oleh sang maha kuasa.
Berjalan menuju lemari, gegas Rendy membuka seluruh bajunya sendiri yang sedikit basah, karena tadi sempat kehujanan saat menunggu jemputan dari Herman. Menggantinya dengan piyama yang Ros belikan untuknya. Tak lupa ia menggantung bajunya yang sedikit basah, di gantungan yang berada di balik pintu, agar besok, pakaiannya itu sedikit mengering saat hendak tos cuci.
"Ah, leganya!" gumam Rendy. Pria itu langsung beranjak menuju tempat tidur. Mengambil posisi paling enak, yaitu dengan memeluk tubuh Ros dari belakang. Merasakan aroma tubuhnya yang selalu membuatnya candu.
Hangat dan nyaman. Itu yang Rendy rasakan saat ini.
Perlahan tapi pasti, mata Rendy ikut terlelap bersamaan dengan sang fajar yang sebentar lagi akan tiba saatnya menjalankan tugas dari sang maha pencipta.
...***...
"Kak, bangun! Tidak biasanya kamu sudah untuk di bangunkan!" gerutu Ros yang sedari tadi membangunkan Rendy. Namun, pria itu tak kunjung juga membuka mata. Jangankan membuka mata, sedikit bergerak dari tempatnya saja tidak!
Ros mendengkus sebal. Apa yang terjadi pada suaminya? Kenapa Rendy sangat sudah untuk di bangunkan?
Sarapan di meja makan sudah tersedia. Jika di biarkan begitu saja, pasti nanti akan dingin. Dan Ros tidak terlalu menyukai makanan yang sudah dingin.
Kurang nikmat rasanya. Selera Ros.
"Kak, cepat bangun!" Ros masih mengguncang tubuh Rendy yang tak bergerak sama sekali.
__ADS_1
'Hem...'
Rendy hanya mengerang kecil. Setelahnya, pria itu kembali terlelap.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bangun... Aku tinggalkan kamu sendiri di sini. Biar aku pergi ke rumah kita sendiri!" ancam Ros, membuat Rendy sedikit membuka mata. Namun, karena kantuk lebih mendominasi, matanya kembali terlelap lagi. Tak menghiraukan sama sekali apa yang Ros ucapkan padanya. Dia kira, itu hanyalah sebuah mimpi saja.
"Masih tidak mau bangun juga? Baiklah kalau begitu, aku pergi saja!" ancam tos kembali. Ia berjalan menuju pintu keluar menuju meja makan. Memakan sarapannya sendiri, tanpa Rendy yang menemani. Jika di biarkan, makanan itu nanti dingin, dan jika sudah dingin, Ros malas jika harus menghangatkannya lagi. Jadi, terpaksalah Ros memakannya sendiri. Dari pada makanannya tidak termakan sama sekali. Sayang! Pikirnya.
Di luaran sana, banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan makanan, sedangkan Ros, wanita itu di berikan rejeki berlebih untuk memenuhi perut serta kebutuhan hidupnya. Jadi, jika dia membuang-buang makanan, Ros merasa bersalah pada orang-orang yang hidupnya kurang beruntung.
"Kenapa dengan suamiku? Tidak biasanya dia seperti itu!" Ros bertanya-tanya sendiri. Juga bingung sendiri. Pasalnya, semua pertanyaan tidak mendapatkan jawaban dari mulutnya sendiri.
Apakah yang sebenarnya terjadi?
...***...
"Hah! Jam berapa ini, sekarang?" tanya Rendy setelah ia terbangun dari tidurnya yang cukup panjang.
Kedua matanya sudah selesai Rendy kucek. Pandangannya ia tujukan ke sampai, mencari-cari keberadaan sang istri. Namun, tidak ada sama sekali. Bahkan, bayangannya pun tak terlihat sama sekali.
Di mana kah Ros berada?
"Sayang?" panggil Rendy. Namun, tidak ada jawaban.
"Kamu di mana sayang?" tanya Rendy kembali. Tidak biasanya Ros jika di panggil, tidak menyahut seruannya.
"Di mana istriku? Dan jam berapa ini sekarang?" tanyanya lagi sambil melirik ke arah kanan. Di mana di sana terdapat jam dinding berukuran sedang.
"Apa? Sudah jam sebelas siang!" teriak Rendy tidak percaya. Matanya membulat dengan sempurna, terasa hendak copot dari tempatnya.
Bisa-bisanya ia terbangun sampai lupa waktu seperti ini. Ini pasti karena Rendy pulang terlalu larut.
__ADS_1
Rendy menggerutu sendiri.
"Berarti, yang tadi itu bukan mimpi!" ujar Rendy yang mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat Ros mengancamnya untuk pergi, jika Rendy tidak mau bangun dan membuka matanya.
"Apa jangan-jangan, Ros pergi ke rumah sendiri? Bodoh! Bisa-bisanya aku tidur sampai ke bablasan begini!" gumamnya lagi sambil menyalahkan diri sendiri.
Gegas Rendy pergi ke luar kamar, menuju sebuah kamar mandi yang sudah mulai membuatnya terbiasa dengan semua ini.
Rendy menengok ke kanan dan ke kiri. Semua ruangan sudah bersih dan rapi. Pun di meja makan, sarapan roti panggang dengan campuran selai kacang dan cokelat, sudah ada di atas meja.
Rendy semakin menyesal. Pasti Ros membangunkan dirinya untuk sarapan bersama. Namun, Rendy malah sibuk menuruti keinginan matanya yang terus meminta jatah, karena semalam kekurangan tidur.
"Ah, sial! Semua ini gara-gara Herman!" masih saja, pria itu menyalahkan Herman atas kesalahan yang ia buat sendiri.
Padahal, Herman hanya telah setengah jam lebih saja. Namun, karena hujan dan Herman kebanyakan ngobrol dengan saudaranya, jadilah waktu setengah jam itu, menjadi berjam-jam.
"Baiklah, sebagai rasa bersalahku, akan ku habiskan sarapan buatanmu ini, istriku tersayang," gumam Rendy yang langsung mengambil kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana. Mengambil sepotong roti panggang yang langsung di masukkan ke dalam mulutnya.
"Enak!" gumam Rendy sambil mengunyah makanannya. Walaupun roti panggang itu sudah dingin, tapi tak mengurangi kelezatannya sama sekali. Bahkan, Rendy sampai menambahnya lagi dan lagi. Terus memasukkan roti panggang itu ke dalam hati sampai habis.
Beberapa menit berlalu. Ia kembali teringat akan istrinya. Di mana kah Ros sekarang? Apakah Ros benar-benar sudah pergi sendiri ke rumahnya, ataukah belum?
Gegas Rendy pun mengambil sebuah ponsel yang semalam ia letakkan di atas nakas. Menghubungi seseorang yang berada di rumah mewahnya.
Sambungan telepon terhubung!
"Apa? Tidak ada? Kau pasti bercanda kan? Cepat, cari istriku! Siapa tahu, istriku sudah berada di sana. Tapi, kau tidak tau. Dasar tidak becus!"bentak Rendy pada Herman yang jauh di rumah mewahnya di sana.
"Kalau sampai istriku tidak kau temukan! Awas kau!" ancam Rendy membuat Herman yang berada di sebrang sana, tak bisa berkata apa-apa. Dan hanya bisa mengiyakan saja.
Bersambung...
__ADS_1