Dia Milikku

Dia Milikku
Menegur


__ADS_3

"Karena kau akan merasakan dan mengalaminya sendiri Nina!" jawab Ros dengan wajahnya yang sudah memerah, menahan malu dari tatapan beberapa pasang mata yang mendengarkan Ros mengeluarkan suaranya.


"Haha! Iya juga ya? Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya oleh ku!" Nina menertawakan dirinya sendiri dengan ekspresi yang membuat orang menjadi sangat kesal.


"Karena kau terlalu bodoh Nina!" ujar Mila tiba-tiba. Membuat Nina membelalakkan mata. Bisa-bisanya Mila mengatai Nina bodoh. Setelah sebelumnya Mila berdebat dengan Ros atas persoalan yang tidak penting sama sekali.


"Jangan samakan perdebatan kami dengan ucapan vulgar yang tidak tahu malu itu Nina!" kesal Mila dengan nada bicara yang sedikit meninggi.


"Apa kalian tidak ingin berhenti berdebat di restoran ini?" tanya Ros dengan wajah kesalnya, "Jika kalian akan terus meneruskan pembicaraan ini lebih lanjut lagi, maka aku akan pergi saja dari sini. Dan silahkan kalian berdua lanjutkan perdebatan kalian. Biarkan semua makanan ini menyaksikan kalian berdua berdebat tentang hal yang sama tidak pentingnya dengan hal yang tadi aku dan Mila perdebatkan!" ujar Ros lagi panjang lebar, ia benar-benar kesal, makannya jadi terganggu dengan perdebatan yang tidak penting ini.


"Maafkan kami Ros, kami tidak akan melanjutkan nya lagi!" ujar Mila.


"Benar Ros, kami akan makan dengan elegan dan manis, seperti yang kau inginkan! Benar kan Mil?" sambung Nina dengan mendelik kan wajahnya pada Mila. Dan makan pun di lanjutkan sesuai dengan keinginan Ros. Tenang, damai dan nyaman. Hingga- -


"Maaf semuanya. Anto terlambat!" kata Anto dengan wajah merah dan napas yang terengah-engah, karena Anto baru saja berlari menuju arah meja mereka.


"Dari mana saja sih Anto! Lama tau! Kami sudah lama menunggu kamu di sini," kata Mila dengan memperhatikan wajah Anto yang memerah.


"Maaf mba Mil, mba Nin, mba Ros! Anto baru saja beres. Ada urusan yang harus Anto selesaikan dulu. Hehe!" balas Anto dengan senyumnya yang garing.


"Sini duduk!" Ros mempersilahkan Anto agar duduk di sebelahnya, dan Anto pun langsung mengikuti perintah Ros.


"Makasih mba Ros!" ujar Anto setelah dirinya duduk bersampingan dengan Ros.


"Kamu pasti capek kan?" tanya Ros Kemudian. "Coba ceritakan, apa yang sudah membuat kamu terlambat datang seperti ini?" sambung Ros dengan bertanya sambil memberikan raut wajah serius pada Anto.


Anto yang melihat ekspresi wajah Ros yang sudah serius pun, membulatkan matanya sambil kesusahan menelan ludah sendiri. Ia yakin, pastilah Ros ingin mendengarkan jawaban yang sejujur-jujurnya dari mulut Anto.


"Emh... Anto-- Anto habis ketemuan sama orang mba Ros!" ujar Andi dengan ragu-ragu. Ia masih bingung. Apakah Anto harus mengatakan semuanya pada Ros atau tidak.


"Ketemuan!" kaget Ros. Karena Ros belum pernah sekali pun mendengar Anto pernah ketemuan dengan seseorang sebelumnya.

__ADS_1


"I-iya mba Ros!" jawab Anto masih dengan nada ragu-ragu.


"Dengan siapa?" tanya Ros lagi, masih dengan nada menyelidik, bagaikan seorang polisi.


"De-- dengan...,"


"Dengan siapa Anto? jangan membuat kami menjadi penasaran seperti ini!" kat a Mila menyela. Diikuti dengan wajah Nina yang mengintimidasi saat Anto berkata dengan ragu-ragu.


"Kalian berdua diam lah!" kata Ros dengan menatap tajam ke arah Mila dan Nina. Hingga keduanya pun terdiam setelah mendengar ucapan Ros.


"Anto ketemuan sama...,"


Drettt! drettt! drettt!


Belum sempat Anto melanjutkan ucapannya, handphone di sebelah tangan Ros sudah bergetar. Hingga fokus Ros beralih pada handphone di sebelahnya, untuk mengangkat panggilan.


"Sebentar ya!" kata Ros dengan lembut, sembari mengangkat panggilan telponnya.


"Halo sayang? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Maaf aku tidak bisa menemui mu untuk makan siang bersama. Karena tiba-tiba saja, ada klien yang datang dari luar kota. Dan aku harus menemuinya segera!" kata Rendy di seberang sana.


"Tidak apa sayang. Aku sedang makan bersama seluruh pegawai ku di restoran xxx," balas Ros dengan memberitahukan jika dirinya tidak apa, dan tidak sendiri.


"Benarkah?" tanya Rendy seperti biasa. Ia ingin mengetahui, sedetail mungkin cerita dari Ros. Namun waktu dan kondisi nya sangat tidak memungkinkan untuk Rendy bertanya lebih lanjut lagi.


"Benar sayang! Aku akan menceritakan semuanya saat kita di rumah nanti!" kata Ros yang sangat mengerti dengan keadaan Rendy saat ini.


"Aku menunggunya sayang! Tunggu aku menjemputmu nanti sore, aku akan segera menyelesaikan semua urusanku!" kata Rendy dengan tidak sabarnya.


"Tentu sayang!" jawab Ros dengan perasaan senang.


"Sampai jumpa sayang! Aku mencintaimu!" kata Rendy, sekaligus mengakhiri panggilan telepon nya.

__ADS_1


"Aku juga sayang!" jawab Ros tanpa membalas ungkapan cinta Rendy yang tentu saja itu membuat Rendy kesal.


"Kenapa tidak menjawab perasaan cinta ku sayang? Aku sangat menunggunya!" ujar Rendy yang terdengar sangat kesal.


"Iya sayang! Aku juga mencintaimu. Sudah?" balas Ros dengan senyumnya yang mengembang.


"Aku tidak akan pernah puas mendengar ucapan cintamu itu sayang!" Balas Rendy yang kini sudah tersenyum lepas. Dan itu membuat Ros terkekeh geli.


"Ingat. Aku akan menjemputmu nanti sore. Tunggu aku sampai aku datang ok!" ujar Rendy dengan nada memerintah nya.


"Aku akan menunggumu sampai kapan pun suamiku tersayang!" balas Ros dan panggilan telepon pun terputus.


Ros dan Rendy mengakhiri panggilan telepon mereka dengan perasaan bahagia seperti biasanya. Dan tentu saja itu membuat kedua perempuan yang sedari tadi mendengarkan percakapan Ros dan Rendy, walaupun hanya dari balik telepon, menjadi sedikit iri dengan kemesraan Ros dan Rendy. Bukan iri terhadap hubungan keduanya, melainkan iri karena mereka juga ingin merasakan apa yang Ros rasakan bersama pasangan mereka masing-masing.


"Jadi sampai mana kita tadi?" kata Ros dengan nada bertanya, yang di tujukan entah kepada siapa.


"Ketemuan dengan siapa Anto, Ros!" jawab Mila mengingatkan. Dan otak Ros pun langsung konek dengan ucapan Mila barusan.


"Benar! Aku menanyakan itu tadi pada Anto." Ros menatap tajam Anto. Menunjukkan ekspresi wajah yang sangat serius, sama seperti sebelumnya. Saat Ros bertanya kepada Anto tadi, sebelum menerima panggilan telepon.


"Jadi Anto. Apa kau tidak akan melanjutkan ucapanmu? Ketemuan dengan siapa kau hari ini? Sampai melupakan pekerjaanmu di kantor. Untung saja ada yang bisa menghandle semua pekerjaan mu, kalau tidak?" Ros menegur Anto habis-habisan, sampai Anto menundukkan kepalanya ke bawah, menatap sepatunya sendiri.


"Aku tidak akan melarang mu untuk bertemu dengan siapa pun Anto. Tapi minta lah ijin padaku terlebih dahulu. Atau kalau tidak, kau minta lah ijin pada yang lainnya. Karena kita ini bekerja sebagai tim. Bukan perorangan." Ros terus menerus, meneruskan tegurannya pada Anto. Yang sudah bisa di pastikan akan berlangsung lama jika Anto tidak pandai membujuk Ros untuk berhenti berbicara.


"Ros!" sentuhan di tangan Ros menghentikan ucapannya yang masih belum selesai.


"Apa kau akan terus mengomel seperti ini? Kau tidak mau mendengarkan Anto, dia sudah ketemuan dengan siapa?" ujar Nina menginginkan kembali Ros, akan pertanyaannya tadi. Yang terlupa akibat ia terlalu bersemangat menegur Anto.


"Cepat katakan? Kau sudah ketemuan dengan siapa? Kalau kau mau aku berhenti menegur mu!" tanya Ros dengan wajah penasaran.


"Anto..., Anto ketemuan sama...,"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2