
"Maaf, aku sudah membuat kekacauan di rumahmu Mbak!" ucap Anita dengan nada memelas.
"Tidak papa Anita, itu 'kan hanya sebuah kecelakaan!" balas Ros.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya Mbak!" ujar Anita lagi yang langsung disambut dengan baik oleh Rendy.
"Tentu Anita! Terima kasih karena telah menjengukku di waktu yang kurang tepat!" Ah, sungguh sinis ucapan Rendy barusan. Tapi Anita sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Kak!" panggil Ros lembut.
"Kenapa sayang?" jawab Rendy senang. Ros menatap sinis padanya. Namun, bukan Rendy namanya, jika ia tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.
"Kenapa terburu-buru Anita? Luka di tanganmu saja masih belum sembuh," c gah Ros. Wanita bersuami itu cemas dengan keadaan Anita. Luka di tangan akibat pecahan gelas itu cukup besar, hingga mengeluarkan banyak darah.
"Tidak apa Mbak, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku. Maaf juga karena telah mengganggu waktunya," jawab Anita yang hendak berlalu.
"Baiklah. Herman?" panggil Ros kemudian.
"Ya, Nyonya," jawab Herman yang siap siaga dengan panggilan dari Nyonya nya.
"Tolong kamu antarkan Anita pulang, Herman! Aku takut terjadi sesuatu pada Anita di jalan nanti," perintah Ros. Herman sebenarnya ingin menolak. Namun, apa daya, ia hanyalah seorang supir, dan harus siap dan mau melakukan tugas apapun yang Tuannya perintahkan.
"Baik Nyonya, saya laksanakan!" gegas Herman keluar dan pergi dari hadapan Ros dan Rendy, menghampiri kendaraan yang menjadi pekerjaannya mencari nafkah.
"Saya permisi Tuan, Mbak!" pamit Anita. Namun, saat Anita berbalik badan, tubuhnya tiba-tiba saja oleng, dan ia ambruk ke lantai.
"Anita!" Teriak Ros yang panik dengan keadaan Anita.
"Ya Tuhan, merepotkan sekali wanita ini," gumam Rendy yang tentu saja terdengar oleh Ros, walaupun suaranya sudah ia pelankan.
"Kakak ini bicara apa? Ayo bantu aku," kesal Ros.
"Membantu bagaimana sayang?" tanya Rendy tampak seperti seorang anak daripada pria dewasa.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja banyu aku mengangkat tubuh Anita. Bawa dia ke sofa!" Tegas dan penuh penekanan, Ros sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Rendy yang tentu saja terlihat sangat enggan untuk membantu Anita.
"Maaf sayang..., Tanganku ini, hanya aku khususkan untuk menyentuh dan mengangkat tubuh istriku saja. Selain dari itu, maaf..., aku tidak bisa!" tegas pula jawaban yang dilontarkan oleh Rendy pada istrinya. Membuat Ros dialiri rasa hangat dalam hatinya.
'Sepenting itukah diriku untukmu?' batin tos yang merasakan haru luar biasa.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Anita? Aku tidak kuat kalau harus mengangkat tubuhnya sendirian," keluh Ros.
"Tenang saja sayang-- Herman!" teriak Rendy memanggil supir sekaligus teman pribadinya.
"Ya Tuan!" sahut Herman yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Ros dan Rendy.
"Loh, Tuan, Nyonya. Apa yang terjadi pada Anita? Kenapa dia malah tiduran saja di lantai? Bukannya dia mau pulang?" berbagai pertanyaan tidak masuk akal, keluar dari mulut Herman. Sudah jelas-jelas jika Anita itu pingsan, Herman malah menyebutnya tiduran di lantai.
'Plak!'
Satu pukulan mendarat tepat di kepala Herman.
"Dasar bodoh! Kau memang benar-benar bodoh Herman. Dia itu pingsan bodoh, bukannya tiduran!" kata Rendy yang langsung disambut anggukan kecil dari Herman. Tanda jika ia mengerti.
"Bantu aku mengangkat tubuh Anita, Herman!" perintah Ros kali ini.
"Biarkan saya saja yang mengangkat tubuh Anita ke sofa, Nyonya," ujar Herman, dirinya tidak tega, jika Nyonya nya juga harus membantu mengangkat tubuh Anita yang walaupun kecil, tapi cukup berisi.
"Baiklah! Terima kasih Herman?"
"Tidak perlu berterima kasih Nyonya. Perintah Nyonya, akan selalu saya laksanakan," Haru, kembali menyeruak dalam hati Ros. Betapa beruntungnya ia. Ros di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan setulus hati.
"Ah, aku cemburu sayang!" ujar Rendy tiba-tiba. Ros yang tidak mengerti, mengernyit heran, dan membiarkan Rendy melanjutkan ucapannya.
"Kau lebih mencemaskan Anita dari pada suamimu sendiri!" lanjut Rendy dengan wajah dan nada bicara yang dibalut sememelas mungkin.
Herman yang mendengar pun, hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya pria itu berbicara seperti bocah begitu di hadapannya.
"Apa yang kau lihat?" Herman terlonjak, ternyata Tuannya itu memerhatikan apa yang Herman perhatikan.
"Ti-tidak Tuan!" jawab Herman gugup.
"Aku hanya mencemaskan Anita sayang," lembut ucapan Ros, seirama dengan lembutnya belaian tangan Ros yang mendarat tepat di pipinya.
"Menurutku itu berlebihan!"
"Baiklah, aku akan lebih memerhatikan dirimu. Tapi aku mohon, tolong panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi Anita saat ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya," tutur tos lembut.
"Herman!" panggil Rendy. Tentu saja Herman sudah mengetahui apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Secepat kilat, pria berbadan besar serta berkulit sawo matang itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda pipih untuk menghubungi seseorang.
...***...
"Tidak papa Ros. Dia hanya syok dan kelelahan saja," ujar seorang pria paruh baya berwajah teduh, yang baru saja memeriksa keadaan Anita.
"Syukurlah," embusan napas Ros terdengar begitu lega, "tapi, kenapa dia belum siuman juga Dokter?" tanyanya kemudian.
"Sabarlah, sebentar lagi dia akan siuman."
"Kalau saya boleh tau, siapa wanita ini Ros?" tanyanya sedikit penasaran.
"Dia Anita Dok. Pegawai baruku di kantor," jawab Ros jujur.
"Hem..." Tiada kata lagi yang Dokter Fahri katakan.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu Ros, Rendy," kata Dokter Fahri, "salam untuk mamamu," lanjutnya dengan senyum manis sebelum ia pergi.
"Tentu Dok, akan saya sampaikan. Terima kasih karena sudah mau repot-repot datang ke sini," balas Ros tak kalah memberikan senyum manis.
"Sudah menjadi tugas saya!"
"Biar saya antar Dok!" tawar Ros. Namun, dengan halus, dokter berwajah teduh itu menolaknya.
"Biar suamimu saja yang mengantar saya ke depan Ros." Ros menganggukkan kepalanya dan Rendy langsung berjalan beriringan dengan dokter Fahri menuju depan pintu.
"Ada apa Dok? Sepertinya ada sesuatu yang ingin dokter sampaikan kepadaku," seperti bisa membaca pikiran dari raut wajah dokter Fahri, Rendy langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Tepat sekali!" jawab dokter Fahri pasti.
"Katakanlah Dok!" Dingin, serius dan datar. Tidak ada nada bergurau dari ucapan Rendy barusan. Pria tampan pemilik hari Ros itu tahu, dokter Fahri pasti akan menyampaikan sesuatu yang cukup penting untuknya.
"Berhati-hatilah dengan wanita yang istrimu kerjakan itu Ren," tutur dokter Fahri. Sedangkan Rendy menautkan kedua alisnya. Tanda jika ia belum paham dengan ucapannya.
"Apa maksud Anda, Dok?" tanya Rendy serius.
"Sepertinya..., Saya pernah bertemu dia di suatu tempat. Tapi, saya lupa. Namun, saya ingatkan, agar berhati-hatilah. Jaga istrimu dengan baik. Jangan sampai kamu lengah dengan membiarkan istrimu terus menerus bersamanya!"
Bersambung...
__ADS_1