
“Ayyaahh” suara anak kecil sekitar umur 6 tahun datang menghampiri kursi tempat mereka duduk mengumpul. Membuat mereka semua menoleh kearahnya termasuk Laura yang membuat otaknya berfikir “anak siapa ini, kenapa sudah malam seperti ini masih di luar, inikah anak Rey diakan sudah menikah” semua pikiran itu datang menghampiri hingga seseorang menjawab sapaan anak itu.
Rizal :”Izal sayang, udah malem kok kesini” membuatku melongo dan terasa sesak di dalam hati kenapa ini, kenapa tidak memberitahuku itulah dalam fikiranku kenapa ini terjadi
“Izal nangis yah, nggak mau tidur nungguin kamu pulang ya udah aku antar kesini” sahut seorang perempuan yang baru saja masuk setelah anak itu dan dialah istri Rizal dan membuatku semakin tak percaya apa yang aku lihat
Rizal :”Oh anak ayah nggak bisa bobok ya” sahut Rizal pada anaknya
Izal :”Iya yah, ayo pulang izal ngantuk yah” rengekk anak itu pada ayahnya yang membuatku sadar ini adalah nyata
Rizal :”Ya udah kita pulang pamit dulu sama om sama tante” perintah Rizal pada anaknya
Izal :”Iya yah, ini tante siapa izal belum pernah lihat” Tanya nya saat ingin bersalaman denganku
Laura :”Hallo adik kecil nama tante Laura, tante baru disini” sahutku dengan senyum kupaksakan
Izal :”Oh tante baru disini, salam kenal tante aku izal anaknya papah” jawabnya yang membuat semua tertawa namun aku hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk
Rizal :”Gue balik dulu ya bro, ra selamat bersenang-senang” pamitnya aku hanya menangguk dan sepertinya dia mengetahui perubahan suasana hatiku ini
Izal :”Kalau gitu izal pulang dulu ya om tante dadah” tangannya sambil melambai menjauh
Sudah cukup lama kepergian Rizal dan itu semakin membuatku lebih banyak menegak minuman entah sudah berapa banyak yang aku habiskan
Rey :”Hey, stop ra kenapa lo kok minum banyak gitu” aku hanya diam dan menghabiskan minuman digelasku
Rey :”Ra, udah berhenti” cegat Rey saat aku mau mengambilnya lagi dan membuat semua menjadi melihat ke arahku mereka heran kenapa aku jadi seperti ini padahal biasanya aku tak pernah menyentuh sedikitpun.
Laura :”Kepala gue pusing Rey, gue pulang ya” jawabku sambil berdiri
Rey :”Mau kemana loe, loe nggak akan bisa pulang kalau mabuk kayak gini” cegatnya dengan menarik tangannya
Laura :”Gue nggak kenapa-kenapa Rey, gue cumaa….” Belum selesai berbicara Laura kemudian pingsan, seketika semua panic kemudia Rey di bantu Arga yang duduk di dekat mereka membawanya ke kamar atas dan membaringkannya disana. Karena hari semakin larut beberapa di antara mereka pun pulang kecuali Rey yang di temani Adi dan Arga.
Arga :’Udah pada pulang nih ke atas yuk café lu kan udah mau tutup Rey”
Rey :”Ya udah kita tidur di atas sekalian jagain Laura deh” pintanya pada temannya
Adi :”Oke kan masih ada kamar lagi di sebelahnya” mereka pun pergi ke atas setelah menutup café yang tidak buka 24jam. Ke esokan harinya.
Laura :”Aduh kepala gue kok pusing ya apa yang terjadi kamar siapa ini” sambil memegang kepalanya dan melihat seisi kamar tidak ada yang aku kenali karena baru pertama kali aku melihatnya.
Tok tok tok..
Rey mengetuk pintu dan membukanya
Rey :”Udah bangun ra?” Tanya Rey yang kemudian masuk
Laura :”Rey, udah kok ini dimana?”
Rey :”Ini kamar gue, kamar di café maskud gue nih minum biar enakan” sambil menyodorkan segelas susu yang kemudian gue teguk sampai habis
__ADS_1
Rey :”Gila doyan apa laper loe”
Laura :”Keduanya” sahutku sekenanya
Rey :”Loe kenapa sih nggak biasanya minum sebanyak itu” pertanyaan yang langsung membuatnya ingat apa yang terjadi semalam
Laura :”Nggak kenapa-kenapa kok” jawabnya menunduk
Rey :”Ini Rizal kan, karena dia” sontak Laura kaget dibuatnya
Laura :”Ngg.. nggak kok”
Rey :”Udah nggak usah bohong, keliatan kali elu kan nggak bisa bohong sama gue cerita dong dia apain loe biar gue hajar tuh anak” Laura menghelas nafas dan menceritakan
Laura :”Gue pikir dia masih single Rey dia nggak pernah cerita, karena setiap gue tanya pun dia nggak respon dan seperti menolak, dia kayak ngasih harapan ke gue buat maju, dan kejadian semalem bener-bener ngebuat gue kaget terlebih dia sudah punya anak sebesar itu” air mataku mulai mengalir ke pipi
Rey :”Kenapa loe nggak tanya ke gue dulu ra”
Laura :”Entah lah Rey mungkin ini hanya perasaanku saja yang berlebihan karena perhatian dia ke gue, udah Rey gue gpp kok, jangan bilang ke yang lain ya Rey” senyumnya menghapus air mata
Rey :”Ya udah kalau itu mau loe, gue harap pertemanan kalian tetap seperti biasa”
Laura :’Iya”
Adi :”Wah ada apa ini pagi-pagi udah mellow aja” ceplosnya di depan pintu
Rey :”Loe ngapain ngintip di situ”
Adi :’Gue nggak ngintip kok, Cuma mau ngajak sarapan aja ayo turun udah siap ayo ra” ajaknya
Di meja makan
Adi :”Ini kan masih pagi gimana kalau kita jalan-jalan”
Arga :”Nggak bisa, gue kerja”
Rey :’Gue juga nggak bisa, gue harus pulang kan semalem gue nggak pulang jagain nih perempuan satu” sambil menoleh kea rah Laura yang tidak di gubrisnya
Adi :”Loe gimana ra? Mau ya temenin gue jalan bentar cari angin nih nggak ada temen”
Laura :”Gimana ya? Kayaknya gue pulang aja deh, kan gue nggak bawa baju juga”
Adi :”Yahhh kok pulang ra” jawabnya sedih
Rey :”Elo temenin aja nih bocah satu ra, kalau soal baju ntar biar gue minta tolong mbaknya buat beliin baju ganti ra”
Adi :”Mau dong ra please…” dengan muka merengek seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya
Laura :”Ya udah deh, boleh”
Adi :”YES, thank you ra”
__ADS_1
Selesai sarapan kemudian mereka pergi dengan urusan masing-masing. Adi mengajak Laura pergi ke taman dan mall untuk berkeliling
Laura :”Gue capek nih muter-muter duduk bentar ya”
Adi :”Oh iya, kamu capek ya ya udah kita duduk dulu, sory gue nggak ada capek habisnya seneng bisa jalan sama kamu, haus nggak gue beliin minum dulu ya”
Laura :”Boleh” sahutku singkat sebenernya gue nggak terlalu suka sama Adi ini menurut gue dia bukan tipe sih tapi okelah kalau hanya sekedar teman tapi sepertinya dia tidak begitu
Triiingg.. suara pesan masuk ke handphone ku
Rizal:
“Pagi ra, lagi ngapain nih”
Kubaca pesan Rizal namun tak membalasnya, karena tak ada balasan dariku dia terus mengirim pesan padaku
“Kok nggak di balas ra”
“Kamu dimana”
“Kamu lagi sama Adi ya, Have fun ra”
Tau dari mana dia aku pergi dengan Adi pikirku. Aku sudah mulai kesal dengan pesan yang dikirimnya padaku dan ku balasnya
Laura:
“Cukup, berhenti jangan mengangguku” ku kirim pesanku dan langsung mendapat balasan darinya
Rizal:
“Kamu kenapa? Kamu dimana, aku ingin bertemu”
“Aku mau jelasin”
Laura:
“Nggak perlu” jawabku singkat yang kemudian mendapat telfon darinya terpaksa aku mengangkatnya dan disebrang sana dia terus memaksa ku untuk bertemu dan aku terpaksa mengiyakanya dan kemudian aku matikan dengan muka kesalku. Adi pun datang.
Adi :”Lho ra kenapa mukamu kesal gitu? Aku lama ya kamu sudah haus banget pasti, sory tadi rame banget jadi lama”
Laura :”Nggak kok gue gpp” Kesalku kian bertambah mendengar celotehnya inilah salah satu yang aku tak suka darinya
Laura :”Di kita langsung pulang ya, gie harus balik ke rumah ada urusan mendadak”
Adi :”Oh ya udah, langsung gue anter aja ya”
Laura :”Eh nggak usah gue bisa sendiri kok”
Adi :”Nggak pp ra gue seneng kok nganter loe kemana aja” gue yang nggak suka batinku
Laura :’Nggak perlu gue kan bawa mobil sendiri, anter aja ke café Rey mobil gue disana”
__ADS_1
Adi :’Oh ya udah kalau gitu, ayo ra” syukurlah aku bisa menghindarinya batinku legaku
Terimakasih sudah membaca dan menunggu novel ini. selamat membaca