
"Mau bicara apa?" tanya Ros dingin. Sedingin tengah malam yang menyelimuti kegelapan malam ini.
Rendy menghela napas panjang, juga terasa berat, "a-aku mau meminta maaf padamu!" Rendy menundukkan kepalanya dalam. Tak sanggup ia memandang seraut wajah yang tengah kecewa padanya. Walaupun ia tahu, semua itu hanyalah sebuah jebakan dan kesalahpahaman. Namun, Rendy merasa ikut bersalah, karena ia juga menikmati kesalahpahaman tadi, dengan membalas ciuman panas Anita yang ia sangka adalah istrinya sendiri.
"Apa yang harus di maafkan Kak? Pengkhianatan mu?" tanya Ros seraya mencibir. Nada bicaranya masih sedingin es.
Ingin rasanya Rendy menghangatkan kedinginan ini. Namun, apa daya, Ros membutuhkan waktu untuk berpikir secara jernih.
"Kejadian tadi benar-benar sebuah kesalahpahaman sayang. Itu semua sudah di rencanakan. Percayalah! Aku tidak mungkin mengkhianati dirimu," ujar Rendy, dan Ros hanya terdiam mendengarkan. Sejauh manakah suaminya ini akan bersungguh-sungguh meminta sebuah kata maaf dan kepercayaannya kembali? Ros sedang menantikan itu.
"Aku tau, kamu sedang marah padaku. Tapi percayalah Ros... Jangankan untuk mengkhianati mu, menjauh darimu saja, tak pernah terpikirkan olehku!" papar Rendy tulus. Tak sedikitpun ia berbohong soal ucapan ya
"Bukankah aku selalu menyuruhmu untuk tidak terlalu dekat dengannya? Inilah alasanku Ros. Aku mencurigainya sejak pertama kali kita menolongnya-- Aku, aku memang salah, karena tidak menceritakan kecurigaan ku padamu. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya. Percayalah padaku Ros. Aku tidak akan sanggup jauh apalagi sampai tega mengkhianatimu," kata Rendy lagi menjelaskan.
Ros teringat semua ucapan Rendy.
'Jangan terlalu dekat dengannya!'
'Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya sayang!' Dan masih banyak lagi kata-kata Rendy yang melarang Ros untuk tidak terlalu dekat dengan Anita.
"Istirahatlah Kak. Ini sudah malam!" kata Ros tanpa memberikan tanggapan dari penjelasan Rendy barusan.
...***...
"Biarkan anak-anak kita menyelesaikan masalah mereka sendiri Jeng," ujar Maya mengingatkan besannya. Saat melihat Ajeng yang terlihat gatal ingin segera menyelesaikan masalah anak dan menantunya.
"Tapi saya gemas Jeng!" ujar Ajeng. Maya terkekeh mendengarnya.
"Saya juga sama Jeng. Tapi, mereka berdua sudah besar, bahkan sudah dewasa. Saya yakin, mereka berdua bisa menyelesaikan masalah mereka berdua, tanpa adanya campur tangan dari kita sebagai orang tua. Yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah, menasehati, jangan sampai anak-anak kita salah melangkah dan mengambil keputusan," papar Maya yang membuat Ajeng mengurungkan niatnya untuk mendekati Ros dan Rendy.
Wanita paruh baya berbadan subur itu langsung memeluk besannya dengan hangat. Apa yang Maya katakan sangat benar adanya.
"Makasih ya Jeng, sudah mengingatkan saya," kata Ajeng masih memeluk Maya.
Maya membalas hangat pelukan Ajeng, "sama-sama Jeng. Kita saling mengingatkan saja," jawab Maya.
"Jeng tau? Tadi sore, saya sudah menghukum Rendy dengan gagang sapu," ucap Ajeng memberitahu besannya.
Mata Maya membulat, "maksudnya Jeng?" tanya Maya kemudian. Dan mengalirlah semua cerita tadi. Ajeng menceritakan bagaimana dirinya menghajar dan mengejar Rendy habis-habisan, akibat ulah ketiga teman Ros yang manjadi provokator terjadinya aksi kejar-kejaran antara anak dan ibu tersebut.
'Hahaha!'
__ADS_1
Kedua besan itu saling tertawa lepas.
"Jeng serius?" tanya Maya masih tidak percaya
"Iya lah Jeng. Masa iya saya bohong! Habis saya gebukin Rendy. Saya jadi kalap. Niat hati mau diet, malah gak jadi karena ulah Rendy-- Saya mau habis nasi satu bakul. Benar-benar ngeselin anak itu," papar Ajeng lagi, dan Maya semakin tertawa geli di buatnya.
"Eh, bagaimana kabar anak-anak kita? Apa mereka sudah baikan?" tanya Ajeng.
"Gak tau Jeng. Udah, biarin aja. Kita tunggu aja kabar baiknya besok!"
...***...
"Gak bisa Kak. Aku masih butuh waktu sendiri. Jadi, aku mohon, kakak bisa mengerti aku!" ucap Ros dengan menekankan nada bicaranya.
"Tapi sayang... Aku tidak terbiasa tidur sendiri tanpamu," Rendy memelas. Malam ini, Ros tidak ingin tidur satu ranjang dengannya. 'Dia butuh waktu,' katanya.
Sedangkan Rendy, pria itu sudah terbiasa tidur berbagi ranjang dan selimut dengan sang istri. Hingga membuatnya berat untuk tidur terpisah dengan Ros.
"Mulailah terbiasa Kak. Karena untuk sementara ini, aku ingin sendiri!" ketus Ros.
"Tapi--
'Bruk!'
"Ah!" Rendy mendesah berat.
"Aku harus tidur di mana?" keluhnya seraya bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku harus tidur di lantai? Tidak, tidak! Masih ada sofa di sini... Tapi, itu sangat tidak nyaman. Aku ingin tidur bersama istriku! Aku ingin memeluknya," gumam Rendy yang terdengar jelas oleh Ros.
Di dalam kamar. Lebih tepatnya di balik pintu. Ros menyenderkan tubuhnya sambil mendengarkan apa yang Rendy ucapkan. Wanita cantik itu tersenyum tipis. Ada hangat yang menjalar di dalam dadanya. Saking hangatnya, Ros memegangi dadanya sendiri.
Ros ingin berbagi ruang dengan Rendy. Namun, Rendy harus di berikan sedikit hukuman, agar pria itu tidak mengulangi hal yang sama.
Gegas Ros berjalan menuju kamarnya, mengambil sesuatu untuk ia berikan pada seseorang yang menunggu di luar.
'Ceklek!'
Pintu kamar Ros terbuka. Rendy yang hendak beranjak dari tempatnya berdiri, langsung menoleh pada sumber suara.
"Sa-sayang!" ucap Rendy dengan mata berbinar bahagia. Ternyata, Ros hanya menggertak nya saja untuk tidur di luar.
__ADS_1
"Aku tau, kamu hanya bercanda saja 'kan?" ungkap Rendy.
Ros mengerutkan kening.
"Apa?"
"Bukankah kamu mau mengajak suamimu ini untuk tidur di dalam?" dengan percaya dirinya Rendy mengatakan itu semua.
"Jangan terlalu percaya diri Kak. Aku membuka pintu kamarku, bukan untuk mengajakmu tidur bersama. Aku hanya ingin memberikan ini!" ujar Ros ketus. Ternyata, apa yang Rendy pikirkan tidak benar. Bukannya mendapatkan perlakuan manis dan manja dari sang istri seperti biasanya. Rendy malah mendapatkan satu buah bantal dan guling beserta selimut yang Ros lemparkan tepat ke arahnya.
"Tapi say--
"Aku sudah mengantuk Kak. Jika kamu tidak membutuhkan itu semua," Ros menunjuk barang-barang yang ia berikan pada Rendy barusan, "kamu boleh menyimpannya kembali!" sambung Ros dingin.
"Aku tidak membutuhkan ini semua sayang! Aku hanya membutuhkanmu!" balas Rendy dengan tatapan menghiba.
"Aku sudah mengantuk. Selamat malam!" tanpa membalas ucapan Rendy. ros masuk ke dalam kamarnya setelah mengucap kata selamat malam.
"Sayang-- sayang! Tunggu!" panggil Rendy.
'Bruk!'
Ros kembali menutup pintu. Namun, kali ini dengan gerakan yang pelan, tidak seperti sebelumnya.
"Aaa!" Rendy mengacak rambutnya frustasi. Pria itu bingung harus berbuat apa lagi. Ia mengira jika istrinya sudah membaik. Namun, nyatanya tidak sama sekali. Malam ini, Rendy terpaksa harus tidur sendirian di luar tanpa di temani sang istri. Jangankan untuk memeluknya, memandang seraut wajah menyejukkan nya saja, kini tidak bisa.
Pasrah!
Hanya itu yang bisa Rendy lakukan saat ini.
Rendy berjalan gontai menuju sofa panjang yang berada tepat di samping kamar tidur Ros. Di seretnya bantal, guling juga selimut yang berada di tangannya.
"Ah, semua ini gara-gara wanita siluman itu. Awas kau Anita. Akan aku cari dan balas semua perbuatan mu padaku. Bahkan, jika kau lari sampai ke ujung dunia pun, aku pasti akan menemukanmu!" ujar Rendy dengan perasaan geram dan marah.
"Dan untuk kalian bertiga, trio pembuat masalah! Bersiap-siaplah, aku juga akan membuat perhitungan pada kalian. Berani-beraninya kalian bertiga berbicara yang tidak-tidak pada Mamah ku. Pakai acara di lebih-lebihkan segala lagi!" ucap Rendy lagi tak kalah geram dari ucapan sebelumnya. Ia sudah mengetahui, jika ketiga teman Ros lah, yang membuat Ajeng habis-habisan menghajar dan mengejarnya.
'Deg!'
Perasaan ketiga orang yang berada di tempat yang berbeda, tiba-tiba saja berubah menjadi tidak enak. Perasaan akan adanya sebuah pembalasan, membuat ketiga orang itu merasa sangat takut dan was-was.
Bersambung...
__ADS_1