Dia Milikku

Dia Milikku
Mencari


__ADS_3

Herman kalang kabut setelah menerima panggilan telepon dari sang majikan. Bukannya senang, karena ini adalah akhir bulan. Herman justru di buat deg-degan dengan ketiadaan nya Ros di samping Rendy.


Ingin menjawab, 'salah sendiri, kenapa istrinya tidak di jaga sendiri, sampai-sampai pergi, suami tak tau,' tapi, apa daya... Herman tak seberani itu mengucapkan hal tersebut pada Rendy.


Bukannya nanti di turuti, sudah pasti bulan ini, inilah hari terakhir ia menerima gaji.


"Mbok! Apa Nyonya Ros pulang ke sini tadi pagi?" Herman bertanya pada mbok yang bekerja di rumah Ros. Wanita tua yang baru saja membersihkan halaman belakang itu menggeleng sambil menatap wajah Herman.


"Serius mbok?" tanya Herman memastikan. Siapa tahu, si mbok ini fungsi pendengarannya sudah tidak terlalu baik lagi.


"Bener Herman... Masa saya bohong!" jawab si mbok akhirnya.


"Tapi, tadi tuan telpon saya mbok. Katanya, nyonya sudah ke sini, dan kalau saya sampai gak nemuin nyonya di sini, bisa mati saya," tutur Herman menjelaskan.


Si mbok mengerutkan alisnya menatap Herman.


"Kamu serius?" ucap si mbok balik bertanya.


"Serius mbok, masa saya bohong sama orang tua. Bisa kualat saya!" jawab Herman seperti yang si mbok ucapkan tadi.


"Yo wes, ayo kita cari di rumah ini, siapa tahu saja Nyonya memang sudah pulang, hanya kita saja yang tidak mengetahuinya," kata di mbok memberi saran brilian pada Herman. Pria itu mengangguk setuju dan paham dengan ide brilian ya g keluar dari mulut gua si mbok.


...***...


"Ya Tuhan! Ke mana kamu sayang? Kenapa pergi tanpa menungguku bangun?" keluh Rendy setelah mandi dan memakai pakaian rumahannya. Pria itu berjalan kaki dari rumah menuju luar. Menengok ke kanan dan ke kiri, siapa tahu saja, istrinya ada di salah satu tempat yang Rendy tengok. Namun, hasilnya nihil. Ros tidak ada sama sekali.


Terus berjalan menuju tempat yang sering di jadikan para warga kampung sini untuk tempat berkumpul para tetangga untuk sekedar mencari hiburan serta informasi, Rendy tak menemukan juga istrinya di sana. Hanya para ibu-ibu yang menanyakan, 'tumben mas Rendy sendiri. Ke mana istrinya?' pertanyaan sederhana, tidak terlalu nyinyir. Namun, mampu membuat Rendy tersenyum getir. Ia berjalan sendiri seperti ini, karena ingin mencari di mana keberadaan istrinya.


Kembali Rendy melangkahkan kakinya. Ia baru teringat, mungkin saja istrinya itu pergi ke rumah Jeng An, tetangganya yang suka sekali berkunjung tanpa undangan.

__ADS_1


Semangat kembali muncul dalam diri Rendy. Pria itu gegas berjalan dengan cepat menuju tempat yang sedang ia pikirkan. Rumah mewah Jeng An.


"Kenapa baru terpikirkan sekarang?" tanya Rendy pelan, sambil terus berjalan, menuju tempat tujuan.


...***...


"Wah, hebatnya kamu Ros. Kamu jago bikin kue," puji seorang wanita pada Ros.


"Gak juga Jeng, saya cuma bisa aja, belum terlalu hebat." Ros merendah.


"Aduh, merendah kamu!" Jeng An mengibaskan sebelah tangannya ke udara, "tapi beneran loh, ini kue nya enak banget. Saya jadi ketagihan," lanjut jeng An, masih dengan pujian mendalam untuk Ros.


"Kalau gitu, di makan lagi aja Jeng, mumpung masih hangat," tawar Ros yang tidak di sia-siakan oleh Jeng An. Wanita itu langsung mengambil satu potong lagi kue brownies yang Ros buat di rumah Jeng An.


"Eh, katanya kamu mau pulang ke rumahmu yang dulu ya, kemarin. Tapi kok, kamu masih ada di kampung sini Ros?" tanya Jeng An, dengan mulut penuh makanan.


Jeng An pun menuruti apa yang Ros katakan. Memakan habis kue yang berada di dalam mulutnya. Tidak lupa mengambil lagi dan memasukkan kembali untuk ia kunyah dan isi ke dalam perutnya.


"Ah, puasnya aku. Kue buatan kamu memang terbaik Ros. Benar-benar enak. Bikin nagih, pengen makan lagi dan lagi," kata Jeng An yang berisi berbagai pujian yang ia sematkan untuk Ros.


Ros tersenyum senang. Ternyata, Jeng An ini adalah tipe orang yang suka menghargai serta memuji hasil kerja keras seseorang, yang langsung ia sampaikan tanpa rasa sungkan atau pun canggung di hadapan orang nya langsung.


"Jeng An bisa aja. Saya masih belajar ko," balas Ros tetap merendah.


"Oh iya, kamu masih belum jawab pertanyaan aku loh Ros," Jeng An menyipitkan sebelah matanya, seperti sedang menyelidik.


"Pertanyaan yang mana Jeng?" Ros balik bertanya, pura-pura lupa dengan pertanyaan dari Jeng An tadi.


"Itu... pertanyaan yang tadi. Katanya kamu hari ini mau pindahan, terus kenapa masih di sini, di kampung ini? Kamu gak jadi ya pindahannya?" tanya Jeng An, memperjelas kembali ucapannya, "gak usah aja lah Ros. Kamu tetep di si i aja. Aku suka punya tetangga kayak kamu," sambung Jeng An, mengeluarkan apa yang ia rasa saat bertetangga dengan Ros.

__ADS_1


"Jeng An ini bisa aja deh," Ros mengibaskan sebelah tangannya ke udara. Menanggapi ucapan jujur yang keluar dari mulut Jeng An.


"Saya serius loh Ros," wajah Jeng An mengerut.


"Loh, saya juga kok," Ros tak mau kalah.


"Jadi apa alasannya kamu mau pindah?" masih menanyakan hal yang sama. ,jeng An makin penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Ros.


Baru saja mulut Ros terbuka untuk menjawab. Suara salam di sertai dengan ketukan pintu, terdengar jelas di telinga Ros dan Jeng An. Dan terpaksalah, Jeng An pun menunda keingintahuannya mendengar jawaban dari Ros.


"Bentar ya Ros. Mau lihat dulu siapa yang bertamu. Dasar, mengganggu saja," ucap Jeng An disertai dengan gerakan mulutnya ya g menggerutu.


"Iya Jeng, gak papa, buka aja dulu. Siapa tahu tamu penting," balas Ros ramah.


Jeng An berjalan menuju pintu masuk yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya dan Ros bercerita sambil menikmati kue brownies yang Ros buatkan khusus untuknya, di rumahnya sendiri.


Pintu terbuka dengan sempurna. Mata jeng An pun, tak kalah melebar dengan sempurna.


"Eh, mas Rendy... Pasti, mau nyariin istrinya ya? Tenang mas, istrinya aman kok, gak saya apa-apain," ucap Jeng An memberitahu tanpa Rendy bertanya terlebih dahulu.


Ros yang mendengar nama Rendy di sebut, langsung menatap ke arah pintu ya g ia belakangi. Matanya langsung melihat sosok tampan dengan pakaian sederhana tengah menatapnya sendu.


"Ko malah diem sama bengong begitu sih? Ayo, silakan masuk. Mumpung istrinya juga lagi ada di dalam," ucap Jeng An sambil mempersilahkan Rendy masuk menuju rumahnya.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Rendy langsung mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah Jeng An. Menghampiri Ros yang menatapnya penuh kesal. Lalu, kembali tersenyum saat Jeng An mendekatinya.


'Ah, gawat! Istriku pasti sedang marah!'


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2