Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 61


__ADS_3

Argana kemudian berjalan mendekati Nita yang masih terlelap dalam tidurnya. Dengan lembut ia lalu menggenggamnya, "Aku yakin kamu akan baik-baik saja. Berjuanglah untuk bertahan hidup, aku akan melakukan apa pun demi keselamatan kamu" ucapnya.


"Argana!" panggil Isabella. "Ini sudah jam 12 siang, kamu makan siang dulu ayo" ajaknya.


"Aku tidak lapar nenek. Sebaiknya nenek saja yang pergi, aku akan disini menunggunya sampai siuman" jawab Argana menolak.


"Kamu yakin enggak mau makan siang dulu? Biarkan suster yang akan menjaganya".


"Tidak nek" jawabnya lagi.


"Kalau gitu apa nenek harus membawanya kemari?".


"Tidak".


"Ya sudah kalau gitu, nenek pergi dulu".


"Mmmmmm".


Hingga kini hari semakin sore, Nita belum juga membuka kedua matanya membuat Argana semakin khawatir dia baik-baik saja atau tidak, ia pun bangkit berdiri hendak memanggil si dokter dan juga si perawat, namun sebuah tangan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.


"Jangan pergi Ga. Aku mohon jangan tinggalkan aku" ucap Nita dengan air mata menetes.


"Nita?" kagetnya. "Kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja?".


"Aku baik-baik saja Arga. Terima kasih banyak sudah menolong ku".


"Maaf telah lama datang menolong mu. Apa rasanya masih sakit? Tadi aku meminta dokter untuk memberikan obat pereda nyeri".


Nita tersenyum pucat, "Apa aku sakit Arga?" Argana terdiam membuat Nita yakin kalau ia benar-benar sedang sakit. "Aaakkhh.. Aku yakin aku pasti sedang sakit. Ayo beritahu aku Ga aku sakit apa?".


Argana lalu menghela nafas panjang, "Apa sebelumnya kamu tidak pernah memeriksa kesehatan kamu kerumah sakit?".


"Tidak Ga".


"Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah memeriksa tubuh mu supaya kamu tau kalau kamu itu baik-baik saja atau tidak?".


"Aku sangat takut Ga, aku sangat takut kalau sampai aku tau kalau aku sedang sakit. Aku memilih untuk tidak mengetahuinya. Maafkan aku".


"Hhhmmmsss.. Ck" lagi-lagi Argana menghela nafas kesal. "Sekarang kamu mau tau kamu sedang sakit apa setelah selama ini kamu bermain-main dengan kesehatan mu sendiri?".


"Mmmmm.. Ayo beritahu aku Arga. Aku sudah siap menerimanya. Jangan khawatir".

__ADS_1


"Kamu mengidap penyakit gagal ginjal dan sekarang tahap mu telah berada di tahap akhir" jawabnya melihat Nita malah tertawa bukannya menangis. "Apa kamu sedang tertawa?".


"Maafkan aku Ga. Aku tidak tau mau melakukan apa lagi selain tertawa. Tidak apa-apa, memang ini sudah menjadi takdir hidup ku dan sekarang aku harus menerimanya. Terima kasih untuk semuanya Arga".


Ia lalu melihat ekspresi wajah Argana yang sangat marah mengepal kedua tangannya, "Jangan marah Ga. Kamu tidak boleh menyalahkan takdir hidup. Semua sudah menjadi kuasa Tuhan, mulai saat ini aku akan menikmati hidup ku yang tinggal sebentar lagi. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah pernah membuat aku mencintai mu....


"Hentikan! Aku tidak ingin mendengar mu bicara" Argana bangkit berdiri pergi meninggalkannya.


Nita lalu mengeluarkan air mata itu kembali. Yang sebenarnya ia juga tidak ingin seperti ini, tapi takdir hidupnya harus seperti ini ia hanya bisa berserah jika pada akhirnya ia harus pergi untuk selama-lamanya.


.


Sepulang dari rumah sakit, Nita membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


"Haruskah aku memberitahu mama? Tapi aku sangat takut sekali kalau sampai mama tau aku mengidap penyakit mematikan seperti ini. Lalu apa yang haru aku lakukan untuk memberitahu mama?".


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, "Nita, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu sedari tadi tidak membalas pesan ku? Tolong jangan membuat ku khawatir. Ayo segera balas pesan ku" isi pesan dari Nella.


Nita membalas pesannya, "Aku baik-baik saja Nella, aku hanya kelelahan setelah satu harian kemarin bekerja. Kamu tidak usah khawatir".


Nella langsung menelpon ya, "Aku baru ingat Nita. Ini karna bu Riska menyuruh mu mengerjakan semua dokumen itu sampai kamu tidak sempat mengisi perut. Mana lagi kamu lembur saat itu. Menyebalkan sekali, jadi sekarang apa kamu sudah benar-benar merasa baikan?".


"Mmmmm, aku sudah baik-baik saja Nella. Terima kasih banyak yah sudah mengkhawatirkan aku seperti ini. Besok kamu ada waktu?".


"Besok?".


"Iya. Besok kan hari libur, aku ingin bepergian jauh dengan mu. Oh iya, kamu membawa tas ku tidak?".


"Iya, aku membawanya pulang Nita. Tapi kita mau bepergian jauh kemana Nita, kenapa kamu berkata seolah-olah..


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berlibur saja dengan mu. Bagaimana?".


"Baiklah kalau gitu, besok pagi aku akan menjemputmu kerumah. Ok".


"Mmmmm... Selamat malam Nella, aku sangat mengantuk sekali".


"Iya, selama malam juga untuk mu Nita. Mimpi indah".


Nita tersenyum menaruh ponselnya, ia kembali menatap keatas langit-langit kamarnya berharap Argana menghubunginya setelah sekian banyak ia mengirim pesan kepadanya, tetapi tak satupun pesannya di balas oleh Argana.

__ADS_1


"Apa yang sedang Argana lakukan sekarang? Apa dia sudah tidur? Tapi ini masih jam 9 malam, tidak mungkin dia tidur secepat itu" Gumam Nita menyambar ponselnya kembali.


"Semarah inikah kamu kepada ku Ga sampai kamu tidak berniat membalas pesan ku?".


Sedangkan Argana yang berada di atas balkon kamarnya, ia sedang menikmati segelas anggur bersamaan dengan sebatang rokok ditangan kanannya.


Meskipun ia tau sedari tadi Nita mengiriminya pesan, tetapi ia sama sekali tidak berniat membalas pesan tersebut, ia lebih memilih mengabaikannya.


.


Hingga pagi hari tiba, Nita terbangun dari tidurnya, ia melihat cuaca begitu sangat cerah dan juga suara burung berkicau diatas rumahnya membuat ia tersenyum bahagia.


"Sudah lama sekali aku tidak pernah lagi mendengar suara burung ini" ia lalu membuka jendela. "Wah, langit juga begitu sangat cerah sekali. Aku menyukainya".


Ting!


Nita kemudian tersenyum semakin lebar mendengar suara pesan tersebut masuk kedalam ponselnya karena ia yakin kalau pesan itu berasal dari Argana. Namun kenyataannya pesan itu berasal dari Nella yang sedang otw kerumahnya.


"Hhhmmss.. Dia benar-benar sangat marah sekali" ia pun menaruh ponselnya, lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.


Tidak ingin berlama-lama disana, ia keluar mendengar suara klakson mobil Nella tiba di depan rumahnya.


"Kamu sudah datang Nella?".


"Iya, kamu baru selesai mandi? Padahal ini sudah jam 8 pagi loh Nita".


"Hey, baru jam 8 pagi. Tidak mungkin secepat ini kita pergi".


"Loh, kan kamu sendiri yang memberitahu ku kalau kita ingin berpergian jauh. Karna itu aku kemarin secepat ini. Kamu bagaimana sih Nita?".


"Terus kamu sudah sarapan dari rumah?".


"Tidak sempat tadi karena aku sedang buru-buru".


"Sedang buru-buru bagaimana?".


"Ya sedang buru-buru datang kemarilah Nita".


"Astaga kamu ada-ada saja Nella. Kamu lihat saja di dalam kulkas, aku masih memiliki makanan yang bisa kamu makan".


"Baiklah" senang Nella.

__ADS_1


__ADS_2