
POV Rendy
Pagi ku yang indah, jadi kacau karena kehadiran seorang wanita bernama Anita. Bukan karena aku membencinya, namun, menurutku sikapnya itu sangat aneh, seperti..., tengah mengincar istriku untuk bisa menjadi akrab dengannya.
"Selamat pagi mbak, Tuan?" sapanya kala itu. Aku tercengang, ternyata..., wanita itu sudah cukup akrab dengan istriku. Dan sapaannya pada istriku, membuat aku berdebat ringan dengan Ros.
"Aku tidak suka!" tiga kata ku ucapkan sebanyak dua kali dengan penuh penekanan pada Ros, agar dia mengerti, aku benar-benar tidak suka dengan kehadiran wanita itu.
'Ah, istriku memang wanita yang lembut, dia baik dan berhati bak bidadari,' pujiku dalam hati, setelah aku bangkit bersama Herman menuju kamarku.
"Tuan, apa Anda benar-benar akan meninggalkan Nyonya berdua saja dengan wanita itu?" pertanyaan dari Herman, meluncur tepat di samping telingaku. Bahkan, Herman saja tidak mau memanggil namanya, sama seperti diriku. Dia memang sopir sekaligus teman yang bisa memberikan masukan kepadaku.
"Apa maksudmu?" ucapku bertanya pada Herman. Apa sebenarnya maksud dari ucapannya barusan?
"Begini Tuan..., Jika kita meninggalkan Nyonya hanya berdua saja dengan wanita itu, maka Nyonya akan lebih mudah berakrab-akrab ria dengan wanita itu. Kita juga tidak bisa mengawasi dan memantau tingkah lakunya, jika kita tidak berada dekat dengan Nyonya. Siapa tahu, apa yang kita pikirkan tentang wanita itu benar," jawab Herman dengan penjelasan yang panjang lebar. Dan ya..., aku sangat setuju dengan pemikirannya itu. Aku benar-benar sependapat saat ini.
"Ayo kita kembali," ajakku pada Herman, "kita temani Ros, jangan biarkan wanita itu lebih jauh mendekati istriku," lanjut ku pada Herman. Aku putuskan untuk mengikuti sarannya. Jangan meninggalkan istriku seorang diri.
"Tentu Tuan!" jawab Herman dengan anggukkan kepalanya. Ah, ia selalu sigap dengan apapun yang aku perintahkan. Itulah yang paling aku suka dari sopirku itu, pria yang usianya tidak beda jauh dariku.
...***...
"Sayang?" panggilku pada sang istri yang masih terduduk di meja makan dengan sepiring buah-buahan segar yang sudah dikupas. Porsinya masih sama, tidak berkurang walau hanya sedikitpun. Mungkin, Ros kehilangan nafsu makannya saat aku meninggalkannya tadi. Ah, aku jadi menyesal, tadi kami sedang sarapan indah berdua, tentunya dengan pemandangan indah yang menggelikan mata, yaitu menyaksikan hukuman Herman. Namun, semuanya kacau karena kehadiran wanita yang kini tengah terduduk manis di samping istriku tanpa rasa bersalah terpancar di wajahnya. Aku muak melihatnya.
"Loh, katanya mau ke kamar. Ko balik lagi Kak?" Ros bangkit dari duduknya, segera mengambil alih diriku dari tangan Herman seraya tanya Ros padaku.
__ADS_1
"Gak jadi sayang. Kalau aku di kamar, sedang kamu di sini..., aku takut rindu!" godaku pada Ros, yang tentu saja membuat wajah cantiknya bersemu merah karena gombalanku itu.
"Aww!" pekikku pelan sambil terkekeh. Tangan halus milik istriku sudah mendarat manis di permukaan kulit perutku.
"Ayo duduk!" ajak Ros padaku dengan nada lembutnya.
"Ekhem!" aku berdehem, memberikan kode, semoga saja yang sedang asyik duduk manis di samping kursi Ros itu mengerti, jika aku dan istriku akan duduk berdekatan, bahkan berdempetan. Apa ia ingin ikut-ikutan juga, duduk berdempetan bersama kami berdua? Mau jadi nyamuk apa?
"Ah, maaf Tuan, Mbak!" akhirnya, ia sadar diri juga. Wanita itu langsung berdiri dan mengambil posisi yang agak jauh dari kursiku dan Ros.
"Eh, gak papa ko, kenapa pindah?" tanya Ros pada wanita itu. Sepertinya istriku ini merasa tidak enak dengan apa yang aku lakukan sebagai kode pada wanita itu.
"Gak papa Mbak, saya di sini aja," timpalnya menatap tak enak padaku dan Ros. Baguslah jika ia sadar diri.
"Oh, iya. Ada perlu apa kemari?" tanyaku tanpa basa-basi lagi.
"Gak papa Mbak," ucap wanita itu, sepertinya ia sudah tahu, jika istriku akan merasa tidak suka, dengan apa yang akan aku katakan padanya. Terlebih lagi, tak jarang, kata-kataku selalu meluncur pedas pada wanita itu.
"Sudahlah sayang..., aku masih lapar, makannya aku kembali. Apa kamu tidak mau melayani suamimu yang masih kelaparan ini?" ucapku pada Ros seraya bertanya.
"Tentu!" jawab Ros padaku. Diambilnya piring berisi buah-buahan yang tadi sempat tergeletak tanpa ada yang menyentuhnya lagi. Ros pun mulai menyuapiku kembali.
"Dia, masih belum menjawab pertanyaanku," kutunjuk wajah Anita dengan daguku, "mau ada perlu apa dia pagi-pagi sekali kemari? Apa dia tidak punya kerjaan? Selain mengganggu waktu pagi kita?" tanyaku kemudian, dengan nada yang biasa saja. Namun, dengan bahasa yang sangat sinis.
"Ah, ini Tuan. Saya hanya ingin menengok Anda," jawabnya seraya tersenyum manis sambil menyodorkan sebuah rantang susun yang sedari tadi ia pegang dihadapannya.
__ADS_1
"Herman!" panggilku pada Herman, pria itu langsung menyahut.
"Ya, Tuan," jawabnya.
"Coba kau cicipi makanan itu. Siapa tahu...," sengaja tak kuteruskan ucapanku. Menggantung begitu saja.
"Tentu Tuan!" Dengan sigap Herman langsung menuruti apa yang aku perintahkan barusan.
Herman mulai membuka rantang susun itu, menampakan nasi yang lengkap dengan daging rendang yang sangat lezat aromanya, dan ayam goreng yang tak kalah menggugah selera indera penciuman ini.
Sejenak aku bingung, pagi-pagi seperti ini, dia sudah bisa menghidangkan makanan serumit ini. Hemm..., aku sedikit curiga.
"Kak, apa tidak baik jika menyuruh Herman mencicipi makanan yang dibawa oleh Anita? Sedangkan yang membawakannya saja masih di sini!" ya, itulah istriku. Dia selalu merasa tidak enakan dengan siapapun.
"Berjaga-jaga saja tidak apa bukan?" jawabku enteng, mencari alasan yang sangat masuk di akal. Dan Ros hanya menganggukkan kepalanya pelan, walau sebenarnya, kutahu ia sedikit tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
"Aman Tuan! Semua makanan ini tidak berbahaya!" kata Herman setelah mencicipi semua isi dalam rantang susun milik Anita. Tidak main-main, kulihat Herman bukan hanya sekedar mencicipi saja, tapi ia juga sekalian mengenyangkan perutnya. Terbukti dengan isi dalam rantang itu yang tinggal setengahnya saja.
Dasar Herman, mencari keuntungan dalam kesempatan. Sejenak aku ingin tertawa, namun enggan. Dan baguslah, jadi aku tahu..., Anita hanya sedang mencari muka saja, entah padaku, atau pada istriku. Bukan berniat untuk meracuni.
"Loh, makanannya tinggal sedikit lagi!" ucap Anita tiba-tiba. Ia tampak tidak suka dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Herman.
"Maaf ya Anita, mungkin..., Herman sedang kelaparan!" sindir Ros pada Herman, yang langsung ku sambut dengan gelak tawa, karena tak mampu lagi menyembunyikan tawa yang aku pendam sedari tadi.
"Maaf Nyonya, saya belum sarapan!" tanggap Herman sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Bersambung...