Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 27


__ADS_3

Sedangkan Argana yang tengah berada di tempat biasanya ia berkumpul dengan para sahabat mendapatkan kabar dari Mario kalau Reysa telah berada di Indonesia.


Mendengar perkataan Mario, wajah yang dulunya selalu datar tampa ekspresi kini menjadi wajah yang dulu mereka kenal.


"Kamu tau dari mana Reysa tiba di Indonesia Rio?" tanya Argana penuh dengan rasa penasaran.


"Hey.. Kamu tidak tau siapa aku Arga? Hahahaha.. Hal yang mudah untuk mencari tahunya. Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap menjalin hubungan dengannya atau memilih mempertahankan hubungan kamu dengan Nita?".


Argana terdiam.


Lalu Bagas menyambung perkataan Mario, "Pilihan ada ditangan mu. Kalau aku saran, sebaiknya kamu pertahanan dulu Nita agar kamu tidak ketahuan masih memiliki hubungan dengan Reysa".


"Ide yang bagus" timpah Dafa.


"Nah, sekarang lakukan yang seperti itu saja Ga. Dan kali ini jangan sampai hubungan kamu dengan Reysa ketahuan oleh orang tuanya atau pun pengawasan yang akan dilakukan oleh orang tuanya" ujar Mario memberi nasihat.


"Mmmmm.. Terima kasih" senang Argana tidak sabar ingin bertemu dengan Reysa yang begitu amat ia rindukan.


Ting!


Argana kemudian mengeluarkan ponselnya, ia melihat sebuah notifikasi dari Nita. "Arga kamu sedang apa? Kenapa kamu tidak mengirim ku pesan? Apa kamu masih marah besar kepada ku? Kalau hanya karna perkataan ku tadi pagi, aku minta maaf ya Arga. Tolong jangan abaikan aku, kumohon Arga🙏".


Namun Argana bukannya membalas pesan Nita, ia malah mengabaikan pesan tersebut kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.


"Ya Tuhan, Argana benar-benar marah besar kepada ku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Pesan ku hanya dilihat saja tanpa berniat untuk dia balas" gumam Nita menatap kearah gedung tinggal yang ada di sebelah Hanju group.


"Selama kami berpacaran, terkadang aku menyadari bahwa Argana seperti tidak memiliki perasaan untuk ku. Bahkan berpegangan tangan saja kami tidak pernah melakukannya, apa Argana benar-benar tidak menginginkan ku?".


"Tapi kalau memang benar sedemikian, kenapa dia tidak meminta ku untuk mengakhiri hubungan ini saja? Untuk apa di bertahan sampai sekarang? Hhhmmss.. Memikirkannya membuat kepala ku pusing".


Lalu Nita melihat jam yang berada di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 6 sore. Kini sudah saatnya mereka kembali pulang.


"Nita, sedang apa kamu disini termenung seorang diri?" tanya Mita yang melihatnya dibalik tembok dengan tatapan kosong.


"Tidak sedang apa-apa Mita. Kamu mau turun?".


"Iya, pekerjaan sudah selesai. Bagaimana dengan mu?".

__ADS_1


"Sedikit lagi. Kamu turunlah duluan, aku akan menyusul mu".


"Kamu baik-baik saja Nita?".


"Aku baik-baik saja Mita".


"Tapi aku tidak yakin Nita. Apa ini karna kekasih mu itu lagi?".


Nita pun tersenyum menarik nafas dalam-dalam kembali, "Iya Mita. Entah kenapa kemarin aku tiba-tiba sekali ingin diperkenalkan kepada kedua orangtuanya. Tapi Argana malah berprasangka buruk tentang ku dan berpikir selama ini aku menjalin hubungan dengannya hanya karna harta orang tuanya yang berlimpah".


"Ck. Kamu juga bodoh Nita. Untuk apa juga kamu memaksakan diri seperti itu? Sekarang dia jadi berpikir kamu itu mata duitan. Terus kamu udah minta maaf sama dia?".


"Udah Mita, aku udah minta maaf sedari tadi. Tapi Argana sama sekali tidak berniat membalas pesan ku sampai sekarang. Apa sebaiknya aku kerumahnya saja? Tapi..


"Jangan malah memperumit masalah mu Nita. Kita enggak tau keluarganya seperti apa. Gini ajah deh, untuk saat ini kamu biarkan saja dulu seperti ini, mungkin dia lagi butuh ketenangan".


"Maksud kamu Mita?".


"Ya biarkan ajah dulu seperti ini. Tunggu sampai Argana benar-benar memaafkan kamu baru hubungi dia kembali".


"Mmmmm.. Jangan terlalu memaksanya. Nanti dia bisa menghilang loh Nita kalau kamu berlebihan. Ya sudah aku turun duluan yah, cepat kamu kerjakan itu. Ini sudah hampir jam 7 malam".


"Iya Mita" angguknya.


Namun Nita bukannya melanjutkan pekerjaannya, ia malah memikirkan apa yang baru saja Mita ucapkan.


"Benar sekali apa yang Mita ucapkan, tapi kenapa hati aku berkata kalau Argana lambat laun akan pergi meninggalkan aku kalau sampai aku membiarkan Argana dengan kesendiriannya".


Nita kemudian melihat pekerjaannya, ia pun kembali melanjutkannya agar ia bisa pergi dari sana.


.


Sesampainya Argana dirumah, ia melihat Lucas dan Marisa berada di ruang keluarga sedang menikmati keromantisan keduanya yang tidak pernah pudar sepanjang hidupnya.


"Ma Pa aku pulang" ucapnya dari belakang.


Marisa pun langsung melepaskan pelukan Lucas melihat kearah putra kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang sayang?" senyumnya.


"Iya ma".


"Kamu sama siapa Ga? Bagas mana?".


"Dirumahnya ma. Aku sangat lelah sekali, aku naik dulu ya ma pa" ucapnya melihat Lucas menatapnya dengan tatapan serius membuat Argana menghentikan langkahnya. "Ada apa Pa?".


"Papa dengar Reysa sudah pulang dari luar negeri. Apa kamu masih berencana memiliki hubungan dengannya?".


"Sayang. Kenapa kamu berkata seperti itu kepada Argana?" tanya Marisa tidak suka kalau Lucas mencampuri hubungan asmara putranya itu.


"Papa tidak setuju kalau kamu bergaul dengan Reysa sekalipun dia keponakan papa sendiri. Lebih baik kamu cari wanita lain diluar sana".


"Sudah sayang. Kamu tidak usah memikirkan apa yang baru saja papa kamu ucapkan. Mama akan selalu mendukung mu kepada siapapun kamu bergaul, baik itu Reysa atau wanita lainnya. Sekarang kamu naiklah".


Begitu Argana menaiki anak tangga, Marisa kemudian menatap suaminya itu dengan tatapan kesal hendak ingin sekali memukul Lucas.


"Sayang, aku berkata seperti itu karena Dilan sangat menentang hubungan mereka berdua. Kamu mau anak kita jadi bahan pelampiasan Dilan?".


"Iya, tapi jangan seperti itu juga kamu berkata kepada Argana. Aku enggak suka".


"Kalau enggak seperti itu, Argana tidak akan berhenti mengejar Reysa. Sudah sayang, biarkan saja Argana memilih wanita yang lainnya".


"Tapi sayang..


"Sshhuueettt" Lucas pun menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya sambil membanjiri wajahnya penuh dengan ciuman. "Sayang, aku sangat merindukan..


"Hentikan Lucas. Baru saja tadi, kamu sudah meminta lagi. Aku lelah sayang".


"Hahahaha" tawa Lucas menatap bola mata Marisa. "Sayang, kamu tidak berencana membuat adik Argana? Kamu tidak merasa kasihan dengan Argana tidak memiliki seorang teman dirumah ini kalau kita sedang berada diluar kota?".


"Kasihan sih. Tapi nanti jadi merepotkan kamu sayang. Kalau aku hamil lagi, aku tidak bisa berpisah dari mu, kamu tau sendiri jadwal keberangkatan kamu sangat padat" jawab Marisa dengan wajah sedih.


"Kenapa kamu jadi memikirkan itu sayang? Waktu ku akan selalu ada untuk mu, bahkan 24 jam lamanya".


"Aku tidak mempercayainya" Marisa lalu pergi meninggalkan Lucas menuju dapur mengambil makanan yang bisa mereka makan.

__ADS_1


__ADS_2