Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 36


__ADS_3

Kemudian Lucas menuang di gelas kecil Argana. Sambil menikmati anggur tersebut, Lucas lalu bertanya bagaimana kegiatan ia selama kuliah di kampus tempat ia menempuh pendidikan.


Argana langsung menjawabnya, ia berkata seperti biasa tidak ada kendala dan semuanya berjalan dengan baik.


Lucas mengangguk mengerti, ia sangat mempercayai putranya itu kalau selama ini Argana tidak pernah bertingkah di belakangnya. Sebab itu Lucas sangat membebaskannya.


"Argana" panggilannya.


"Iya Pa?" jawab Argana melihat Lucas dengan serius.


Lucas meletakkan gelasnya, "Sesudah kamu dewasa nanti, ada pekerjaan yang benar-benar harus kamu kerjakan".


Argana tampak bingung sambil mengernyitkan dahi, "Maksud papa? Pekerjaan apa yang harus aku kerjakan Pa?".


"Nanti setelah kamu selesai dengan pendidikan mu. Papa akan menceritakan semuanya kepada mu".


"Kenapa tidak sekarang ajah Pa?".


"Sekarang belum saatnya Arga. Papa tidak mau kamu mendengar disaat seperti ini. Itu semua bisa berpengaruh untuk mu" Lucas menatapnya. "Papa dengar Bagas berencana melanjutkan pendidikannya di luar negeri".


"Iya pa. Tadi Bagas sudah memberi ku".


"Lalu bagaimana dengan mu? Kamu tidak ingin pergi bersama dengannya?".


"Tidak pa" jawabnya. "Aku akan disini bersama dengan papa".


Lucas tersenyum, "Terserah kamu saja. Mana yang terbaik untuk mu papa senang mendengarnya".


"Iya pa".


.


Di dalam kamar Argana langsung membuka ponselnya. Ia melihat balasan dari Reysa, "Ada apa dengan mu Ga? Kenapa kamu berkata seperti itu Ga?" namun Argana memilih tidak membalasnya.


Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan suara nafas lelah ia lalu mencoba memejamkan kedua matanya.


Ting!


Pesan masuk kembali, Argana mencoba meraih ponselnya. Ia melihat pesan tersebut berasal dari Nita, "Malam ini aku tidak bisa tidur Ga. Aku yakin kamu pasti sudah tidur iya kan?".

__ADS_1


Argana tersenyum tipis, bahkan sampai tidak kelihatan di wajahnya, lalu ia langsung menghubungi nomor ponsel Nita.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


"OMG" kaget Nita membulatkan kedua mata tidak percaya melihat layar ponselnya kalau Argana sedang menghubunginya. "OMG..! OMG..! Aku pasti sedang bermimpi, ini tidak mungkin, Argana tidak mungkin menghubungi aku di jam segini" gumam Nita menepuk-nepuk kedua pipinya.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Tetapi panggilan itu tidak sampai disana saja, Argana kembali menghubungi nomornya hingga pada akhirnya Nita menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Kenapa kamu tidak bisa tidur?" tanya Argana Langsung.


"Hhhmm?" masih kaget Nita belum percaya.


"Kenapa kamu tidak bisa tidur?" tanyanya lagi mengulangi.


Lalu Nita tertawa kecil, "Terus bagaimana dengan Mu Ga? Kenapa kamu juga belum tidur? Aku pikir kamu tadi sudah tidur. Aku tidak menggangu mu kan?".


"Mmmmm".


"OMG!" teriak Nita lagi dalam hati. "Kamu sedang apa Ga? Aku mendengar suara mu berat. Kamu baik-baik saja?".


Ia lalu mendengar suara menghela nafas Argana, "Aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu tidur, selama malam...


"Apa?".


"Aku mencintaimu Argana. Selamat malam semoga kamu mimpi indah" Nita kemudian langsung mematikan ponselnya. Merah tomat di wajahnya semakin menjadi-jadi, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang sedang ia rasakan saat ini.


Sedangkan Argana terlihat biasa saja, ia lalu memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


_


_


Di kampus.


Seperti biasa Nita berangkat kuliah selalu menggunakan angkutan umum, namun kali berbeda, tiba-tiba ia ingin sekali berangkat kuliah menggunakan taksi online.


Sesampainya di kampus, ia lalu keluar dari dalam mobil dan ketepatan saat itu ia melihat mobil Argana tiba disana.

__ADS_1


"Ooo.. Argana juga baru datang. Wah" senyum Nita berjalan kearah parkiran. Kemudian memanggil namanya, "Arga kamu sudah sarapan?".


"Kenapa?" tanya balik Argana melihatnya.


"Mmmm.. Tidak apa-apa sih Ga. Aku cuman ingin memastikan kamu sudah makan atau tidak. Atau kamu belum sarapan? Kalau belum aku akan menemani mu heheheh".


"Aku sudah sarapan" jawab Argana langsung pergi.


"Ekh, kok malah ditinggal si Ga? Yah, tungguin aku dok Ga" ujar Nita mengejarnya dari belakang tanpa ia perhatikan Argana tiba-tiba menghentikan kedua langkah kakinya yang membuat ia pada akhirnya menabrak tubuh kekar tersebut.


BBRRAAAKK...


"Akh.. Sakit!" Ia meringis kesakitan menyentuh kening. Kemudian Argana memutar tubuhnya melihat Nita sedang menyentuh keningnya, "Sakit Arga! Kenapa kamu tidak memberitahu ku kalau kamu berhenti?".


"Siapa suruh kamu tidak melihat jalan mu" balas Argana. Setelah itu ia melihat samping kiri kanan, "Sakit?".


"Mmmmm" angguk Nita dengan gemasnya.


"Kemarilah" Argana lalu mengusap keningnya dengan lembut membuat kedua pipi Nita merona tak karuan. "Masih sakit?" namun Nita masih belum menyadarinya, ia masih tetap asik dengan haluannya. "Kamu tidak mendengar ku?".


"Hhhmm?".


"Apa rasanya masih sakit?".


"Argana! heheheh" tawa Nita merasa malu. "Terima kasih, kamu baik banget Ga.." gantung Nita, lagi-lagi Argana langsung pergi dari hadapannya. Kemudian ia menutupi kedua wajahnya dengan tangan sambil berkata dalam hati, "Apapun kata orang aku tidak perduli. Hari ini aku sangat-sangat bahagia sekali ya Tuhan".


Sedangkan dari kejauhan sana seorang pria remaja berpakaian putih abu-abu sempat memperhatikan mereka berdua saat Argana memperlakukan Nita layaknya seorang kekasih yang tak lain adalah Brian adik kandung satu-satunya Reysa.


"Kurang ajar. Wanita itu benar-benar sudah berani sekali bersikap sok manis di depan bang Argana" umpatnya Brian dengan sangat marah mengepal kedua tangannya. "Lihat saja wanita itu, selagi kak Reysa masih mencintai bang Argana. Aku tidak akan pernah membiarkan bang Argana benar-benar mencintainya".


Kemudian Nita melangkah memasuki gedung kampus, dengan senyuman manis yang masih ia pancarkan di wajahnya. laki-laki di kampusnya sempat meliriknya sambil berkata. "Gadis bule idaman kita sepertinya sedang bahagia sekali" ucap salah satunya.


"Iya, semakin hari dia semakin cantik. Anak orang kaya memang seperti itu".


"Aku jadi penasaran, sekaya apa sih orang tua dia? Selama kita kuliah disini, aku belum pernah melihat dia membawa mobil sendiri ke kampus atau dia diantar supir pribadi gitu" sambung yang lainnya hingga bisikan itu sampai ke telinga Nita.


"Iya yah. Aku juga tidak pernah melihatnya menggunakan mobil pribadi gitu. Anak orang kaya masa enggak punya mobil sport kaya kita-kita" seketika cewek-cewek di sebelah mereka menimbrung perkataan itu.


"Iya sih. Sama aku juga tidak pernah melihatnya. Aku juga jadi semakin penasaran sekaya apa dia".

__ADS_1


Tidak ingin mendengar bisikan itu lagi, Nita pun semakin mempercepat langkah kedua kakinya pergi dari sana. Meskipun dalam hatinya, ia sudah mulai merasa ketakutan. Bagaimana kalau sampai mereka tau kalau selama ini ia berbohong akan hal itu, bisa-bisanya dia nantinya akan terkena bulian dari mereka sampai ia lulus nanti.


"Ya Tuhan! Bagaimana ini? Aku sangat takut sekali kalau sampai itu terjadi".


__ADS_2