
Dibalik pintu begitu Nita keluar, sebuah butiran air mata langsung menetes di pipi mulusnya.
"Mbak, tolong bersihkan ini yah. Sebentar lagi kami mau meeting" ucap salah satu karyawan itu melihat Nita saat ia keluar dari dalam ruangan meeting.
Lalu Nita mengangguk, ia berjalan memasuki ruangan tersebut. Namun ia bukannya bekerja, Nita malah asik meneteskan air mata yang begitu pedih sambil membayangkan apa yang sedang Argana lakukan di dalam sana.
"Hiks.. hiks.. Aku tidak habis pikir. Ternyata selama ini Argana berselingkuh di belakang ku hiks.. Kamu jahat Ga, kamu sangat jahat. Bagaimana bisa kamu melakukan ini semua? Kamu benar-benar tidak perduli dengan perasaan aku".
Dengar air mata bercucuran, ia pun segera membersihkan ruangan tersebut.
"Ga. Kamu mau minum teh?" tanya Reysa mencoba membuatkan teh untuknya.
"Tidak usah terimakasih Rey. Apa kamu sedang sibuk?" Argana kemudian melihat sekeliling ruangan sang kekasih. "Tidak terasa sekarang kamu sudah menjadi ketua team".
Reysa tertawa, "Itu semua karna aku bekerja di perusahaan papa. Kalau tidak, aku akan tetap memulainya dari nol. Lalu dimana Bagas?".
"Dia berada di ruangan om Reza. Dan aku juga tidak bisa berlama-lama disini, aku hanya ingin mengucapkan selama untuk kamu sayang" jawab Argana tersenyum tulus membuat Reysa salah tingkah di hadapannya.
"Terima kasih banyak Arga. Aku sangat bersyukur sekali memiliki kekasih seperti mu. Bisakah weekend nanti kita pergi ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan ini?".
"Mmmmm.. Kamu beritahu aku saja".
"Baiklah Ga".
Lalu Argana bangkit dari atas sofa. Karena ia tidak bisa berlama-lama disana, ia harus segera pergi, namun sebelum ia keluar dari dalam ruangan Reysa. Argana tidak lupa memberikan kecupan di kening sang kekasih dan juga sebuah pelukan hangat yang membuat keduanya saling mencintai satu sama lain.
"Kamu hati-hati dijalan yah Ga. Begitu kamu tiba dirumah jangan lupa memberitahu aku".
Sekeluarnya Argana dari sana, ia tiba-tiba melihat sebuah bayangan seorang wanita di ujung sana. Dengan rasa penasaran, Argana lalu mengalihkan pandangan matanya kearah wanita tersebut yaitu Nita yang sedang memungut sampah dari setiap tong sampah yang berada di bawah kaki meja para karyawan tampan Nita sadari.
"Yah kamu! Ayo buruan ambil sampah dari sini. Kamu enggak lihat sampah ini sudah menumpuk hahh?" ujar si manager marah.
"Iya Bu. Saya akan kesana" jawab Nita membuat Argana semakin penasaran dengan suara itu.
Lalu salah satu karyawan itu melihat Argana tengah asik melihat kearah Nita sedari tadi.
"Yah kamu!" panggilannya kepada Nita.
"Iya Bu. Kenapa?".
"Apa kamu mengenal pria itu? Sedari tadi dia melihat kearah mu terus. Bukankah dia barusan keluar dari ruangan bu Reysa".
"Apa?" kaget Nita semakin menundukkan kepalanya. "Astaga bagaimana ini? Aku yakin itu pasti Argana. Apa yang harus aku lakukan?".
__ADS_1
"Yah..! Kenapa kamu jadi diam? Lihat itu, dia terus-menerus melihat kearah mu".
"Hahahaha.. Saya tidak mengenalnya siapa Bu. Salah orang kali dia atau mungkin dia sedang melihat ibu sendiri mungkin".
"Hhhmmm? Melihatku?".
"Iya. Aku yakin dia itu pasti sedang melihat ibu. Ck, laki-laki jaman sekarang pantang melihat wanita cantik saja. Buayanya itu langsung keluar" jawab Nita berbohong agar wanita itu tidak memanggilnya lagi.
"Tapi masa iya sih dia sedang memandangi ku? Apa aku terlihat begitu sangat cantik?".
"Mmmm.. Ibu terlihat sangat cantik sekali makanya sampai sekarang dia tidak mengalihkan arah pandangan matanya" kemudian Nita mendengar suara Bagas memanggil Argana.
Setelah Argana keluar dari dalam sana, ia pun baru bisa bernafas legah menghadap kearah tempat Argana tadi berdiri.
"Sedang apa kamu disana berdiri lama? Aku sudah menunggu mu. Aku takut seseorang mengenali mu" ujar Bagas membuat Argana menghentikan langkah kakinya menatap Bagas dengan tatapan tanya. "Ada apa Ga?".
"Tadi begitu aku keluar dari ruangan Reysa. Tiba-tiba aku melihat banyangkan Nita berada disana. Tapi aku tidak bisa memastikannya setelah kamu memanggil ku".
"Nita?".
"Mmmmm".
"Kamu ada-ada saja. Bagaimana mungkin Nita ada disana?".
"Itu dia yang aku pikirkan. Tapi wanita itu benar-benar seperti Nita yang selama ini aku kenal. Dari postur tubuhnya dan juga suaranya. Mereka berdua benar-benar sama".
Argana pun langsung menuruti apa yang Bagas ucapkan dengan menghubungi nomor ponsel Nita.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Bagaimana? Apa Nita tidak mengangkat ponselnya?".
"Mmmmm.. Aku akan mencobanya lagi".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Yah.. Kamu enggak dengar ya kalau sedari tadi ponselnya kamu berdering" kesal mereka mendengar suara ponsel Nita.
"Astaga! Maaf-maaf saya tadi tidak mendengarnya" sesal Nita berlari dari sana menuju toilet yang ada di sudut ruangan.
Kemudian melihat panggilan tersebut berasal dari Argana. "Bagaimana ini? Argana menghubungi ku sampai 2 kali? Dia pasti mau bertanya dimana aku sekarang. Akh, bagaimana ini?".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
__ADS_1
"OMG.. Argana! Tidak bisakah kamu tidak menghubungi ku disaat seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menjawabnya? Tapi kalau...
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Hingga pada akhirnya Nita pun menjawab panggilan Argana. "Hallo Ga! Ada apa?" tanyanya dengan suara santai.
"Kamu dimana?".
"Dirumah. Kenapa Ga? Maaf tadi itu aku sedang buru-buru sekali" suara Nita terdengar begitu lemas di kedua telinga Argana.
"Kamu baik-baik saja?".
"Mmmmm.. Aku baik-baik saja Ga".
"Apa kamu sakit lagi?".
"Tidak. Cuman aku lagi istirahat saja Ga. Tubuh ku sepertinya butuh istirahat yang banyak. Kamu mengkhawatirkan aku ya Ga? Maafkan aku".
Nita kemudian mendengar suara helaan nafas Argana, "Ya sudah kamu istirahat saja. Maaf aku sudah menganggu waktu mu".
"Iya Ga".
Setelah Argana mematikan ponselnya, Nita langsung menghela nafas kembali dengan legah. "Untung saja Argana mempercayainya. Kalua tidak, bisa-bisanya rahasia yang selama ini aku sembunyikan ketahuan olehnya. Ais, aku tidak bisa membayangkannya".
Lalu Bagas bertanya, "Bagaimana? dia sedang dimana?".
"Dia ada di rumahnya sedang istirahat. Ayo".
"Berarti wanita itu bukan dia?".
"Mmmmm".
Setelah itu Nita keluar dari toilet, ia lalu melihat mereka para karyawan berjalan menuju ruangan meeting. Kemudian ia melihat Reysa. "Siapa wanita ini sebenarnya? Apa benar dia dan Argana memiliki hubungan spesial? Tapi seperti yang aku lihat tadi, keduanya seperti sudah lama saling mengenal".
Nita asik memandangi Reysa, sedangkan Reysa yang merasa sedang di perhatikan langsung menghentikan kedua langkahnya. Ia lalu melihat Nita, "Ada apa?" tanyanya.
"Akh, Maafkan saya Bu. Saya tida.." gantung Nita begitu Reysa berjalan kearahnya.
"Dari tadi saya memperhatikan kamu terus-menerus memperhatikan saya. Ada apa hhmm?".
"Tidak Bu, tolong maafkan kelancangan saya sudah membuat ibu merasa tidak nyaman seperti ini. Tapi saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya mengagumi kecantikan ibu saja" jawab Nita.
"Benarkah?".
__ADS_1
"Iya Bu".
Lalu Reysa tersenyum kepadanya, namun Nita tidak tau itu senyuman tulus atau senyuman mengejek. Setelah itu Reysa pergi meninggalkan memasuki ruangan meeting, dan lagi-lagi ia pun menghela nafas legah kembali.