
Hari semakin sore, pekerjaan mereka telah selesai, namun kedua orang itu harus kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan Nita yang belum siuman tidak bisa kembali pulang bersama dengan mereka.
"Kalian pulang saja, begitu dia nanti siuman aku akan mengantarnya pulang" ucap Argana.
"Ya sudah. Kami pulang duluan Ga".
"Mmmmmmm".
Setelah Bagas dan Septia meninggalkan rumahnya. Argana memasuki kamar membersihkan tubuhnya sambil menunggu Nita siuman kembali. Tidak menghabiskan waktu yang lama, ia pun segera keluar dari dalam kamar menghampiri Nita di kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Ceklek!
"Argana?" kaget Nita.
Kemudian Argana mendekatinya, "Apa kamu sudah merasa baikan?".
"A-apa yang terjadi dengan ku Arga? Kenapa aku bisa berada disin.. Akh iya aku baru ingat, tadi aku jatuh pingsan di kamar mandi" Nita melihatnya. "Terima kasih Arga sudah menolong ku".
"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Argana kembali mengajukan pertanyaan itu.
"Iya. Aku baik-baik saja Arga. Karna ini sudah hampir mau malam, sebaiknya aku pulang saja".
"Ayo. Aku akan mengantar mu pulang".
"Ekh, tidak usah Ga. Aku bisa pulang sendiri kok. Kamu tidak usah khawatir".
"Jangan banyak melawan. Ayo buruan turun".
"Tapi Ga.. Baiklah" angguk Nita segera menuruni tempat tidur berjalan mengikuti langkah kaki Argana dari belakang. Kemudian Argana memberikan tasnya, "Terima kasih Argana".
Lalu Argana mengeluarkan mobilnya dari garasi. Begitu mobilnya berada di hadapan Nita, Nita langsung memasuki mobil dan ia tidak lupa memikirkan hotel dimana ia nanti menyuruh Argana menghentikan mobilnya.
"Arga. Apa mereka sudah kembali pulang?".
"Mmmmm.. Tadi dokter memberitahu ku kalau kamu kekurangan asupan gizi. Apa benar kamu sedang diet?".
"Hahhh? dokter?".
"Iya. Waktu kamu jatuh pingsan aku menyuruh dokter memeriksa keadaan kamu".
"Astaga Arga. Terus apa kata dokter?".
"Seperti yang aku bilang tadi kalau kamu kekurangan asupan gizi".
Nita kemudian melirik kesamping, "Apa itu saja yang dia katakan?".
__ADS_1
"Mmmmm.. Dan dokter memberikan ini untuk kamu tebus di apotik. Tadi aku tidak sempat membelinya. Kamu bisa sendiri kan?".
"Iya Ga aku bisa" jawabnya. "Syukurlah kalau dokter itu tidak mengatakan hal yang aneh-aneh. Aku masih bisa selamat" batinnya.
"Ayo beritahu aku dimana alamat kamu tinggal?" ujar Argana.
"Di hotel xx Ga".
"Sebaiknya kamu berhenti diet".
"Hhhmmm?".
"Jangan diet lagi jika akhirnya kamu menyiksa tubuh mu sendiri".
Nita pun langsung tersenyum senang merasa kalau Argana sedang perduli kepadanya.
"Arga. Apa kamu sedang memperdulikan aku hhhmmm?".
"Tidak. Aku hanya mengingatkan kamu agar kedua orang tua kamu tidak khawatir disana. Jangan jadi egois yang hanya diri kamu saja yang kamu pikirkan".
Mendengar jawaban Argana, seketika wajah Nita terlihat masam. "Aku pikir dia perduli, tapi nyatanya tidak".
.
Hingga kini mobil sport Argana tiba di depan loby hotel xx. Nita pun segera keluar dari dalam mobil dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak telah repot-repot mengantarnya sampai tempat.
"Akhirnya aku tiba dirumah juga" Nita menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Rasa pusing yang masih ia rasakan membuat Nita mengantuk dan juga mual. "Ada apa lagi dengan perut ku ini? Kenapa kamu begitu kejam sekali ingin menyiksa ku? Ayolah, kasihani aku sekali ini saja".
Nita mencoba menutup kedua bola matanya, namun ia kembali membuka mata, ia harus bertanya apa Argana sudah tiba dirumah dengan keadaan baik.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Tetapi Argana tidak menjawab panggilannya.
"Kenapa Argana tidak menjawab ponselnya yan? Apa dia belum tiba dirumah?".
Mencoba untuk menghubunginya kembali, hingga pada akhirnya Argana membalas sebuah pesan. "Tidur saja, aku sudah tiba dirumah".
"Oh.. Selamat tidur Arga, semoga kamu mimpi indah" balas Nita.
Setelah itu Nita meletakkan ponselnya dan kembali menutup kedua bola matanya.
_
_
__ADS_1
2 tahun kemudian...
Hari minggu bulan dan tahun telah berlalu begitu juga dengan hubungan Nita dan Argana yang sampai sekarang masih berlanjut tetapi dinginnya Argana masih sama seperti awal mereka jadian dan juga rahasia yang selama ini Nita sembunyikan dari teman-temannya.
"Tidak terasa ajah yah sekarang aku sudah memasuki semester 6. Lalu aku mencari tempat PPL dimana yah?" gumam Nita mencoba memikirkan tempat yang cocok.
"Apa sebaiknya aku PPL di Hanju juga? Mmmm, aku rasa itu jauh lebih baik. Kalau gitu nanti saja deh aku pikirkan, aku tidak punya banyak waktu lagi" Nita keluar dari rumahnya, ia segera berangkat kuliah.
.
Sesampainya di kampus Nita langsung melihat Argana berjalan seorang diri dari ujung parkiran sana. Ia pun berjalan mendekatinya.
"Selamat pagi Argana. Tumben kamu datang sendiri, Bagas dimana?".
"Hari ini dia tidak masuk kuliah".
"Oh.. Terus Ga, kamu sudah memikirkan dimana kamu akan PPL.. Oh iya aku lupa, kamu kan bebas mau PPL dimana. Lagian kamu bisa PPL di perusahaan kamu sendiri. Kamu sudah sarapan Arga?".
"Mmmmmm".
"Arga tunggu!".
"Apa?".
"Mmmm.. Kitakan sudah 2 tahun lamanya menjalani hubungan ini. Apa kamu tidak berencana memperkenalkan aku dengan kedua orang tua kamu gitu Ga?".
Argana langsung tersenyum, namun senyuman itu membuat Nita seketika menciut tidak berani menatap kedua bola mata tajam Argana.
"Maaf Ga. Aku tidak bermaksud untuk memaksa mu memperkenalkan aku dengan kedua orang tua mu. Tapi karna aku merasa kita berdua sudah menjalani hubungan ini dengan serius, jadi aku mau kamu memperkenalkan aku dengan mereka supaya orang tua kamu memberi kita restu. Enggak lebih kok Arga".
Namun bukannya merasa perkataan Nita itu ada benarnya, Argana malah tertawa kecil merasa lucu kalau selama ini Nita telah mengharapkan lebih darinya.
"Apa aku salah Arga? Kalau aku salah aku minta maaf".
"Kenapa kamu ingin sekali dikenal oleh mereka?".
"Hhhmmm?".
"Kenapa? Apa karna keluarga ku kaya sampai kamu ingin sekali hhhmm?".
"Hey.. Jangan berpikir macam-macam dulu Ga. Aku kan udah bilang kalau aku hanya ingin sekedar dikenal saja oleh mereka. Tidak lebih kok Ga. Ya kalau nantinya kita tidak jodoh ya enggak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir seperti itu, aku tidak akan memaksa mu untuk menikahi ku".
"Benarkah?" seringai Argana membuat Nita semakin ketakutan.
"Mmmmm.. Aku serius Arga. Kamu enggak marah kan Ga?".
__ADS_1
"Tidak" setelah itu Argana pergi meninggalkannya. Sedangkan Nita semakin merasa menyesal setelah mengajukan pertanyaan itu.
"Ck. Aku pikir Argana akan setuju dengan pendapat ku. Tapi nyatanya malah seperti ini, semoga saja Argana tidak marah besar".